Ayo, Jadikan Keranjang Sampah Dapur Menjadi Komposter Sederhana

Senin, 13 Desember 2021 - 15:58 WIB
loading...
Ayo, Jadikan Keranjang...
Tahapan pembuatan kompos menggunakan Keranjang Takakura. Foto/Istimewa
A A A
Sandra Madonna
Dosen Teknik Lingkungan Universitas Bakrie

Keranjang sampah dapur yang selama ini hanya digunakan untuk menampung dan mengumpul sampah sayur-sayuran sisa dari olahan makanan atau sisa makanan itu sendiri, ternyata dapat dijadikan komposter sederhana. Keranjang sampah dapur tersebut dapat ditingkatkan fungsinya dengan merancangnya sebagai wadah fermentasi untuk mendekomposisi (mengurai) sampah organik menjadi pupuk (kompos). Sampah dapur atau sampah organik di Indonesia sendiri merupakan komposisi timbulan sampah terbesar yang berasal dari sampah rumah tangga, nilai ini dapat mencapai lebih dari 60% dari total sampah yang dihasil dari rumah tangga. Karakteristik sampah dapur yang cepat membusuk dan mudah terurai oleh mikroba perlu ditangani dengan baik agar tidak mencemari lingkungan, menimbulkan bau tidak sedap, mengganggu estetika dan menjadi sarang bibit penyakit yang akan mengganggu kesehatan lingkungan.

Sampai saat ini pengelolaan sampah yang berasal dari rumah tangga atau sampah domestik masih ditemukan kurang mempedulikan faktor non teknis seperti keterlibatan masyarakat, hal ini menjadi penyebab timbulnya permasalahan dan hambatan dalam proses pengelolaan sampah pada kota-kota besar di Indonesia. Peran serta masyarakat dalam mengelola sampah mulai dari rumah tangga sangat diharapkan mengatasi permasalahan sampah ini. Penanganan sampah secara keseluruhan diperlukan agar sampah tersebut tidak menimbulkan masalah lingkungan lebih lanjut. Penanganan sampah tersebut mencakup cara memindahkan sampah dari sumbernya, mengolah, dan mendaur-ulang kembali. Upaya pengolahan sampah mulai dari sumber sangat membantu dalam mereduksi sampah yang akan diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) , sehingga upaya ini dapat memperpanjang umur TPA, mengurangi biaya operasional persampahan dan biaya pengangkutan sampah. Diperkirakan hanya sekitar 60% sampah di kota-kota besar di Indonesia yang dapat terangkut ke TPA.

Pengelolaan sampah di masyarakat masih menjadi kendala dikarenakan; (1) Cepatnya perkembangan teknologi lebih cepat dari kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memahami persoalan persampahan, (2) Meningkatnya taraf hidup masyarakat, yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan tentang sampah, (3) Meningkatnya biaya operasional persampahan, (4) Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien, tidak benar menimbulkan pencemaran lingkungan, (5) Kegagalan dalam mendaur ulang atau pemanfaatan kembali barang bekas, (6) Sulitnya mendapatkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA), (7) Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat membusuk, (8) Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk memelihara kebersihan, (9) Pembiayaan yang tidak memadai mengingat sampai saat ini kebanyakkan pengelolaan sampah dibiayai oleh pemerintah, dan (10) pengelolaan sampah saat ini kurang memperhatikan faktor non teknis seperti partisipasi masyarakat dan penyuluhan tentang hidup sehat dan bersih.

Pengenalan cara-cara sederhana atau teknologi pengolahan sampah yang bersifat sederhana, mudah, murah, efisien kepada masyarakat sangat diperlukan, sehingga masyarakat dapat dengan mudah secara langsung menerapkannya di lingkungan. Cara ini dapat dengan mengedukasi dan menambah wawasan masyarakat, sehingga menimbulkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri, sehingga tercipta pengelolaan sampah mulai dari sumber atau mulai dari rumah dan lingkungannya masing-masing.

Baca juga: Negara Ini Kekurangan Sampah, Harus Impor Limbah untuk Penuhi Kebutuhan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Analisa Hukum Putusan...
Analisa Hukum Putusan Perkara Nadiem Makarim
HUT Bhayangkara: Mampukah...
HUT Bhayangkara: Mampukah Polri Melindungi Kritik Tanpa Mengkriminalisasi Warga?
Bumi Eropa Membara,...
Bumi Eropa Membara, Dunia Memilih Bisu: Pelajaran dari Gelombang Panas yang Tak Lagi Anomali
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
B50: Strategi Diplomasi...
B50: Strategi Diplomasi Sawit Berkelanjutan
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Cerita Pramono Kena...
Cerita Pramono Kena Tegur Istrinya Gegara Aturan Pilah Sampah, Disuruh Cuci Wadah Plastik Sambal
PLN EPI Dorong Zero...
PLN EPI Dorong Zero Waste lewat Pengelolaan Sampah Terpilah dan Daur Ulang
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan...
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan Sampah Harus Diubah dari Mengelola kepada Mencegah
Rekomendasi
Perempuan Indonesia...
Perempuan Indonesia 27 Tahun Jadi Sopir Bus di Jepang: Bagaimana Ia Lolos Seleksi Ketat Tokyu Bus?
Wakil Menlu Arab Saudi...
Wakil Menlu Arab Saudi dan Keluarga Nasrallah Hadiri Pemakaman Khamenei
Penampakan Lamborghini...
Penampakan Lamborghini hingga Aset Mewah Tersangka Aseng yang Disita Kejagung
Berita Terkini
AAI Satukan Kepengurusan...
AAI Satukan Kepengurusan lewat Munaslub Bersama di Jakarta
2 Brigjen Naik Jadi...
2 Brigjen Naik Jadi Irjen Pol usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026, Ini Nama dan Profilnya
PDIP: Tingginya Biaya...
PDIP: Tingginya Biaya Politik Tuntas dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tak Langsung
Diperiksa Kemendagri...
Diperiksa Kemendagri 8 Jam soal Konten Lagunya, Bupati Purwakarta Minta Maaf dan Akui Salah
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Langkat Tersangka Kasus Dugaan Suap
Tingginya Kasus Kanker...
Tingginya Kasus Kanker Paru: Tantangan Skrining, Diagnosis, hingga Akses Terapi
Infografis
6 Jenderal Ditunjuk...
6 Jenderal Ditunjuk Menjadi Pangdam di Kodam Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved