Belajar dari 2014 dan 2019, Perindo Sebut Presidential Threshold Tak Penting
Selasa, 16 November 2021 - 21:33 WIB
loading...
Ketua DPP Partai Perindo Bidang Politik dan Kebijakan Publik, Heri Budianto mengatakan, bahwa Indonesia seharusnya belajar pada dua pemilu ke belakang. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia seharusnya belajar pada dua pemilu ke belakang dalam menerapkan ambang batas pencalonan presiden. Hal ini dikatakan Ketua DPP Partai Perindo Bidang Politik dan Kebijakan Publik Heri Budianto.
Baca juga: Apresiasi Apel Kesiapsiagaan, Rescue Perindo: Siaga Bencana Upaya Menekan Korban Jiwa
Menurut Heri Budianto, dengan penerapan presidential threshold pada 2014 dan 2019, masyarakat terbelah menjadi dua sisi.
Baca juga: Jokowi Resmikan Sirkuit Mandalika, Pemuda Perindo: Arena Balap Motor Paling Prestisius
"Menurut hemat saya, kita harus belajar dari dua peristiwa pemilu pada 2014 dan 2019, di mana polarisasi itu terjadi," kata Heri ketika berdialog dengan MNC News, Selasa (16/11/2021).
"Sehingga, fakta-fakta politik yang terkait tingginya gesekan di masyarakat atau di tingkat pemilih karena adanya dua calon pasangan ini tentu menjadi pelajaran untuk kita," tambahnya.
Dia memaparkan, dengan turunnya angka presidential threshold, maka secara tidak langsung akan membuka ruang munculnya calon pemimpin nasional yang lebih banyak.
Baca juga: Apresiasi Apel Kesiapsiagaan, Rescue Perindo: Siaga Bencana Upaya Menekan Korban Jiwa
Menurut Heri Budianto, dengan penerapan presidential threshold pada 2014 dan 2019, masyarakat terbelah menjadi dua sisi.
Baca juga: Jokowi Resmikan Sirkuit Mandalika, Pemuda Perindo: Arena Balap Motor Paling Prestisius
"Menurut hemat saya, kita harus belajar dari dua peristiwa pemilu pada 2014 dan 2019, di mana polarisasi itu terjadi," kata Heri ketika berdialog dengan MNC News, Selasa (16/11/2021).
"Sehingga, fakta-fakta politik yang terkait tingginya gesekan di masyarakat atau di tingkat pemilih karena adanya dua calon pasangan ini tentu menjadi pelajaran untuk kita," tambahnya.
Dia memaparkan, dengan turunnya angka presidential threshold, maka secara tidak langsung akan membuka ruang munculnya calon pemimpin nasional yang lebih banyak.
Lihat Juga :