2022 Akhir Pandemi; Prospek Realistik atau Prematur?
Senin, 10 Januari 2022 - 10:09 WIB
loading...
A
A
A
Berbeda dengan morbiditas, profil mortalitas global mengalami penurunan signifikan. Setelah mencapai puncaknya Januari tahun lalu dengan 1,8 kematian per 1 juta penduduk, angka kematian terus menurun secara gradual hingga mencapai 0,7 per 1 juta penduduk saat ini. Penurunan ini hampir tiga kali lipat. Saat bersamaan,fatality ratejuga menurun. Saat awal pandemi,fatality ratesempat mencapai 7,3%; artinya, 7 dari 100 orang terinfeksi meninggal. Saat ini,fatality rateglobal berkisar 0,6%. Di Indonesia juga terjadi penurunan signifikanpositive ratedari puncak 30% menjadi 0,17% saat ini. Ini penurunan signifikan. Berbagai jenis penatalaksanaan mendasari penurunan ini, terutama pembatasan pergerakan orang dan barang, 3M, 3T dan vaksin.
Varian vs Vaksin
Meski banyak faktor mempengaruhi perjalanan pandemi, determinan penting yang mendominasi sketsa pandemi pada 2022 adalah varian dan vaksin. Kedua determinan ini ‘bertarung’ dan hasilnya menentukan ekuilibriumitas pandemi. Keduanya adalahgame changer. Bila varian lebih kuat, pandemi akan terus merebak dan berlangsung. Sebaliknya, bila vaksin lebih kuat, penyebaran pandemi akan terminimalisasi atau terkontrol.
Sepanjang varian tetap bermunculan, peta pergerakan pandemi belum akan berakhir. Akan terus terjadi proses dinamis morbiditas dan mortalitas; jumlah kasus dan kematian bisa meningkat drastis. Sebagian varian berpotensi mengurangi kemanjuran vaksin. Ini terutama terjadi bila varian memiliki perubahan atau mutasi pada struktur yang menjadi target vaksin. Faktanya, saat berhadapan dengan varian Delta dan Omicron, misalnya, berbagai jenis vaksin mengalami penurunan kemanjuran serius.Preliminary studybaru-baru ini menunjukkan bahwa dua jenis dosis vaksin tidak bermanfaat saat berhadapan Omicron. Artinya, meski telah mendapat dua dosis, individu tetap dapat terinfeksi. Makanya booster mulai digalakkan di berbagai negara. Dengan booster, kemampuan protektif vaksin kembali meningkat.
Hingga kini, sekitar 9,5 miliar dosis vaksin telah diberikan pada 184 negara. Pada 2022, program vaksinasi dan penelitian vaksin akan makin marak. Salah satu alasannya untuk meredam kemunculan varian-varian baru dan beragam efeknya. Akibatnya, akan muncul revisi konsep penatalaksanaan. Dua dosis vaksin akan dianggap tidak memadai lagi; untukfully protecteddibutuhkan dosis ketiga atau dosis selanjutnya. Atau bisa jadi vaksin yang telah eksis dimodifikasi agar tetap bisa manjur. Bahkan bisa terjadi pada tahun-tahun berikutnya vaksinasi Covid-19 ini akan menjadi vaksin regular yang harus diberikan pada periode tertentu; mungkin setiap 6-12 bulan. Kira-kira mirip dengan vaksinseasonal flusaat ini.
Nasionalisme vs Universalisme
Varian vs Vaksin
Meski banyak faktor mempengaruhi perjalanan pandemi, determinan penting yang mendominasi sketsa pandemi pada 2022 adalah varian dan vaksin. Kedua determinan ini ‘bertarung’ dan hasilnya menentukan ekuilibriumitas pandemi. Keduanya adalahgame changer. Bila varian lebih kuat, pandemi akan terus merebak dan berlangsung. Sebaliknya, bila vaksin lebih kuat, penyebaran pandemi akan terminimalisasi atau terkontrol.
Sepanjang varian tetap bermunculan, peta pergerakan pandemi belum akan berakhir. Akan terus terjadi proses dinamis morbiditas dan mortalitas; jumlah kasus dan kematian bisa meningkat drastis. Sebagian varian berpotensi mengurangi kemanjuran vaksin. Ini terutama terjadi bila varian memiliki perubahan atau mutasi pada struktur yang menjadi target vaksin. Faktanya, saat berhadapan dengan varian Delta dan Omicron, misalnya, berbagai jenis vaksin mengalami penurunan kemanjuran serius.Preliminary studybaru-baru ini menunjukkan bahwa dua jenis dosis vaksin tidak bermanfaat saat berhadapan Omicron. Artinya, meski telah mendapat dua dosis, individu tetap dapat terinfeksi. Makanya booster mulai digalakkan di berbagai negara. Dengan booster, kemampuan protektif vaksin kembali meningkat.
Hingga kini, sekitar 9,5 miliar dosis vaksin telah diberikan pada 184 negara. Pada 2022, program vaksinasi dan penelitian vaksin akan makin marak. Salah satu alasannya untuk meredam kemunculan varian-varian baru dan beragam efeknya. Akibatnya, akan muncul revisi konsep penatalaksanaan. Dua dosis vaksin akan dianggap tidak memadai lagi; untukfully protecteddibutuhkan dosis ketiga atau dosis selanjutnya. Atau bisa jadi vaksin yang telah eksis dimodifikasi agar tetap bisa manjur. Bahkan bisa terjadi pada tahun-tahun berikutnya vaksinasi Covid-19 ini akan menjadi vaksin regular yang harus diberikan pada periode tertentu; mungkin setiap 6-12 bulan. Kira-kira mirip dengan vaksinseasonal flusaat ini.
Nasionalisme vs Universalisme
Lihat Juga :