Revitalisasi Industri Pala
Kamis, 17 Februari 2022 - 16:33 WIB
loading...
Mokhamad Syaefudin Andrianto (Foto: Ist)
A
A
A
M Syaefudin Andrianto
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB
PERUSAHAAN rempah asal Belanda Verstegen Spices & Sauces BV dikabarkan berminat berinvestasi dalam industri dan perkebunan pala di Indonesia. Luasnya 40.000 hektare di dengan lokasi di Indonesia Timur, khususnya Kabupaten Fakfak, Papua Barat (SINDONews.com), 17/12/2020). Proyek investasi ini menimbulkan pertanyaan soal kesungguhan dan keberanian pemerintah mengambil berbagai risikonya. Di antaranya risiko sejarah, ekonomi, sosial, dan perlunya strategi yang tepat. Terlepas jadi tidaknya Verstegen berinvestasi di Fakfak, menyisakan pertanyaan mengapa pembangunan industri dan kebun pala penting dan strategis?
Presidensi G20 di mana Indonesia menjadi presidensi pada 2022 merupakan momentum strategis karena G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Pemulihan ekonomi sesuai dengan tema presidensi 2022 “Recover Together, Recover Stronger”, memerlukan penggerak recovery. Pala diyakini menjadi salah satu komoditas strategis nasional yang mampu menggerakkan pemulihan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia.
Pala merupakan komoditas ekspor yang bernilai strategis. Pasalnya ia bernilai historis, sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat Indonesia Timur. Pertama, bernilai historis karena pala merupakan tanaman asli Indonesia. Tepatnya berasal dari kepulauan Banda. Ia sudah dikenal sejak zaman dahulu. Berbagai bangsa mulai dari Romawi-Yunani, Arab, China dan Eropa mengenal tanaman pala memiliki kegunaan beragam, utamanya buat kesehatan.
Pada zaman Romawi-Yunani kuno, pala dikenal berguna memperkuat otak (brain tonic) dan mengurangi depresi, zaman China Kuno kegunaannya beragam. Mulai sebagai penenang dan mengurangi rasa sakit (sedative), mengatasi masalah pencernaan, mengobati napas tidak sedap, membersihkan racun di hati dan ginjal, merawat kulit hingga mempercepat tidur (fitday.com). Bahkan Ibnu Sina, ahli pengobatan Arab sekitar awal abad ke-11, menyebutnya sebagai “Jansi Ban” atau Biji dari Banda yang bermanfaat dalam dunia pengobatan.
Pada abad ke-14 di Eropa, pala dipercaya menangkal pandemi Black Death. Kandungan kimianya yaitu myristin dapat menjadi obat. Tapi, dalam dosis besar bisa menyebabkan halusinasi. Harganya di Jerman masa itu sangat mahal. Sebanyak ½ kg bubuk pala dihargai 7 ekor lembu. Nilai ini lebih mahal ketimbang emas (Khairunnisa, 2020).
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB
PERUSAHAAN rempah asal Belanda Verstegen Spices & Sauces BV dikabarkan berminat berinvestasi dalam industri dan perkebunan pala di Indonesia. Luasnya 40.000 hektare di dengan lokasi di Indonesia Timur, khususnya Kabupaten Fakfak, Papua Barat (SINDONews.com), 17/12/2020). Proyek investasi ini menimbulkan pertanyaan soal kesungguhan dan keberanian pemerintah mengambil berbagai risikonya. Di antaranya risiko sejarah, ekonomi, sosial, dan perlunya strategi yang tepat. Terlepas jadi tidaknya Verstegen berinvestasi di Fakfak, menyisakan pertanyaan mengapa pembangunan industri dan kebun pala penting dan strategis?
Presidensi G20 di mana Indonesia menjadi presidensi pada 2022 merupakan momentum strategis karena G20 merepresentasikan lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% PDB dunia. Pemulihan ekonomi sesuai dengan tema presidensi 2022 “Recover Together, Recover Stronger”, memerlukan penggerak recovery. Pala diyakini menjadi salah satu komoditas strategis nasional yang mampu menggerakkan pemulihan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia.
Pala merupakan komoditas ekspor yang bernilai strategis. Pasalnya ia bernilai historis, sosiologis dan ekonomis bagi masyarakat Indonesia Timur. Pertama, bernilai historis karena pala merupakan tanaman asli Indonesia. Tepatnya berasal dari kepulauan Banda. Ia sudah dikenal sejak zaman dahulu. Berbagai bangsa mulai dari Romawi-Yunani, Arab, China dan Eropa mengenal tanaman pala memiliki kegunaan beragam, utamanya buat kesehatan.
Pada zaman Romawi-Yunani kuno, pala dikenal berguna memperkuat otak (brain tonic) dan mengurangi depresi, zaman China Kuno kegunaannya beragam. Mulai sebagai penenang dan mengurangi rasa sakit (sedative), mengatasi masalah pencernaan, mengobati napas tidak sedap, membersihkan racun di hati dan ginjal, merawat kulit hingga mempercepat tidur (fitday.com). Bahkan Ibnu Sina, ahli pengobatan Arab sekitar awal abad ke-11, menyebutnya sebagai “Jansi Ban” atau Biji dari Banda yang bermanfaat dalam dunia pengobatan.
Pada abad ke-14 di Eropa, pala dipercaya menangkal pandemi Black Death. Kandungan kimianya yaitu myristin dapat menjadi obat. Tapi, dalam dosis besar bisa menyebabkan halusinasi. Harganya di Jerman masa itu sangat mahal. Sebanyak ½ kg bubuk pala dihargai 7 ekor lembu. Nilai ini lebih mahal ketimbang emas (Khairunnisa, 2020).
Lihat Juga :