Pemetaan Cepat Geoheritage di Kawasan Lindung Merapi

Jum'at, 03 Desember 2021 - 10:19 WIB
loading...
A A A
Mencegah potensi negatif yang bakal terjadi jika kawasan geoheritage tak dikelola dengan baik, GKR Mangkubumi dalam sebuah kesempatan menyampaikan, perlunya usaha preventif mencegah kerusakan. Usaha yang dimaksud bertujuan melindungi kawasan dan sekitarnya, yang melibatkan para pihak terkait dengan kewenangannya masing-masing. Adapun fokus dari kegiatan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi DIY, adalah pada substansi budayanya.

Peran ini mengingat faktor sejarah yang melandasinya, yaitu sejak kekuasaan dijalankan Sri Sultan Hamengku Buwono I di lingkungan Gunung Merapi terdapat agenda budaya tahunan, berupa "aya’an". Agenda ini harusnya dipertahankan keberlanjutannya. Namun sejak adanya erupsi Gunung Merapi di tahun 2010, dan akibat kegiatan penambangan, agenda budaya terhenti. Sangat disayangkan. Selain faktor budaya, yang jadi keprihatinan dan konsentrasi utama Keraton Yogyakarta, adalah kondisi penutup lahan di Kawasan Merapi dan aliran sungai di sekitarnya, yang saat ini tertutup. Ini mengakibatkan hilangnya air di kawasan tersebut.

Bekerja Bersama di Kawasan Merapi
Berangkat dari berbagai keprihatinan itu, Pemprov DIY bersama berbagai pihak meneguhkan komitmen untuk mengelola warisan geologi tersebut. Manifestasinya, Gubernur DIY bergerak cepat, meminta kepada lembaga yang berwenang dalam pemetaan untuk melakukan pemetaan cepat di Kawasan Lindung Merapi. Pemetaan di kawasan ini bertujuan untuk menata aktivitas penambangan, agar tak merusak kawasan geoheritage, juga untuk mengembalikannya pada fungsi semula sebagai sumber dan aliran air.

Dikutip dari podcast BIG, Kepala BIG Muh Aris Marfai menyebutkan, secara ekologis kawasan lindung Gunung Merapi merupakan kawasan yang mempengaruhi kualitas lingkungan di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah. Ini artinya, Kawasan Lindung Gunung Merapi berperan besar menjaga keseimbangan lingkungan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Agar kondisinya terpelihara unsur-unsur penting ekologis Kawasan Lindung Gunung Merapi harus lebih diperhatikan. Salah satu komponen penting itu, menyangkut perubahan penutup lahan di kawasan ini.

Menyambut keseriusan Pemprov DIY, BIG membentuk tim dari Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik. Tim ini bertugas melakukan interpretasi penutup lahan, pemotretan cepat dengan drone dan menugaskan tim dari Pusat Tata Ruang dan Atlas, melakukan analisis perubahan penggunaan lahan atau neraca sumberdaya lahan di Kawasan Gunung Merapi. Informasi perubahannya disajikan dalam bentuk peta yang bernilai lebih. Sebab aspek lingkungan dan sumberdaya lahan spasial, menjadi lebih "terpotret". Secara teknis, untuk mengetahui perubahan penutup lahan di kawasan lindung Gunung Merapi, dibutuhkan data penutup lahan dengan dua kurun waktu yang berbeda, multi temporal.

Dikutip dari website BIG, Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik, Antonius Bambang Wijanarto, menjelaskan peran BIG dalam melakukan analisis perubahan penggunaan lahan dari dua kurun waktu penutup lahan,"Penggunaan lahan Kawasan Gunung Merapi T0 (tahun awal) diinterpretasi dari citra satelit resolusi tinggi tahun 2015 dan penggunaan lahan Kawasan Gunung Merapi T1 (tahun akhir), diinterpretasi dari hasil pemotretan cepat menggunakan pesawat tanpa awak."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dari Cinta Menjadi Luka:...
Dari Cinta Menjadi Luka: Kekerasan Berpacaran Perspektif Psikologi
Pilihan Praperadilan...
Pilihan Praperadilan untuk Roy Suryo dan Sidang untuk dr Tifa dalam Polemik Ijazah Jokowi
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Imam Shalat, Piala Dunia,...
Imam Shalat, Piala Dunia, dan Tempat Muktamar
Aktivitas Gunung Anak...
Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Masyarakat Diimbau Waspada
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Rekomendasi
Kontroversi Warnai Laga...
Kontroversi Warnai Laga Perdana Babak 32 Besar, Pakar Wasit Sebut Kanada Seharusnya Dapat Penalti
5 Fakta Kanada Lolos...
5 Fakta Kanada Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 usai Singkirkan Afrika Selatan
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Berita Terkini
Roy Suryo Hadiri Sidang...
Roy Suryo Hadiri Sidang Perdana Praperadilan: Tidak Ada Upaya untuk Memperlambat Peristiwa Utamanya
Kapolri: Hari Bhayangkara...
Kapolri: Hari Bhayangkara ke-80 Jadi Evaluasi untuk Wujudkan Harapan Warga
Kemenhaj Sebut 90% Jemaah...
Kemenhaj Sebut 90% Jemaah Haji Sudah Tiba di Tanah Air
Dari Cinta Menjadi Luka:...
Dari Cinta Menjadi Luka: Kekerasan Berpacaran Perspektif Psikologi
Hasil Survei: 83,1%...
Hasil Survei: 83,1% Publik Yakin UU Polri Bawa Perubahan Terhadap Kinerja Kepolisian
Prabowo Ungkap Kunci...
Prabowo Ungkap Kunci Negara Sukses: Berani Akui Kekurangan hingga Cari Solusi
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved