Jangan Remehkan Efek Serangan Rusia
Sabtu, 26 Februari 2022 - 12:42 WIB
loading...
Aksi serangan Rusia ke Ukraina diperkirakan bakal berdampak pada sektor energi. FOTO/Sindonews
A
A
A
Rusia membuktikan diri sebagai negara yang tidak takut melakukan agresi militer ke wilayah Ukraina. Mengabaikan ancaman Amerika Serikat dan Uni Eropa, militer Rusia melakukan serangan ke Ukraina melalui wilayah Donbas dalam operasi militer Rusia yang diperintahkan Presiden Vladimir Putin.
Ketegangan akan pecahnya perang besar di Ukraina sudah menjadi kecemasan dunia dalam beberapa pekan terakhir. Upaya diplomasi berulang kali dilakukan oleh Presiden AS Joe Biden, para pemimpin Eropa untuk mencegah perang. Namun, jalan dialog itu gagal, tidak ada kesepakatan. Rusia yang sudah menempatkan ratusan ribu pasukan di sepanjang perbatasan Ukraina dengan sekutunya Belarusia dan wilayah Ukraina yang dikuasai pemberontak diLuhank dan Donetsk yang telah diakui kemerdekaannya oleh Rusia.
Posisi Ukraina memang tidak terlalu kuat dibandingkan Rusia. Namun Presiden Ukraina Volodymir Zalensky bertekad akan bertarung habis-habisa melawan invasi yang dilakukan Rusia dan sekutunya. Belakangan ini rakyat Ukraina juga telah sibuk mempersiapkan diri dengan latihan dasar kemiliteran untuk ikut mempertahankan negerinya dari serangan pasukan asing.
Belum jelas bentuk bantuan politik dan militer apa yang akan diberikan NATO, Uni Eropa dan AS untuk Ukraina. Yang jelas pada serangan hari Kamis (24/2) sejumlah fasilitas militer di Ukraina timur hancur. Perang tengah berkecamuk, dan hari hari ke depan kemugkinan akan semakin sengit. Putin bahkan memperingatkan negara negara lain untuk tidak ikut campur dalam perang ini.
Operasi militer khusus Rusia ini sempat menggoyahkan pasar modal dunia. Dikhawatirkan perang ini akan berdampak pula pada perekonomian global yang sedang berupaya bangkit dari pukulan 2 tahun pandemi covid 19. Terutama pada ketersediaan energi global mengingat Rusia adalah produsen minyak ketiga terbesar dan eksportir minyak terbesar keempat di dunia.
Ketegangan akan pecahnya perang besar di Ukraina sudah menjadi kecemasan dunia dalam beberapa pekan terakhir. Upaya diplomasi berulang kali dilakukan oleh Presiden AS Joe Biden, para pemimpin Eropa untuk mencegah perang. Namun, jalan dialog itu gagal, tidak ada kesepakatan. Rusia yang sudah menempatkan ratusan ribu pasukan di sepanjang perbatasan Ukraina dengan sekutunya Belarusia dan wilayah Ukraina yang dikuasai pemberontak diLuhank dan Donetsk yang telah diakui kemerdekaannya oleh Rusia.
Posisi Ukraina memang tidak terlalu kuat dibandingkan Rusia. Namun Presiden Ukraina Volodymir Zalensky bertekad akan bertarung habis-habisa melawan invasi yang dilakukan Rusia dan sekutunya. Belakangan ini rakyat Ukraina juga telah sibuk mempersiapkan diri dengan latihan dasar kemiliteran untuk ikut mempertahankan negerinya dari serangan pasukan asing.
Belum jelas bentuk bantuan politik dan militer apa yang akan diberikan NATO, Uni Eropa dan AS untuk Ukraina. Yang jelas pada serangan hari Kamis (24/2) sejumlah fasilitas militer di Ukraina timur hancur. Perang tengah berkecamuk, dan hari hari ke depan kemugkinan akan semakin sengit. Putin bahkan memperingatkan negara negara lain untuk tidak ikut campur dalam perang ini.
Operasi militer khusus Rusia ini sempat menggoyahkan pasar modal dunia. Dikhawatirkan perang ini akan berdampak pula pada perekonomian global yang sedang berupaya bangkit dari pukulan 2 tahun pandemi covid 19. Terutama pada ketersediaan energi global mengingat Rusia adalah produsen minyak ketiga terbesar dan eksportir minyak terbesar keempat di dunia.
Lihat Juga :