Revitalisasi Industri Pala

Kamis, 17 Februari 2022 - 16:33 WIB
loading...
A A A
Jatuhnya konstantinopel ke khalifahan Ottoman pada 1453 memicu orang-orang Eropa berusaha mencari ke sumber aslinya di kepulauan Banda bagian Indonesia Timur saat ini. Awalnya, orang Eropa mengadakan kontrak pembelian pala dan bunganya (fuli). Lalu berkembang jadi persaingan dan keserakahan. Kondisi ini mendorong timbulnya perbudakan, penjajahan dan monopoli dagang. Monopoli perdagangan pala oleh Belanda berakhir pada tahun 1860 seiring dihapuskannya praktik perbudakan. Sedari awal Belanda melarang penyebaran Pala dari Banda ke daerah lain. Disebabkan beragam faktor seperti alam, muncullah berbagai jenis pala. Paling tidak saat ini diidentifikasi 7 jenis pala. Jenis Kabupaten Fakfak, Papua Barat berbeda secara fisik dan kandungan kimianya dengan di Banda. Secara fisik Pala Papua (myristica argantea warb) berbentuk bulat sedangkan Pala Banda (myristica fragrans) berbentuk lonjong.

Kedua, secara sosiologis, masyarakat Indonesia Timur khususnya Kabupaten Fakfak memercayai bahwa pala tumbuh dan tersebar di Fakfak karena perilaku empat jenis burung. Mereka adalah Wamar, Mambruk, Pirah, Tugtugri (Andrianto, 2016). Uniknya, tiap suku/marga di Fakfak memiliki pohon pala yang tumbuh secara alami maupun ditanam lewat usaha perkebunan. Pada musim panen juga dibarengi acara adat Meri Tetembora. Suatu ritual persembahan untuk penjaga kebun atau hutan pala. Pala juga dijadikan buah tangan khas Fakfak. Masyarakatnya mampu menyekolahkan anaknya sampai pulau Jawa berkat buah pala.

Ketiga, secara ekonomis,data ITC Trademap mencatat bahwa total nilai ekspor pala Indonesia pada 2020 mencapai USD157 juta, Nilai ini merupakan gabungan pala biji (HSCode 090811 sebesar USD75 juta), dan pala bubuk/olahan (HSCode 090812, USD47 Juta), Fuli (HSCode 090821, USD20 juta) dan fuli olahan (HSCode 090822, USD15 juta). Total volume ekspornya secara berturutan adalah 16.000 ton, 2.873 ton, 3.161 ton dan 794 ton. Kontribusi ekspor Indonesia di pasar global secara berturutan adalah 74%, 35%, 70% dan 54%. Upaya lewat proyek industri pala diharapkan mendongkrak kontribusi ekspor pala olahan hingga dua kali lipatnya dari 35% menjadi 70%. Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI, pada 2021 merilis produksi pala nasional mencapai 40.585 ton. Sayang, datanya tidak dirinci berdasarkan HSCode. Kini perkiraan perhitungan konsumsi pala dalam negeri lewat pendekatan produksi dikurangi ekspor serapannya secara pasar domestik mencapai 50%.

Urgensi
Pengembangan industri pala saat ini amatlah urgen. Mengingat harganya sangat berfluktuasi dan merugikan petani. Jalur distribusi pala Papua amat panjang sehingga menyebabkan kualitasnya turun. Paling tidak, tiga alasan mesti membangun industri pala beserta turunannya.

Pertama, pemerataan dan percepatan pembangunan Indonesia Timur supaya menciptakan keadilan antarwilayah. Pembangunan tidak terpusat di Jawa termasuk pembangunan industri. Salah satunya industri pala. Infrastruktur di Indonesia Timur relatif tertinggal dan kurang menarik investor. Dukungan pemerintah bagi pembangunan industri pala dan turunannya yaitu bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan industri, penyerapan tenaga kerja, pengolahan bahan baku yang bernilai tambah dan menggerakan perekonomian lokal.

Kedua, pengembangan komoditas strategis berbasis budaya lokal (selain tambang dan sawit). Pilihan komoditas bernilai tambah beragam. Selain tambang, kekayaan alam tanah Papua adalah juga hutan, perkebunan dan pertanian. Pala di Papua termasuk tanaman hutan karena umumnya tumbuh liar dengan sendirinya. Pengembangan perkebunan Pala jadi alternatif ketimbang sawit yang kontroversial. Masyarakat Papua sangat familiar dengan Pala. Pala juga sudah menjadi bagian kepercayaannya sehingga pengembangannya memperkuat budaya lokal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
7 Fakta Falen Mariar,...
7 Fakta Falen Mariar, Prajurit TNI yang Pernah Lolos Seleksi Tim Junior AC Milan
Lada, Mutiara Terpendam...
Lada, Mutiara Terpendam Indonesia
Jalur Rempah vs Jalur...
Jalur Rempah vs Jalur Sutra Modern
Didukung Partai Perindo,...
Didukung Partai Perindo, Dominggus-Lakotani All Out Menangkan Pilkada Papua Barat 2024
Ikuti Partai Perindo,...
Ikuti Partai Perindo, PSI Dukung Dominggus Mandacan-M Lakotani di Pilgub Papua Barat
Wapres KH Ma’ruf Amin...
Wapres KH Ma’ruf Amin Ingin Kejayaan Jalur Rempah Dihidupkan Lagi
Mendikdasmen Resmikan...
Mendikdasmen Resmikan Revitalisasi Sekolah di Teluk Bintuni, Anggaran Capai Rp17,5 Miliar
PNM-Kementerian PPPA...
PNM-Kementerian PPPA Berdayakan Perempuan melalui Pendampingan Usaha di NTT
TMMD ke-128, Warga Papua...
TMMD ke-128, Warga Papua Bahagia Jalan Menuju Pantai dan Sekolah Mulai Diperbaiki
Rekomendasi
Carlos Ghosn Klaim Cuma...
Carlos Ghosn Klaim Cuma Dirinya yang Bisa Memperbaiki Nissan
Tidak Semua Yoghurt...
Tidak Semua Yoghurt Sehat, Salah Pilih Bisa Bikin Gula Darah Naik
Jepang Gunakan Polisi...
Jepang Gunakan Polisi Wanita Berbasis AI untuk Memerangi Penipuan Identitas
Berita Terkini
Didik Rachbini Prediksi...
Didik Rachbini Prediksi Safari Politik Jokowi Menjadi Faktor Negatif Ekonomi Nasional
Gus Yaqut Dibantarkan,...
Gus Yaqut Dibantarkan, KPK: Petugas Pengawal Tahanan Lakukan Pengamanan Melekat
Penegak Hukum Terkoneksi...
Penegak Hukum Terkoneksi Politik, Ubedilah Badrun: Mestinya Independen
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Silaturahmi di Lampung,...
Silaturahmi di Lampung, Jokowi: Aku Masih Seperti yang Dulu
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
Infografis
Konflik Rusia Ukraina...
Konflik Rusia Ukraina Jadi Berkah Buat Industri Migas RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved