Pola untuk Kebijakan Mitigasi Wabah Covid-19
Rabu, 22 April 2020 - 07:45 WIB
loading...
A
A
A
Tidak nampak perbedaan nyata antara 30an dengan 40an, berbeda dengan praduga kami di atas. Baru ketika menapak 50an lonjakan peluang terasa (tambahan 7%). Mengingat bahwa pada tanggal 1 Maret Indonesia, menurut pemerintah, masih bebas virus SARS-COv-2, maka temuan ini mengatakan satu dari sepuluh pasien covid-19 yang berusia 50an bisa meninggal dalam sebulan.
Pola Penyakit Trisula
Selain pola jenis kelamin dan umur kami juga menyebutkan pola penyakit awal, untuk menekankan perlunya penyandang penyakit jantung, diabetes dan darah tinggi berhati-hati.
Pola penyakit trisula ini yang paling menyolok. Di antara pasien tanpa penyakit awal bulan lalu peluangnya satu dari sepuluh. Namun bila pasien saat itu sudah menyandang diabetes, darah tinggi, atau jantung maka peluangnya meninggal berlipat lima. Bandingkan juga rentang kedua grafik di atas (dua kali lipat); pengaruh penyakit awal sangat besar.
Apakah pola 40an yang kami duga ternyata salah, artinya yang 40an boleh lega? Tentu, bila mereka telah memeriksakan diri untuk resiko jantung dan mengendalikannya. Temuan kami (2014 dan 2019) mengatakan bahwa dua-per-tiga dari mereka tidak sadar dan tidak mengendalikan resiko jantung. Bila mereka ternyata beresiko jantung maka peluang meninggal bisa melonjak: buat laki-laki penyandang trisula peluang meninggal bisa 50:50 (titik tertinggi di gambar 6).
Apa Artinya Temuan Baru Ini buat Indonesia?
Seperti kami sampaikan sejak bulan lalu, pemerintah dan masyarakat perlu bertindak tegas agar virus SARS-CoV-2 ini tidak menyebar atau menulari diri sendiri. Khusus perorangan: bila laki-laki dan bulan lalu berpenyakit diabetes, jantung atau darah tinggi maka perlu ekstra hati-hati.
Buat pemerintah, kami hanya mengangkat dua hal. Pertama, korban covid-19 bukan hanya pensiunan tetapi pekerja produktif seperti kepala cabang, manajer, direktur lini, dokter spesialis, atau ringkasnya motor ekonomi. Ketika wabah ini mereda, Indonesia memerlukan motor untuk menggerakkan perekonomian yang sekarang disetop, memicu ekonomi keluarga dan negara. Krisis kesehatan ini memang beranyaman erat dengan krisis ekonomi.
Oleh sebab itu pemerintah mesti bertindak tegas memutus rantai penularan.
Kedua, pola yang paling utama, yakni pola penyakit menular menuntut tindakan khusus. Pastikan bahwa penyandang penyakit trisula di atas mendapatkan obat sesuai pedoman (misalnya captopril bukan 15 melainkan 30 hari). Temuan kami di lapangan tahun lalu menunjukkan bahwa penduduk desa yang berpenyakit jantung masih belum teratur mendapatkan obat yang menjadi haknya. Ini membuat mereka rentan fatal terhadap covid-19.
Selain itu dalam berbagai kesempatan kami sebutkan pemerintah perlu menegakkan pembatasan atau jaga jarak sosial serentak dengan memberi bantuan (bukan sembako melainkan) emoney kepada pekerja informal. Semua pekerja di umur produktif, baik formal maupun informal, rentan terhadap covid-19 dan karena itu berhak mendapat perlindungan nyata dari pemerintah. Langkah mitigasi untuk mengayomi rakyat mesti dibangun di atas pola dan temuan ini.
Terima kasih kepada mas Dono Widiatmoko dan mas Ruly Achdiat.
Pola Penyakit Trisula
Selain pola jenis kelamin dan umur kami juga menyebutkan pola penyakit awal, untuk menekankan perlunya penyandang penyakit jantung, diabetes dan darah tinggi berhati-hati.
Pola penyakit trisula ini yang paling menyolok. Di antara pasien tanpa penyakit awal bulan lalu peluangnya satu dari sepuluh. Namun bila pasien saat itu sudah menyandang diabetes, darah tinggi, atau jantung maka peluangnya meninggal berlipat lima. Bandingkan juga rentang kedua grafik di atas (dua kali lipat); pengaruh penyakit awal sangat besar.
Apakah pola 40an yang kami duga ternyata salah, artinya yang 40an boleh lega? Tentu, bila mereka telah memeriksakan diri untuk resiko jantung dan mengendalikannya. Temuan kami (2014 dan 2019) mengatakan bahwa dua-per-tiga dari mereka tidak sadar dan tidak mengendalikan resiko jantung. Bila mereka ternyata beresiko jantung maka peluang meninggal bisa melonjak: buat laki-laki penyandang trisula peluang meninggal bisa 50:50 (titik tertinggi di gambar 6).
Apa Artinya Temuan Baru Ini buat Indonesia?
Seperti kami sampaikan sejak bulan lalu, pemerintah dan masyarakat perlu bertindak tegas agar virus SARS-CoV-2 ini tidak menyebar atau menulari diri sendiri. Khusus perorangan: bila laki-laki dan bulan lalu berpenyakit diabetes, jantung atau darah tinggi maka perlu ekstra hati-hati.
Buat pemerintah, kami hanya mengangkat dua hal. Pertama, korban covid-19 bukan hanya pensiunan tetapi pekerja produktif seperti kepala cabang, manajer, direktur lini, dokter spesialis, atau ringkasnya motor ekonomi. Ketika wabah ini mereda, Indonesia memerlukan motor untuk menggerakkan perekonomian yang sekarang disetop, memicu ekonomi keluarga dan negara. Krisis kesehatan ini memang beranyaman erat dengan krisis ekonomi.
Oleh sebab itu pemerintah mesti bertindak tegas memutus rantai penularan.
Kedua, pola yang paling utama, yakni pola penyakit menular menuntut tindakan khusus. Pastikan bahwa penyandang penyakit trisula di atas mendapatkan obat sesuai pedoman (misalnya captopril bukan 15 melainkan 30 hari). Temuan kami di lapangan tahun lalu menunjukkan bahwa penduduk desa yang berpenyakit jantung masih belum teratur mendapatkan obat yang menjadi haknya. Ini membuat mereka rentan fatal terhadap covid-19.
Selain itu dalam berbagai kesempatan kami sebutkan pemerintah perlu menegakkan pembatasan atau jaga jarak sosial serentak dengan memberi bantuan (bukan sembako melainkan) emoney kepada pekerja informal. Semua pekerja di umur produktif, baik formal maupun informal, rentan terhadap covid-19 dan karena itu berhak mendapat perlindungan nyata dari pemerintah. Langkah mitigasi untuk mengayomi rakyat mesti dibangun di atas pola dan temuan ini.
Terima kasih kepada mas Dono Widiatmoko dan mas Ruly Achdiat.
(ysw)
Lihat Juga :