Menangis di Pengadilan Tipikor, Azis Syamsudin Mengaku Kerap Menjadi Korban Bullying
Senin, 31 Januari 2022 - 15:36 WIB
loading...
Terdakwa Azis Syamsuddin menangis saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi di sidang perkara dugaan suap yang diadakan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Terdakwa Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Azis Syamsuddin menangis saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi di sidang perkara dugaan suap yang diadakan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat. Azis didakwa atas kasus pemberian suap kepada mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Robin Pattuju.
Saat pembacaan pleidoi, Azis terisak serta menangis menceritakan pengalaman hidupnya. Mantan Wakil Ketua DPR RI itu mengulas perjalanan hidupnya yang menurutnya getir. "Semasa hidup, saya selalu mengikuti kemana ayah saya pergi, kemana pindah, di mana beliau sebagai pegawai negeri di bank pemerintah. Ayah saya ditugaskan setiap tiga tahun rata-rata berpindah ke berbagai daerah," ulas Azis sembari terus terisak pada Senin (31/1/2022).
Azis berkisah sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dirinya tidak mengalami kehidupan yang nyaman. Dia menceritakan hidupnya yang selalu berpindah-pindah karena mengikuti tugas ayahnya di sejumlah daerah. "Mulai dari Singkawang Kalimantan Barat yang saat itu ada perang cap mangkok merah, kemudian ke Tanjung Balai Karimun, Jember, hingga akhir masa tugas almarhum ayah saya (yang) penempatannya di Jakarta," jelas Azis.
Baca juga: Masinton PDIP Jenguk Azis Syamsudin di Pengadilan: Namanya juga Teman
Azis juga mencurahkan kisah hidupnya yang menjadi korban bullying. Hal ini ditengarai lantaran dirinya tidak mampu beradaptasi saat hidup berpindah-pindah mengikuti ayahnya. "Tiap tiga tahun, saya selalu dipelonco di setiap berbagai daerah karena saya tidak bisa menggunakan bahasa daerah setempat. Saya harus tegar menghadapi dalam bulan pertama dan kedua menghadapi plonco di setiap daerah," imbuhnya sembari terus menangis.
Azis menuturkan ketika ayahnya pensiun, dirinya mengalami kehidupan yang kontradiktif dari sebelumnya. Dia dan keluarganya terpaksa tinggal di Rumah Susun (Rusun) Tanah Abang, Jakarta Pusat. ”Sebagai anak pensiunan pegawai negeri, yang saya rasakan saya tinggal di Rusun Tanah Abang, Blok Enam lantai dua Nomor 425 a Jakarta Pusat," katanya.
Baca juga: Kasus Dugaan Suap, KPK Pastikan Penyelidikan Azis Syamsuddin Terus Berjalan
Saat pembacaan pleidoi, Azis terisak serta menangis menceritakan pengalaman hidupnya. Mantan Wakil Ketua DPR RI itu mengulas perjalanan hidupnya yang menurutnya getir. "Semasa hidup, saya selalu mengikuti kemana ayah saya pergi, kemana pindah, di mana beliau sebagai pegawai negeri di bank pemerintah. Ayah saya ditugaskan setiap tiga tahun rata-rata berpindah ke berbagai daerah," ulas Azis sembari terus terisak pada Senin (31/1/2022).
Azis berkisah sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, dirinya tidak mengalami kehidupan yang nyaman. Dia menceritakan hidupnya yang selalu berpindah-pindah karena mengikuti tugas ayahnya di sejumlah daerah. "Mulai dari Singkawang Kalimantan Barat yang saat itu ada perang cap mangkok merah, kemudian ke Tanjung Balai Karimun, Jember, hingga akhir masa tugas almarhum ayah saya (yang) penempatannya di Jakarta," jelas Azis.
Baca juga: Masinton PDIP Jenguk Azis Syamsudin di Pengadilan: Namanya juga Teman
Azis juga mencurahkan kisah hidupnya yang menjadi korban bullying. Hal ini ditengarai lantaran dirinya tidak mampu beradaptasi saat hidup berpindah-pindah mengikuti ayahnya. "Tiap tiga tahun, saya selalu dipelonco di setiap berbagai daerah karena saya tidak bisa menggunakan bahasa daerah setempat. Saya harus tegar menghadapi dalam bulan pertama dan kedua menghadapi plonco di setiap daerah," imbuhnya sembari terus menangis.
Azis menuturkan ketika ayahnya pensiun, dirinya mengalami kehidupan yang kontradiktif dari sebelumnya. Dia dan keluarganya terpaksa tinggal di Rumah Susun (Rusun) Tanah Abang, Jakarta Pusat. ”Sebagai anak pensiunan pegawai negeri, yang saya rasakan saya tinggal di Rusun Tanah Abang, Blok Enam lantai dua Nomor 425 a Jakarta Pusat," katanya.
Baca juga: Kasus Dugaan Suap, KPK Pastikan Penyelidikan Azis Syamsuddin Terus Berjalan
Lihat Juga :