Serangan 9/11, Amerika dan Taliban
Jum'at, 10 September 2021 - 14:10 WIB
loading...
A
A
A
Rupanya Presiden Bush memang berambisi untuk mengirimkan pasukannya ke Afghanistan. Sebagian menafsirkan itu sebagai jembatan untuk kembali ke Irak untuk membalas dendam kekalahan ayahnya di tahun 1991 silam.
Justifikasi yang dipaksakan memang atas nama balasan atas serangan 9/11. Dan target utama adalah menangkap atau membunuh Osama Bin Laden, yang dianggap “master” dari serangan yang mematikan hampir 3000 jiwa itu.
Saat itu di Afghanistan sendiri sejak terusirnya Uni Soviet, bahkan menjadi penyebab utama keruntuhannya, terjadi perang antar kelompok. Perang itu disebabkan karena faktor suku maupun karena faktor kelompok jihad itu sendiri. Dari Rabbani ke Sayyaf, hingga ke Muhammadi dan Hikmatyar, Afghanistan tidak pernah sepi dari pembunuhan dan pertumpahan darah.
Di tengah situasi yang tidak menentu itu para pelajar di berbagai madrasah, baik yang di Afghanistan sendiri maupun yang berada di daerah-daerah perbatasan Pakistan dan Afghanistan membentuk kekuatan baru dengan nama Taliban. Didukung oleh tentunya kekuatan luar, saya menyebutnya dengan “hidden player” Taliban berhasil menguasasi sebagian besar negara Afghanistan ketika itu.
Kekuasaan Afghanistan yang terbentuk atas dasar Shariah “versi mereka saat itu” sangat kaku, sempit dan tidak menunjukkan “muruunah” (elastisitas) ajaran Islam yang sesungguhnya. Tentu situasi ini dipergunakan oleh pihak lain untuk membangun persepsi yang buruk tentang Taliban itu sendiri.
Kehadiran Amerika di Afghanistan pun bukan lagi sekedar memburu Osama bin Laden. Tapi untuk meruntuhkan kekuasaan Taliban. Amerika berhasil menggeser Taliban dari pusat pemerintahan di Kabul. Sekaligus berhasil membentuk pemerintahan bonekanya melalui representasinya di Afghanistan, Zalmay Khalilzad. Zalmay Khalilzad adalah warga negara Amerika yang memang keturunan Afghanistan.
Taliban sendiri tidak pernah berhenti bergerak dan berjuang untuk kembali menguasasi Afghanistan. Walaupun dikategorikan sebagai gerakan teroris oleh Amerika, bahkan beberapa petingginya ditangkap dan dipenjara di Guantanamo (termasuk Baradar yang saat ini jadi Wakil Presidennya), kenyataannya Taliban tetap eksis.
Amerika sendiri dalam perjalanannya menghadapi berbagai multi krisis. Selain peerangan di Afghanistan dengan biaya yang luar biasa besarnya. Juga beberapa tahun kemudian dengan alasan yang diada-diada kembali menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Husain. Irak menjadi hancur berkeping mengikut jejak Afghanistan.
Demikianlah dari tahun ke tahun Amerika semakin bingun dengan sendirinya. Apa yang harus diperbuat. Menarik pasukan berarti dengan sendirinya mengakui kemenangan Taliban. Jika tidak Amerika juga sadar bahwa permasalahan ekonomi dalam negeri semakin terasa.
Setiap harinya Amerika harus mengeluarkan sekitar USD300 juta. Dalam masa dua puluh tahun Amerika telah menghabiskan sekitar USD2 triliun. Belum lagi ribuan tentara Amerika yang mati, dan ribuan lainnya yang luka-luka.
Intinya Amerika merasa maju mundur akan tertampar (kena). Hingga sekitar lima tahun silam terpilihlah seorang Presiden yang secara ekonomi sangat sensitif, tapi juga kebal muka. Di masanyalah Amerika mulai melakukan negosiasi kembali dengan Kelompok Taliban melalui mediasi Qatar. Dan puncaknya Amerika memutuskan menyetujui tuntutan Taliban untuk mereka angkat kaki dari bumi Afghanistan.
Ketika Presiden Biden terpilih tentu tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di Afganistan. Selain kerugian dan kekalahan itu nyata, juga Biden harus melaksanakan persetujuan yang telah ditanda tangani oleh pemerintahan sebelumnya. Militer Amerika pun hengkang dari Afghanistan di akhir Agustus tahun 2021 ini.
Justifikasi yang dipaksakan memang atas nama balasan atas serangan 9/11. Dan target utama adalah menangkap atau membunuh Osama Bin Laden, yang dianggap “master” dari serangan yang mematikan hampir 3000 jiwa itu.
Saat itu di Afghanistan sendiri sejak terusirnya Uni Soviet, bahkan menjadi penyebab utama keruntuhannya, terjadi perang antar kelompok. Perang itu disebabkan karena faktor suku maupun karena faktor kelompok jihad itu sendiri. Dari Rabbani ke Sayyaf, hingga ke Muhammadi dan Hikmatyar, Afghanistan tidak pernah sepi dari pembunuhan dan pertumpahan darah.
Di tengah situasi yang tidak menentu itu para pelajar di berbagai madrasah, baik yang di Afghanistan sendiri maupun yang berada di daerah-daerah perbatasan Pakistan dan Afghanistan membentuk kekuatan baru dengan nama Taliban. Didukung oleh tentunya kekuatan luar, saya menyebutnya dengan “hidden player” Taliban berhasil menguasasi sebagian besar negara Afghanistan ketika itu.
Kekuasaan Afghanistan yang terbentuk atas dasar Shariah “versi mereka saat itu” sangat kaku, sempit dan tidak menunjukkan “muruunah” (elastisitas) ajaran Islam yang sesungguhnya. Tentu situasi ini dipergunakan oleh pihak lain untuk membangun persepsi yang buruk tentang Taliban itu sendiri.
Kehadiran Amerika di Afghanistan pun bukan lagi sekedar memburu Osama bin Laden. Tapi untuk meruntuhkan kekuasaan Taliban. Amerika berhasil menggeser Taliban dari pusat pemerintahan di Kabul. Sekaligus berhasil membentuk pemerintahan bonekanya melalui representasinya di Afghanistan, Zalmay Khalilzad. Zalmay Khalilzad adalah warga negara Amerika yang memang keturunan Afghanistan.
Taliban sendiri tidak pernah berhenti bergerak dan berjuang untuk kembali menguasasi Afghanistan. Walaupun dikategorikan sebagai gerakan teroris oleh Amerika, bahkan beberapa petingginya ditangkap dan dipenjara di Guantanamo (termasuk Baradar yang saat ini jadi Wakil Presidennya), kenyataannya Taliban tetap eksis.
Amerika sendiri dalam perjalanannya menghadapi berbagai multi krisis. Selain peerangan di Afghanistan dengan biaya yang luar biasa besarnya. Juga beberapa tahun kemudian dengan alasan yang diada-diada kembali menyerang Irak dan menjatuhkan Saddam Husain. Irak menjadi hancur berkeping mengikut jejak Afghanistan.
Demikianlah dari tahun ke tahun Amerika semakin bingun dengan sendirinya. Apa yang harus diperbuat. Menarik pasukan berarti dengan sendirinya mengakui kemenangan Taliban. Jika tidak Amerika juga sadar bahwa permasalahan ekonomi dalam negeri semakin terasa.
Setiap harinya Amerika harus mengeluarkan sekitar USD300 juta. Dalam masa dua puluh tahun Amerika telah menghabiskan sekitar USD2 triliun. Belum lagi ribuan tentara Amerika yang mati, dan ribuan lainnya yang luka-luka.
Intinya Amerika merasa maju mundur akan tertampar (kena). Hingga sekitar lima tahun silam terpilihlah seorang Presiden yang secara ekonomi sangat sensitif, tapi juga kebal muka. Di masanyalah Amerika mulai melakukan negosiasi kembali dengan Kelompok Taliban melalui mediasi Qatar. Dan puncaknya Amerika memutuskan menyetujui tuntutan Taliban untuk mereka angkat kaki dari bumi Afghanistan.
Ketika Presiden Biden terpilih tentu tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di Afganistan. Selain kerugian dan kekalahan itu nyata, juga Biden harus melaksanakan persetujuan yang telah ditanda tangani oleh pemerintahan sebelumnya. Militer Amerika pun hengkang dari Afghanistan di akhir Agustus tahun 2021 ini.
Lihat Juga :