NU dan Visi Global-Kosmopolit Gus Yahya
Selasa, 21 Desember 2021 - 14:33 WIB
loading...
A
A
A
Kendati demikian, Gus Yahya cukup adil dalam menilai NU. Alih-alih melakukan glorifikasi, ia berani melakukan kritik internal untuk pelan-pelan melepas cara pandang lama yang insignifikan di tubuh NU. Ia menyadari, jika pola lama terus dilestarikan, NU akan semakin irrelevan. Dalam arti, NU dijauhi karena sektarian atau didekati semata karena menguntungkan.
Konstruksi organisasi NU nyaris tidak ada perubahan sejak 1952, titimangsa ketika NU berubah menjadi partai politik, meski pada Muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo disepakati kembali ke khittah. Dalam praktiknya platform kembali ke khittah tidak pernah terumuskan secara teknis. Problem ini juga dipikirkan oleh Gus Yahya, dan ia telah menyediakan perangkat memadai untuk keluar dari persoalan ini.
Baca juga: Gus Ipul Minta Registrasi Peserta Muktamar NU Terbuka dan Jujur
Secara internal, Gus Yahya akan membenahi empat hal. Pertama, memperjelas pendapatan dan alokasi modal operasional organisasi. Ini dapat dilakukan dengan cara mengarusutamakan jejaring ekonomi keumatan dengan tata kelola yang profesional. Karena hanya dengan cara ini, kemandirian ekonomi Nahdliyin akan tercapai. Kedua, membangun struktur kepengurusan yang lebih beriorientasi pada cara pandang baru ketimbang cara pandang lama. Termasuk dalam hal ini adalah hubungannya dengan negara. Ketiga, rekrutmen keanggotaan yang lebih merata dan egaliter. Keempat, pola hubungan struktur dengan kultur atau pengurus dengan warga mengikuti asas fellowship, bukan membership.
Empat langkah tersebut selanjutnya akan diikuti oleh pembentukan sistem layanan untuk warga, mobilisasi sumber daya, dan regulasi yang mengatur pemerataan akses terhadap layanan dan sumber daya tersebut. Ini adalah fondasi awal untuk mewujudkan misi global-kosmopolit yang akan menaikkan reputasi NU di tingkat dunia. Dan Gus Yahya adalah garansi paling meyakinkan untuk mewujudkan itu semua. Selamat bermuktamar!
Konstruksi organisasi NU nyaris tidak ada perubahan sejak 1952, titimangsa ketika NU berubah menjadi partai politik, meski pada Muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo disepakati kembali ke khittah. Dalam praktiknya platform kembali ke khittah tidak pernah terumuskan secara teknis. Problem ini juga dipikirkan oleh Gus Yahya, dan ia telah menyediakan perangkat memadai untuk keluar dari persoalan ini.
Baca juga: Gus Ipul Minta Registrasi Peserta Muktamar NU Terbuka dan Jujur
Secara internal, Gus Yahya akan membenahi empat hal. Pertama, memperjelas pendapatan dan alokasi modal operasional organisasi. Ini dapat dilakukan dengan cara mengarusutamakan jejaring ekonomi keumatan dengan tata kelola yang profesional. Karena hanya dengan cara ini, kemandirian ekonomi Nahdliyin akan tercapai. Kedua, membangun struktur kepengurusan yang lebih beriorientasi pada cara pandang baru ketimbang cara pandang lama. Termasuk dalam hal ini adalah hubungannya dengan negara. Ketiga, rekrutmen keanggotaan yang lebih merata dan egaliter. Keempat, pola hubungan struktur dengan kultur atau pengurus dengan warga mengikuti asas fellowship, bukan membership.
Empat langkah tersebut selanjutnya akan diikuti oleh pembentukan sistem layanan untuk warga, mobilisasi sumber daya, dan regulasi yang mengatur pemerataan akses terhadap layanan dan sumber daya tersebut. Ini adalah fondasi awal untuk mewujudkan misi global-kosmopolit yang akan menaikkan reputasi NU di tingkat dunia. Dan Gus Yahya adalah garansi paling meyakinkan untuk mewujudkan itu semua. Selamat bermuktamar!
(zik)