Pancasila Kita dan Ujian Kesaktiannya
Selasa, 02 Juni 2020 - 06:54 WIB
loading...
A
A
A
Pancasila adalah dasar yang hidup untuk menuju Indonesia yang kita cita-citakan, maka ketiga tanggal tersebut adalah Pancasila, Pancasila kita semua. Ketiganya menunjukkan bahwa proses dialog terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat itu, dan roh dialog tersebut harus terus dirawat menjadi roh kebangsaan kita.
Maka, berbahaya dan tidak baik bila pergantian kekuasaan politik kemudian membuat tafsir tunggal terhadap Pancasila berdasarkan tiga tanggal rumusan Pancasila tersebut, karena bisa menyakiti golongan politik lainnya, yang sejatinya kita sedang mengkhianati keberagaman golongan dalam Indonesia, dan tentu sikap antidialog dengan memonopoli kebenaran tafsir sendiri terkait Pancasila adalah tindakan dan sikap yang bertentangan dengan Pancasila itu sendiri. Pancasila adalah produk dialog, ketika dialog terancam dan diancam oleh dominasi kekuasaan politik tertentu, maka kita sedang mengubur Pancasila.
Darul syahadah. Bagi saya saat ini adalah momentum syahadah, yang bermakna pembuktian, mengisi, dan berkarya setelah memiliki Indonesia yang merdeka. Maka, bukan saatnya lagi mempertentangkan ideologi negara, apalagi berusaha merusak ideologi yang sudah dibangun bersama. Momentum semua anak negeri untuk berkarya menuju Indonesia yang maju, makmur, adil, dan bermartabat. Indonesia di mana kegembiraan selalu dihadirkan dalam keberagamannya, bukan justru ditebar kecemasan-kecemasan yang menurunkan semangat produktivitas seluruh anak negeri.
Momentum krisis yang disebabkan wabah Covid-19 saat ini, adalah salah satu momentum sulit yang harus kita lewati bersama sebagai bangsa dan negara, pemimpin, politisi, tokoh, dan kita semua yang rajin pidato tentang Pancasila. Pancasila diuji konsistensinya saat ini. Diuji kapasitasnya untuk membangun kesadaran gotong-royong semua elemen bangsa, bergandengan tangan untuk keluar dari wabah Covid-19.
Kepemimpinan membutuhkan trust (kepercayaan) untuk bisa melakukan hal tersebut, dan trust bisa muncul bila dialog nan jujur hadir di tengah-tengah kehidupan kebangsaan kita. Jadi, saat ini Pancasila kita diuji pembuktian kesaktiannya dan pembuktiannya ada di tangan kita semua sebagai anak bangsa.
Maka, berbahaya dan tidak baik bila pergantian kekuasaan politik kemudian membuat tafsir tunggal terhadap Pancasila berdasarkan tiga tanggal rumusan Pancasila tersebut, karena bisa menyakiti golongan politik lainnya, yang sejatinya kita sedang mengkhianati keberagaman golongan dalam Indonesia, dan tentu sikap antidialog dengan memonopoli kebenaran tafsir sendiri terkait Pancasila adalah tindakan dan sikap yang bertentangan dengan Pancasila itu sendiri. Pancasila adalah produk dialog, ketika dialog terancam dan diancam oleh dominasi kekuasaan politik tertentu, maka kita sedang mengubur Pancasila.
Darul syahadah. Bagi saya saat ini adalah momentum syahadah, yang bermakna pembuktian, mengisi, dan berkarya setelah memiliki Indonesia yang merdeka. Maka, bukan saatnya lagi mempertentangkan ideologi negara, apalagi berusaha merusak ideologi yang sudah dibangun bersama. Momentum semua anak negeri untuk berkarya menuju Indonesia yang maju, makmur, adil, dan bermartabat. Indonesia di mana kegembiraan selalu dihadirkan dalam keberagamannya, bukan justru ditebar kecemasan-kecemasan yang menurunkan semangat produktivitas seluruh anak negeri.
Momentum krisis yang disebabkan wabah Covid-19 saat ini, adalah salah satu momentum sulit yang harus kita lewati bersama sebagai bangsa dan negara, pemimpin, politisi, tokoh, dan kita semua yang rajin pidato tentang Pancasila. Pancasila diuji konsistensinya saat ini. Diuji kapasitasnya untuk membangun kesadaran gotong-royong semua elemen bangsa, bergandengan tangan untuk keluar dari wabah Covid-19.
Kepemimpinan membutuhkan trust (kepercayaan) untuk bisa melakukan hal tersebut, dan trust bisa muncul bila dialog nan jujur hadir di tengah-tengah kehidupan kebangsaan kita. Jadi, saat ini Pancasila kita diuji pembuktian kesaktiannya dan pembuktiannya ada di tangan kita semua sebagai anak bangsa.
(maf)