Kartu Kredit dan Penjara Keuangan

loading...
Kartu Kredit dan Penjara Keuangan
Prof DR Jony Oktavian Haryanto, Rektor President University, Profesor Manajemen. Foto: Ist
Prof DR Jony Oktavian Haryanto

Rektor President University, Profesor Manajemen

BERITA baik datang dari Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga kartu kredit dari 2,5% menjadi 2% per bulan berlaku mulai 1 Mei 2020.

Selain itu, BI juga menurunkan minimum pembayaran tagihan kartu kredit dari 10% turun menjadi 5%. Alasan penurunan ini menurut Gubernur BI Perry Warjiyo karena suku bunga kartu kredit di Indonesia salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu 26,6% sehingga kurang kompetitif.

Sekilas kebijakan ini seakan berpihak kepada masyarakat, apalagi di tengah pandemi krisis karena Covid-19, maka kebijakan ini seakan-akan membantu meringankan beban masyarakat yang sedang kesusahan. Namun, Brenthal, Crockett, & Rose (2005) dalam tulisannya berjudul “Credit Cards as Lifestyle Facilitators“ yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research telah menemukan bahwa di Amerika Serikat, kartu kredit telah menjadi simbol gaya hidup yang pada akhirnya membawa banyak orang mengalami masalah keuangan karena kesalahan menganggap kartu kredit sebagai salah satu sumber penghasilan.



Kemudahan berbelanja dan bertransaksi oleh kartu kredit telah membuat konsumen merasa nyaman serta gampang dalam berbelanja sampai akhirnya mereka terjebak pada penjara utang, yaitu banyak responden yang diteliti dalam penelitian mereka mengatakan bahwa mereka hanya mampu membayar pembayaran minimum dan terus terjebak dalam penjara hutang sampai bertahun-tahun.

Banyak orang beranggapan bahwa dengan membayar cicilan minimal kartu kredit, maka akhirnya akan bisa melunasi pokok utang. Ternyata tidak demikian yang terjadi. Dari total tagihan minimal yang wajib dibayarkan, ternyata cicilan minimal tersebut hanya untuk membayar bunga dan sedikit pokok utang.

Lebih parah lagi, sisa tagihan tersebut oleh beberapa bank akan terkena kewajiban bunga berbunga sehingga utang semakin membesar dan tidak berkurang atau hanya berkurang sedikit jika hanya di bayar minimalnya saja. Ini tentu masih dengan skema lama, yaitu pembayaran minimum sebesar 10%.

Bahkan, jika membayar 15% dari total tagihan dan tidak lagi menggunakan kartu kredit tersebut, maka estimasi baru satu tahun akan lunas tagihan tersebut.

Belajar dari Pengalaman



Dalam penelitian Bernthal tersebut ditemukan hanya sedikit yang mampu keluar dari jebakan penjara utang itu, yaitu ketika per bulan hanya mampu membayar minimal pembayaran atau lebih sedikit dari pembayaran minimal.

Pada akhirnya, masyarakat akan bekerja hanya untuk membayar cicilan bunga saja. Dalam banyak kasus, dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya mereka bisa membayar lunas tagihan mereka.

Tentu akan ada sanggahan, ah itu kan tergantung manusianya, kalau mereka bisa mengendalikan diri dengan baik, maka mereka tidak akan terjebak dalam jebakan penjara utang tersebut. Ternyata tidak sesederhana itu. Dengan adanya pasar
terbuka, yaitu konsumen dengan mudah bisa melakukan pembelian, apalagi dengan banyaknya platform belanja berbasis daring dan telepon pintar, maka belanja hanya memerlukan beberapa kali klik dan dalam waktu tidak lama barang yang diinginkan akan sampai ke rumah kita.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top