Asa Ekonomi Bangkit dari Pandemi
Senin, 16 Agustus 2021 - 13:02 WIB
loading...
A
A
A
Perhatian pemerintah soal sektor pertanian tidak bisa dianaktirikan karena beberapa hal. Pertama , bahan makanan adalah kebutuhan dasar. Selama masyarakat menjalani pembatasan sosial, memang cenderung menunda pembelian pakaian baru dan kebutuhan lainnya. Namun, soal makan entah memasak di rumah atau membeli lewat aplikasi pesan antar makanan, sama-sama butuh bahan makanan. Artinya, permintaan bahan makanan dengan populasi Indonesia yang besar, harusnya tetap stabil.
Kedua, pengangguran di sektor industri cenderung kembali ke desa-desa dan menjadi tenaga tambahan di sektor pertanian meski sementara. Ini menunjukkan sektor pertanian menjadi safety net (jaring pengaman) naiknya pengangguran akibat pandemi. Jika ada istilah urbanisasi, maka saat ini justru sebaliknya terjadi ruralisasi.
Ketiga , sektor pertanian mampu berkontribusi positif terhadap penyaluran kredit perbankan pada saat sektor lain tumbuh negatif. Data BI per Juni 2021 menunjukkan penyaluran pinjaman dalam bentuk kredit modal kerja ke pertanian tumbuh 11,7%. Bandingkan dengan kredit modal kerja ke sektor pertambangan yang minus 12% pada saat harga komoditas tambang booming. Resilience atau ketahanan sektor pertanian dus harus diacungi jempol.
Perubahan permanen yang muncul lainnya adalah pola masyarakat menggunakan teknologi informasi dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelum pandemi. Terjadi kenaikan transaksi e-commerce hingga Rp253 triliun pada 2020 dan diperkirakan menurut BI menjadi Rp337 triliun tahun ini. Penyaluran pinjaman lewat fintech mencapai Rp181 triliun per Maret 2021. Di bidang pendidikan dan kesehatan, transformasi digital mampu menciptakan sarana belajar online hingga konsultasi dokter tanpa tatap muka yang dibutuhkan selama pandemi.
Ada dua pertanyaan penting. Bagaimana menyikapi perubahan tersebut dan apakah perubahan tersebut sifatnya permanen? Penyikapan terhadap perubahan tentu membutuhkan strategi yang sinkron. Artinya, satu sektor tumbuh sangat tinggi, perlu dikorelasikan dengan sektorsektor usaha lain yang menghasilkan dampak terhadap serapan kerja dan output ekonomi. Masalah ini sudah lama didiskusikan oleh beragam pakar ekonomi, interkonektivitas antarsektor adalah hal yang penting. Misalnya sektor e-commerce naik pesat, tapi tidak dibarengi dengan naiknya output industri, produk impornya melonjak. Atau fenomena kenaikan penyaluran pinjaman online dimanfaatkan lebih banyak untuk aktivitas konsumsi.
Keterkaitan antarsektor pertanian dan digital pun relatif masih rendah. Masalah utama di sektor pertanian adalah rantai pasok yang panjang. Beras yang dihasilkan petani sampai ke tangan konsumen bisa melewati 5-7 distributor yang akibatnya petani hanya merasakan sedikit nilai tambah (surplus value).
Kedua, pengangguran di sektor industri cenderung kembali ke desa-desa dan menjadi tenaga tambahan di sektor pertanian meski sementara. Ini menunjukkan sektor pertanian menjadi safety net (jaring pengaman) naiknya pengangguran akibat pandemi. Jika ada istilah urbanisasi, maka saat ini justru sebaliknya terjadi ruralisasi.
Ketiga , sektor pertanian mampu berkontribusi positif terhadap penyaluran kredit perbankan pada saat sektor lain tumbuh negatif. Data BI per Juni 2021 menunjukkan penyaluran pinjaman dalam bentuk kredit modal kerja ke pertanian tumbuh 11,7%. Bandingkan dengan kredit modal kerja ke sektor pertambangan yang minus 12% pada saat harga komoditas tambang booming. Resilience atau ketahanan sektor pertanian dus harus diacungi jempol.
Perubahan permanen yang muncul lainnya adalah pola masyarakat menggunakan teknologi informasi dengan kecepatan yang belum pernah terlihat sebelum pandemi. Terjadi kenaikan transaksi e-commerce hingga Rp253 triliun pada 2020 dan diperkirakan menurut BI menjadi Rp337 triliun tahun ini. Penyaluran pinjaman lewat fintech mencapai Rp181 triliun per Maret 2021. Di bidang pendidikan dan kesehatan, transformasi digital mampu menciptakan sarana belajar online hingga konsultasi dokter tanpa tatap muka yang dibutuhkan selama pandemi.
Ada dua pertanyaan penting. Bagaimana menyikapi perubahan tersebut dan apakah perubahan tersebut sifatnya permanen? Penyikapan terhadap perubahan tentu membutuhkan strategi yang sinkron. Artinya, satu sektor tumbuh sangat tinggi, perlu dikorelasikan dengan sektorsektor usaha lain yang menghasilkan dampak terhadap serapan kerja dan output ekonomi. Masalah ini sudah lama didiskusikan oleh beragam pakar ekonomi, interkonektivitas antarsektor adalah hal yang penting. Misalnya sektor e-commerce naik pesat, tapi tidak dibarengi dengan naiknya output industri, produk impornya melonjak. Atau fenomena kenaikan penyaluran pinjaman online dimanfaatkan lebih banyak untuk aktivitas konsumsi.
Keterkaitan antarsektor pertanian dan digital pun relatif masih rendah. Masalah utama di sektor pertanian adalah rantai pasok yang panjang. Beras yang dihasilkan petani sampai ke tangan konsumen bisa melewati 5-7 distributor yang akibatnya petani hanya merasakan sedikit nilai tambah (surplus value).
Lihat Juga :