Menunggu Terwujudnya Vaksin Merah Putih
Sabtu, 12 Februari 2022 - 10:49 WIB
loading...
A
A
A
Berangkat dari alasan tersebut, Indonesia mau tidak mau harus berfikir untuk memproduksi vaksin sendiri. Walaupun tidak mudah, langkah tersebut harus dimulai. Apalagi sejumlah riset sudah dimulai, dan hanya membutuhkan dorongan dan keberanian pemerintah untuk memanfaatkannya. Beberapa riset dimaksud adalah vaksin merah putih yang dikembangkan Unair dan PT Biotis, vaksin Baylor Medical College, vaksin Zifivax Bio Farma-Anhui Zheifei Longcom), vaksin ARCov (PT Etana Biotech- Walfax Abogen).
Di antara keempat vaksin, vaksin merah putih harus diakui paling maju.Kini vaksin tersebut sudah memasuki tahap kedua uji klinis yang dilakukan bersamaan dengan uji klinis fase 3, dan bibit vaksin sudah siap dan telah diserahkan Unair ke PT Biotis. Rencananya, uji klinis dilaksanakan secara bersamaan sekitar bulan Januari-Februari 2022 ini, hingga emergency use authorization atau izin penggunaan darurat (EUA) bisa keluar sekitar bulan Mei atau Juni 2022, hingga produksi atau komersialisasi bisa Juni atau Juli 2022. Ditargetkan Agustus bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas.
Terwujudnya vaksin tersebut jelas membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang memegang otoritas perijinan. Perkembangan teranyar, BPOM sudah menyetujui uji klinis tersebut. Malahan lembaga tersebut telah menyatakan komitmennya untuk membatasi permintaan uji klinis vaksin yang dikembangkan negara lain karena Indonesia sudah mulai mengembangkan vaksin dalam negeri.
Walaupun tinggal setahap, upaya untuk menuntaskan program vaksinasi merah putih tidaklah mudah. Selain kendala peralatan teknologi, Kepala Badan seperti disampaikan Kepala Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, Indonesia belum pernah memiliki tim yang berpengalaman sampai uji klinis dalam pengembangan vaksin dari scrath. Pengalaman tim periset dalam pengembangan vaksin baru sampai uji praklinis. Sejauh ini, sebagian besar vaksin yang diproduksi dalam negeri, termasuk oleh Biofarma, masih berbasis lisensi.
Untuk itulah, kerjasama dan kekompokkan semua pihak untuk mewujudkan tekad memproduksi vaksin sendiri, termasuk membuat fasilitas yang dibutuhkan, diperlukan hingga target vaksin merah putih bisa segera dimanfaatkan untuk vaksinasi primer, lanjutan dan booster terwujud. Bukan hanya vaksin merah putih, dorongan juga diberikan kepada program vaksin lain. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki kompetensi untuk membangun sekaligus membuat program pemanfaatan yang berkelanjutan.
Di antara keempat vaksin, vaksin merah putih harus diakui paling maju.Kini vaksin tersebut sudah memasuki tahap kedua uji klinis yang dilakukan bersamaan dengan uji klinis fase 3, dan bibit vaksin sudah siap dan telah diserahkan Unair ke PT Biotis. Rencananya, uji klinis dilaksanakan secara bersamaan sekitar bulan Januari-Februari 2022 ini, hingga emergency use authorization atau izin penggunaan darurat (EUA) bisa keluar sekitar bulan Mei atau Juni 2022, hingga produksi atau komersialisasi bisa Juni atau Juli 2022. Ditargetkan Agustus bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas.
Terwujudnya vaksin tersebut jelas membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang memegang otoritas perijinan. Perkembangan teranyar, BPOM sudah menyetujui uji klinis tersebut. Malahan lembaga tersebut telah menyatakan komitmennya untuk membatasi permintaan uji klinis vaksin yang dikembangkan negara lain karena Indonesia sudah mulai mengembangkan vaksin dalam negeri.
Walaupun tinggal setahap, upaya untuk menuntaskan program vaksinasi merah putih tidaklah mudah. Selain kendala peralatan teknologi, Kepala Badan seperti disampaikan Kepala Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, Indonesia belum pernah memiliki tim yang berpengalaman sampai uji klinis dalam pengembangan vaksin dari scrath. Pengalaman tim periset dalam pengembangan vaksin baru sampai uji praklinis. Sejauh ini, sebagian besar vaksin yang diproduksi dalam negeri, termasuk oleh Biofarma, masih berbasis lisensi.
Untuk itulah, kerjasama dan kekompokkan semua pihak untuk mewujudkan tekad memproduksi vaksin sendiri, termasuk membuat fasilitas yang dibutuhkan, diperlukan hingga target vaksin merah putih bisa segera dimanfaatkan untuk vaksinasi primer, lanjutan dan booster terwujud. Bukan hanya vaksin merah putih, dorongan juga diberikan kepada program vaksin lain. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki kompetensi untuk membangun sekaligus membuat program pemanfaatan yang berkelanjutan.
(ynt)
Lihat Juga :