Implan Tulang dari Indonesia: Produksi Lokal Berstandar Internasional
Sabtu, 28 Agustus 2021 - 18:02 WIB
loading...
Dr. Eng. Muhammad Kozin Ketua PP ISNU, Chief Engineer Program Inovasi Teknologi Implan Tulang – BPPT. Foto/Ist
A
A
A
Dr. Eng. Muhammad Kozin
Ketua PP ISNU, Chief Engineer Program Inovasi Teknologi Implan Tulang – BPPT
PANDEMI Covid-19 telah menyadarkan kita bahwa ternyata mayoritas alat kesehatan yang selama ini dipakai di Indonesia adalah produk impor. Ketika tiba-tiba kebutuhan alat kesehatan tersebut meningkat sangat tajam karena pandemi dan proses impor mengalami kendala karena negara produsennya juga memerlukannya sehingga ekspornya dibatasi, maka masalah perlunya kemandirian alat kesehatan menjadi sangat penting dan mendesak untuk diselesaikan.
Sampai saat ini, sekitar 92.4% kebutuhan alat kesehatan di Indonesia masih dipenuhi dari produk impor. Bahkan kebutuhan alat kesehatan ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Nilai impor alat kesehatan pada tahun 2016 sekitar Rp18 triliun, meningkat menjadi Rp20,7 triliun pada tahun 2017 dan meningkat lagi menjadi Rp24,3 triliun pada tahun 2018.
Salah satu alat kesehatan yang selama ini masih impor adalah implan tulang yang digunakan untuk proses penyembuhan pasien ketika terjadi patah tulang. Implan tulang ini banyak diimpor dari Eropa, China, Korea dan Pakistan. Kebutuhan implan tulang ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun dikarenakan beberapa hal diantaranya karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang diiringi peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas dan juga karena posisi Indonesia yang berada di daerah rawan bencana.
Pengembangan produk implan tulang yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) bekerja sama dengan mitra industri yaitu PT. Zenith Allmart Precisindo telah berhasil membuat produk implan tulang yang memenuhi standar internasional dan juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Produk implan tulang produksi lokal ini juga telah digunakan di beberapa rumah sakit di Indonesia.
Proses Produksi Implan Tulang
Ketua PP ISNU, Chief Engineer Program Inovasi Teknologi Implan Tulang – BPPT
PANDEMI Covid-19 telah menyadarkan kita bahwa ternyata mayoritas alat kesehatan yang selama ini dipakai di Indonesia adalah produk impor. Ketika tiba-tiba kebutuhan alat kesehatan tersebut meningkat sangat tajam karena pandemi dan proses impor mengalami kendala karena negara produsennya juga memerlukannya sehingga ekspornya dibatasi, maka masalah perlunya kemandirian alat kesehatan menjadi sangat penting dan mendesak untuk diselesaikan.
Sampai saat ini, sekitar 92.4% kebutuhan alat kesehatan di Indonesia masih dipenuhi dari produk impor. Bahkan kebutuhan alat kesehatan ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Nilai impor alat kesehatan pada tahun 2016 sekitar Rp18 triliun, meningkat menjadi Rp20,7 triliun pada tahun 2017 dan meningkat lagi menjadi Rp24,3 triliun pada tahun 2018.
Salah satu alat kesehatan yang selama ini masih impor adalah implan tulang yang digunakan untuk proses penyembuhan pasien ketika terjadi patah tulang. Implan tulang ini banyak diimpor dari Eropa, China, Korea dan Pakistan. Kebutuhan implan tulang ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun dikarenakan beberapa hal diantaranya karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang diiringi peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas dan juga karena posisi Indonesia yang berada di daerah rawan bencana.
Pengembangan produk implan tulang yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) bekerja sama dengan mitra industri yaitu PT. Zenith Allmart Precisindo telah berhasil membuat produk implan tulang yang memenuhi standar internasional dan juga telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Produk implan tulang produksi lokal ini juga telah digunakan di beberapa rumah sakit di Indonesia.
Proses Produksi Implan Tulang
Lihat Juga :