Menyoal Keterbukaan China
Rabu, 22 April 2020 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Apakah dunia bisa menekan China?
Para ahli epidemologis di dunia dan pemimpin negara masih meragukan bahwa China benar-benar jujur dalam menginformasikan wabah Covid-19 ini. Mereka juga ragu terhadap netralitas WHO yang dianggap tidak benar-benar kritis menjalankan pemantauan terkait wabah ini di China. WHO mengunjungi China, atau dengan pengertian lain baru diizinkan datang berkunjung, di tanggal 10 Februari di saat jumlah warga yang terpapar virus sudah mencapai 40.000 orang. Artinya WHO sendiri tidak cepat datang menginvestigasi kasus ini. Mereka juga menganggap WHO terlalu berlebihan dalam memuji China dalam menangani kasus wabah ini.
Sebuah video investigasi di dunia maya yang viral dari Wayne Dupree mendokumentasikan dan menginvestigasi asal wabah ini di China. Ia menemukan bahwa beberapa penelitian dari peneliti China telah mengungkapkan kasus-kasus yang mirip dengan gejala Covid-19 ini telah terjadi di pertengahan 2019, jauh sebelum wabah ini meledak pada Januari 2020. Ia juga mengungkapkan keheranan dari ahli virus tentang bagaimana mutasi virus ini sehingga dapat membentuk corona sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke tubuh manusia dengan begitu mudah. Beberapa ahli mengatakan hal itu sangat sulit terjadi secara alamiah dan cepat kecuali direkayasa dalam sebuah laboratorium.
Pemerintah Daerah di Kota Wuhan sendiri mengatakan. minggu lalu telah memperbaharui data jumlah warga mereka yang meninggal menjadi 4.600 dari 3.898 orang. Angka warga yang terinfeksi juga meningkat 50% dari angka yang dilaporkan sebelumnya. China mengatakan pembaharuan data ini disebabkan karena data yang terkumpul dari orang-orang yang meninggal baru masuk.
Beberapa kasus kematian ditambahkan karena ada kematian di rumah sakit yang belum didaftarkan di sistem informasi pengendalian penyakit dan beberapa kasus telah dilaporkan terlambat atau tidak dilaporkan sama sekali oleh beberapa lembaga medis. WHO sendiri mengatakan bahwa pembaharuan data ini wajar dan bisa terjadi di semua negara.
Para ahli epidemologis di dunia dan pemimpin negara masih meragukan bahwa China benar-benar jujur dalam menginformasikan wabah Covid-19 ini. Mereka juga ragu terhadap netralitas WHO yang dianggap tidak benar-benar kritis menjalankan pemantauan terkait wabah ini di China. WHO mengunjungi China, atau dengan pengertian lain baru diizinkan datang berkunjung, di tanggal 10 Februari di saat jumlah warga yang terpapar virus sudah mencapai 40.000 orang. Artinya WHO sendiri tidak cepat datang menginvestigasi kasus ini. Mereka juga menganggap WHO terlalu berlebihan dalam memuji China dalam menangani kasus wabah ini.
Sebuah video investigasi di dunia maya yang viral dari Wayne Dupree mendokumentasikan dan menginvestigasi asal wabah ini di China. Ia menemukan bahwa beberapa penelitian dari peneliti China telah mengungkapkan kasus-kasus yang mirip dengan gejala Covid-19 ini telah terjadi di pertengahan 2019, jauh sebelum wabah ini meledak pada Januari 2020. Ia juga mengungkapkan keheranan dari ahli virus tentang bagaimana mutasi virus ini sehingga dapat membentuk corona sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke tubuh manusia dengan begitu mudah. Beberapa ahli mengatakan hal itu sangat sulit terjadi secara alamiah dan cepat kecuali direkayasa dalam sebuah laboratorium.
Pemerintah Daerah di Kota Wuhan sendiri mengatakan. minggu lalu telah memperbaharui data jumlah warga mereka yang meninggal menjadi 4.600 dari 3.898 orang. Angka warga yang terinfeksi juga meningkat 50% dari angka yang dilaporkan sebelumnya. China mengatakan pembaharuan data ini disebabkan karena data yang terkumpul dari orang-orang yang meninggal baru masuk.
Beberapa kasus kematian ditambahkan karena ada kematian di rumah sakit yang belum didaftarkan di sistem informasi pengendalian penyakit dan beberapa kasus telah dilaporkan terlambat atau tidak dilaporkan sama sekali oleh beberapa lembaga medis. WHO sendiri mengatakan bahwa pembaharuan data ini wajar dan bisa terjadi di semua negara.
Lihat Juga :