Perbaiki Fasilitas Publik Sebelum Terapkan Kenormalan Baru
Kamis, 04 Juni 2020 - 08:21 WIB
loading...
A
A
A
Untuk KRL misalnya. Kata Uchok, apakah sudah dipikirkan penambahan gerbong dua kali lipat untuk memfasilitasi pengguna yang mencapai 1 juta setiap harinya. Untuk Transjakarta, apakah sudah siap menambah armada bus dua kali lipat agar bisa menampung penumpang yang rata-rata mencapai 650 ribu setiap harinya. (Baca juga: Gantikan Ojek, Bajaj Bisa Jadi Alternatif Transportasi di Era New Normal ).
Selain itu, bandara dan pesawat terbang juga harus menerapkan protokol Covid-19. Batasi kapasitas bandara sampai tinggal 30% dari biasanya. Di pesawat juga harus melakukan physical distancing. "Tiap 3 kursi seharusnya hanya diisi satu orang. Mau enggak diatur seperti itu atau sanggup enggak pemerintah menerapkan seperti itu," kata dia.
Selain itu, Uchok meminta agar antrean di mal dan pasar tidak boleh berdesakan. Tiap pintu masuk ada screening suhu atau bahkan rapit test. Ini artinya harus ada renovasi fasilitas publik di depan pintu masuk. "Tempat duduk tempat makan harus diatur sesuai physical distancing. Artinya, kemungkinan hanya mampu menampung 25% dari kondisi normal," papar dia.
Nantinya, kata Uchok, jika sekolah dibuka kembali, siswa di sekolah duduknya harus berjarak 1,5 meter. Artinya, perlu penataan ulang kursi dan meja. Kalau tidak cukup, 50% siswa gantian masuknya, pagi dan sore.
Pun demikian, lanjut Uchok, terkait dengan tempat kerja di kantor-kantor termasuk kantor pemerintah juga perlu physical distancing. Padahal, kursinya biasanya berdekatan. Untuk itu, ia menyarankan agar ASN masuk bergantian saja. "Sampai sekarang belum ada persiapan. Yang ada hanya yang akan berkerja di kantor usia di bawah 45 tahun," ungkap dia.(Baca juga: Pakar Epidemiologi Sarankan PSBB Jakarta Diperpanjang ).
Selain itu, bandara dan pesawat terbang juga harus menerapkan protokol Covid-19. Batasi kapasitas bandara sampai tinggal 30% dari biasanya. Di pesawat juga harus melakukan physical distancing. "Tiap 3 kursi seharusnya hanya diisi satu orang. Mau enggak diatur seperti itu atau sanggup enggak pemerintah menerapkan seperti itu," kata dia.
Selain itu, Uchok meminta agar antrean di mal dan pasar tidak boleh berdesakan. Tiap pintu masuk ada screening suhu atau bahkan rapit test. Ini artinya harus ada renovasi fasilitas publik di depan pintu masuk. "Tempat duduk tempat makan harus diatur sesuai physical distancing. Artinya, kemungkinan hanya mampu menampung 25% dari kondisi normal," papar dia.
Nantinya, kata Uchok, jika sekolah dibuka kembali, siswa di sekolah duduknya harus berjarak 1,5 meter. Artinya, perlu penataan ulang kursi dan meja. Kalau tidak cukup, 50% siswa gantian masuknya, pagi dan sore.
Pun demikian, lanjut Uchok, terkait dengan tempat kerja di kantor-kantor termasuk kantor pemerintah juga perlu physical distancing. Padahal, kursinya biasanya berdekatan. Untuk itu, ia menyarankan agar ASN masuk bergantian saja. "Sampai sekarang belum ada persiapan. Yang ada hanya yang akan berkerja di kantor usia di bawah 45 tahun," ungkap dia.(Baca juga: Pakar Epidemiologi Sarankan PSBB Jakarta Diperpanjang ).
Lihat Juga :