Pola untuk Kebijakan Mitigasi Wabah Covid-19
Rabu, 22 April 2020 - 07:45 WIB
loading...
A
A
A
Kedua pola kematian di atas ternyata saling menguatkan, seperti kami temukan di Spanyol. Bukan hanya penyandang penyakit kronis lebih mungkin meninggal karena covid-19, di antara para penyandang ini, laki-laki lebih rentan.
Artinya Buat Indonesia: Pola-pola yang Lebih Tajam
Oleh karena pola penyakit awal yang khas ini, dipadu dengan pola resiko penyakit jantung di Indonesia yang kami temukan pada tahun 2014 (Maharani & Tampubolon 2014, PLoS One), kami menarik kesimpulan khusus buat Indonesia. Korban covid-19 di Indonesia lebih muda, bukan pensiunan melainkan orang pada usia produktif.
Temuan kami menunjukkan bahwa dua-per-tiga orang Indonesia berumur ≥40 tidak sadar bahwa mereka beresiko mati karena penyakit jantung. Temuan ini menyentuh dua pola di atas. Sehingga kami menyampaikan bahwa di Indonesia polanya lebih buruk karena korbannya lebih muda. Korban covid-19 di luar negeri terutama adalah pensiunan (60+) tetapi di Indonesia kami duga korbannya justru mereka yang berusia produktif (40+). Ini jalur yang membuat wabah ini bukan semata-mata krisis kesehatan melainkan juga krisis ekonomi.
Patut diingat bahwa temuan tentang resiko jantung yang tidak disadari tersebut terkait dengan kabar tahun lalu yang meramaikan media yakni BPJS membayar perawatan jantung/stroke sebesar Rp11.5 triliun. Bila pola penyakit kronis pada umur produktif diabaikan maka krisis kesehatan ini akan menjelma jadi bencana ekonomi jangka panjang karena motor ekonomi keluarga dan negara lumpuh.
Bagaimana Tiga Pola Ini di Indonesia?
Dari catatan korban yang mulai kami dapat atau diberitakan seperti di Jawa Timur, terlihat bahwa pola laki-laki lebih rentan mencuat. Di Jawa Timur, rasio laki-laki:perempuan adalah 3:1 (Jakarta Post dan CNN Indonesia 13 April). Di Jawa Barat dan DKI rasionya lebih dari 2:1. Rasio ini di atas semua negara yang kami catat di Tabel 1; laki-laki Indonesia lebih rentan daripada semua lelaki di dunia.
Oleh karena pola ini senada dengan temuan di luar negeri, mari kita lihat lebih rinci apakah pola lain yang dirumuskan di atas tepat untuk Indonesia, agar kebijakan mitigasi wabah covid-19 lebih tajam.
Menggunakan data dari DKI hingga 31 Maret (yang informasinya lengkap: N=667, meninggal 77 atau 12%) diolah dengan model probit, kami menaksir peluang meninggal di antara para pasien dalam pengawasan. Dengan model seperti ini kami sudah memperhitungkan bahwa, misalnya, lebih banyak laki-laki yang menyandang penyakit jantung daripada perempuan. Selain itu, wanti-wanti: data ini masih belum di puncak wabah jadi masih akan berubah dan informasi pun belum lengkap misalnya jenis kelamin sebagian pasien tidak dicatat (pasien begini terpaksa kami sisihkan). Hasilnya kami ringkaskan dalam dua grafik baru.
Pola Laki-laki Lebih Rentan dan Pola Umur
Pertama terlihat perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan dalam peluang meninggal karena covid-19. Perbedaan ini sangat nyata. Lihat misalnya belia kurang dari 30 tahun: perempuan berpeluang meninggal 5% sedangkan teman laki-lakinya berpeluang 9%. Atau lihat dua orang pensiunan: perempuan berpeluang meninggal 13% sedangkan laki-laki 21%.
Yang juga kelihatan adalah pemuda-pemudi pun ternyata berpeluang tidak kecil. Bila para belia (<30) merasa masih aman, maka temuan ini menunjukkan satu atau dua dari 20 belia bisa meninggal karena covid-19.
Artinya Buat Indonesia: Pola-pola yang Lebih Tajam
Oleh karena pola penyakit awal yang khas ini, dipadu dengan pola resiko penyakit jantung di Indonesia yang kami temukan pada tahun 2014 (Maharani & Tampubolon 2014, PLoS One), kami menarik kesimpulan khusus buat Indonesia. Korban covid-19 di Indonesia lebih muda, bukan pensiunan melainkan orang pada usia produktif.
Temuan kami menunjukkan bahwa dua-per-tiga orang Indonesia berumur ≥40 tidak sadar bahwa mereka beresiko mati karena penyakit jantung. Temuan ini menyentuh dua pola di atas. Sehingga kami menyampaikan bahwa di Indonesia polanya lebih buruk karena korbannya lebih muda. Korban covid-19 di luar negeri terutama adalah pensiunan (60+) tetapi di Indonesia kami duga korbannya justru mereka yang berusia produktif (40+). Ini jalur yang membuat wabah ini bukan semata-mata krisis kesehatan melainkan juga krisis ekonomi.
Patut diingat bahwa temuan tentang resiko jantung yang tidak disadari tersebut terkait dengan kabar tahun lalu yang meramaikan media yakni BPJS membayar perawatan jantung/stroke sebesar Rp11.5 triliun. Bila pola penyakit kronis pada umur produktif diabaikan maka krisis kesehatan ini akan menjelma jadi bencana ekonomi jangka panjang karena motor ekonomi keluarga dan negara lumpuh.
Bagaimana Tiga Pola Ini di Indonesia?
Dari catatan korban yang mulai kami dapat atau diberitakan seperti di Jawa Timur, terlihat bahwa pola laki-laki lebih rentan mencuat. Di Jawa Timur, rasio laki-laki:perempuan adalah 3:1 (Jakarta Post dan CNN Indonesia 13 April). Di Jawa Barat dan DKI rasionya lebih dari 2:1. Rasio ini di atas semua negara yang kami catat di Tabel 1; laki-laki Indonesia lebih rentan daripada semua lelaki di dunia.
Oleh karena pola ini senada dengan temuan di luar negeri, mari kita lihat lebih rinci apakah pola lain yang dirumuskan di atas tepat untuk Indonesia, agar kebijakan mitigasi wabah covid-19 lebih tajam.
Menggunakan data dari DKI hingga 31 Maret (yang informasinya lengkap: N=667, meninggal 77 atau 12%) diolah dengan model probit, kami menaksir peluang meninggal di antara para pasien dalam pengawasan. Dengan model seperti ini kami sudah memperhitungkan bahwa, misalnya, lebih banyak laki-laki yang menyandang penyakit jantung daripada perempuan. Selain itu, wanti-wanti: data ini masih belum di puncak wabah jadi masih akan berubah dan informasi pun belum lengkap misalnya jenis kelamin sebagian pasien tidak dicatat (pasien begini terpaksa kami sisihkan). Hasilnya kami ringkaskan dalam dua grafik baru.
Pola Laki-laki Lebih Rentan dan Pola Umur
Pertama terlihat perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan dalam peluang meninggal karena covid-19. Perbedaan ini sangat nyata. Lihat misalnya belia kurang dari 30 tahun: perempuan berpeluang meninggal 5% sedangkan teman laki-lakinya berpeluang 9%. Atau lihat dua orang pensiunan: perempuan berpeluang meninggal 13% sedangkan laki-laki 21%.
Yang juga kelihatan adalah pemuda-pemudi pun ternyata berpeluang tidak kecil. Bila para belia (<30) merasa masih aman, maka temuan ini menunjukkan satu atau dua dari 20 belia bisa meninggal karena covid-19.
Lihat Juga :