Surati PBNU, 9 Kiai Sepuh Minta Muktamar ke-34 Ditunda

Kamis, 25 November 2021 - 08:26 WIB
loading...
Surati PBNU, 9 Kiai Sepuh Minta Muktamar ke-34 Ditunda
Memperhatikan fenomena dan kondisi yang terjadi di PBNU, serta pemberlakuan PPKM level 3. Sembilan kiai sepuh NU menggagas untuk menunda Muktamar ke-34 NU. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Memperhatikan fenomena dan kondisi yang terjadi di PBNU , serta menyusul pemberlakuan PPKM level 3. Sembilan kiai sepuh NU menggagas untuk menunda Muktamar ke-34 NU hingga 2 Januari 2022.

Baca juga: Kiai Said Sebut Muktamar Akan Diputuskan di Rapat PBNU

Hal ini berdasarkan dokumen mutakhir yang diterima. Dalam dokumen tersebut terdapat dua halaman surat hasil pertemuan para masyayikh tertanggal 24 November 2021.

Baca juga: Menimbang Calon Ketua Umum PBNU, Kiai Said atau Gus Yahya

Pertama, berbentuk berita acara kesepakatan pertemuan yang ditandatangani oleh 9 kiai sepuh. Kedua berisi penyampaian hasil kesepakatan tersebut yang ditujukan langsung kepada PBNU.

Selain meminta Muktamar dilangsungkan dalam suasana kekeluargaan, persaudaraan, dan kebersamaan, para kiai sepuh dalam poin musyawarahnya juga bermufakat agar sebaiknya Muktamar ke-34 NU dilaksanakan dengan persiapan yang maksimal dan optimal.

"Karena itu, idealnya Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama dilaksanakan pada akhir Januari 2022 bertepatan dengan Harlah NU ke-96," demikian salah satu butir kesepakatan para kiai sepuh tersebut, Kamis (25/11/2021).

Poin lainnya, para kiai sepuh NU juga meminta agar Muktamar ke-34 NU berkualitas dan bermartabat. Juga menghasilkan keputusan yang fundamental dalam rangka membangun kemandirian bangsa untuk perdamaian dunia.

Kesembilan kiai sepuh atau masyayikh yang menandatangani kesepakatan musyawarah ini antara lain KH Anwar Mansyur dari Jawa Timur, KH Abuya Muhtadi Dimyati dari Banten, Tuanku Bagindo H Muhammad Letter dari Sumatera Barat.

Kemudian KH Manarul Hidayat dari Jakarta, Dr KH Abun Bunyamin dari Jawa Barat, KH Ahmad Haris Shodaqoh dari Jawa Tengah, KH Abdul Kadir Makarim dari NTT, KH Muhsin Abdillah dari Lampung, dan Dr KH Farid Wajdy dari Kalimantan Timur.
(maf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2178 seconds (10.55#12.26)