Antisipasi Varian Baru, Tingkatkan Jumlah WGS
Rabu, 28 Juli 2021 - 15:26 WIB
loading...
A
A
A
Walau sekarang kita banyak membahas dampak varian Delta di Tanah Air tapi kita tentu perlu waspada juga dengan kemungkinan varian baru lain, baik yang bermula dari luar negeri atau yang bukan tidak mungkin terbentuk di negara kita karena tingginya angka penularan di masyarakat. Kita tahu India misalnya, tingginya kasus di negara itu beberapa waktu yang lalu juga berjalan seiring ditemukannya varian baru yang bermula di sana, yang mula-mulanya diberi nama B.1.617. Belakangan diketahui bahwa ada 3 jenis lagi dari varian ini, ada B.1.617.1 yang oleh WHO disebut varian Kappa, ada B.1.617.2 yang kini dikenal luas sebagai varian Delta dan ada juga B.1.617.3 yang masih dalam penelitian selanjutnya.
Jelasnya, kalau penularan di masyarakat sedang tinggi, seperti sekarang sedang terjadi di negara kita, maka virus akan terus berreplikasi dengan jumlah yang banyak, dan bukan tidak mungkin waktu replikasi akan terjadi perubahan/mutasi bagian virus dan kemudian terbentuk varian baru.
Secara kesehatan masyarakat dan juga untuk menentukan kebijakan maka data yang cukup luas tentang varian Delta (atau varian lain) di negara kita tentu perlu kita ketahui. Beberapa teman yang keluarganya wafat juga bertanya apakah kira-kira mereka tertular varian Delta atau bukan, untuk mereka lebih berhati-hati. Jadi, peningkatan jumlah pemeriksaan “Whole Genome Sequencing – WGS” menjadi amat diperlukan untuk kita mengetahui secara lebih tepat apa saja yang ada di lapangan.
Jumlah WGS
Sekarang Indonesia sudah --atau baru--memeriksa sekitar 3.000 sampel WGS. Data per 27 Juli 2021 dari GISAID -yang mengumpulkan semua sekuensing virus Covid-19 di dunia- menyebutkan bahwa sekuens yang dikirim dari Indonesia adalah sebanyak 3.614 genom dari hampir 2,5 juta genom yang dimasukkan ke GISAID. Adapun Filipina sudah mengirimkan 5.305 genom, Singapura 4.063 genom dan India bahkan sudah memeriksa dan mengirimkan 35.868 genom. Tentu kita tidak perlu membandingkannya dengan Amerika Serikat yang sudah mengirimkan 652.172 genom, atau Inggris yang dengan 593.155 genom. Kalau kita dapat --dan baiknya begitu--meningkatkan jumlah pemeriksaan WGS maka bukan tidak mungkin akan juga ditemukan varian baru selain Delta. Kita tahu di India sudah beredar juga varian Delta plus yang antara lain ternyata tidak dapat diobati dengan antibodi monoklonal seperti Casirivimab dan Imdevimab sehubungan adanya mutasi K417N. Kalau Delta plus ada juga di Indonesia maka bukan tidak mungkin regimen pengobatan di rumah sakit perlu disesuaikan.
Juga di Australia dilaporkan varian Kappa yang bersama varian Delta diduga berperan pada penularan yang terjadi hanya karena berpapasan yang terjadi pada dua orang yang sedang berbelanja di “Westfield Bondi Junction”. Memang penularan secara berpapasan yang disebut fleeting contact ini masih terus diteliti lebih lanjut tentang seberapa besar masalahnya, tetapi setidaknya dapat disebut bahwa walaupun kemungkinannya kecil tetapi memang mungkin terjadi, low risk but not no risk.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah pada 15 Juli 2021 mengatakan bahwa varian Delta ternyata dapat saja menular di udara bahkan dalam waktu singkat mungkin dalam 5 sampai 15 detik saja. Juga disampaikan bahwa angka penularan infeksi juga makin besar. Angka reproduksi virus dalam bentuk Ro atau Rt yang biasanya berkisar antara 2,5 dan 3.0 maka pada varian Delta dapat meningkat sampai 5,0 dan 8,0. Disebutkan bahwa kalau ada 100 orang terinfeksi varian Delta maka virus kemudian dapat menyebar ke 500 sampai 800 orang lainnya.
Jelasnya, kalau penularan di masyarakat sedang tinggi, seperti sekarang sedang terjadi di negara kita, maka virus akan terus berreplikasi dengan jumlah yang banyak, dan bukan tidak mungkin waktu replikasi akan terjadi perubahan/mutasi bagian virus dan kemudian terbentuk varian baru.
Secara kesehatan masyarakat dan juga untuk menentukan kebijakan maka data yang cukup luas tentang varian Delta (atau varian lain) di negara kita tentu perlu kita ketahui. Beberapa teman yang keluarganya wafat juga bertanya apakah kira-kira mereka tertular varian Delta atau bukan, untuk mereka lebih berhati-hati. Jadi, peningkatan jumlah pemeriksaan “Whole Genome Sequencing – WGS” menjadi amat diperlukan untuk kita mengetahui secara lebih tepat apa saja yang ada di lapangan.
Jumlah WGS
Sekarang Indonesia sudah --atau baru--memeriksa sekitar 3.000 sampel WGS. Data per 27 Juli 2021 dari GISAID -yang mengumpulkan semua sekuensing virus Covid-19 di dunia- menyebutkan bahwa sekuens yang dikirim dari Indonesia adalah sebanyak 3.614 genom dari hampir 2,5 juta genom yang dimasukkan ke GISAID. Adapun Filipina sudah mengirimkan 5.305 genom, Singapura 4.063 genom dan India bahkan sudah memeriksa dan mengirimkan 35.868 genom. Tentu kita tidak perlu membandingkannya dengan Amerika Serikat yang sudah mengirimkan 652.172 genom, atau Inggris yang dengan 593.155 genom. Kalau kita dapat --dan baiknya begitu--meningkatkan jumlah pemeriksaan WGS maka bukan tidak mungkin akan juga ditemukan varian baru selain Delta. Kita tahu di India sudah beredar juga varian Delta plus yang antara lain ternyata tidak dapat diobati dengan antibodi monoklonal seperti Casirivimab dan Imdevimab sehubungan adanya mutasi K417N. Kalau Delta plus ada juga di Indonesia maka bukan tidak mungkin regimen pengobatan di rumah sakit perlu disesuaikan.
Juga di Australia dilaporkan varian Kappa yang bersama varian Delta diduga berperan pada penularan yang terjadi hanya karena berpapasan yang terjadi pada dua orang yang sedang berbelanja di “Westfield Bondi Junction”. Memang penularan secara berpapasan yang disebut fleeting contact ini masih terus diteliti lebih lanjut tentang seberapa besar masalahnya, tetapi setidaknya dapat disebut bahwa walaupun kemungkinannya kecil tetapi memang mungkin terjadi, low risk but not no risk.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Kesehatan Malaysia Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah pada 15 Juli 2021 mengatakan bahwa varian Delta ternyata dapat saja menular di udara bahkan dalam waktu singkat mungkin dalam 5 sampai 15 detik saja. Juga disampaikan bahwa angka penularan infeksi juga makin besar. Angka reproduksi virus dalam bentuk Ro atau Rt yang biasanya berkisar antara 2,5 dan 3.0 maka pada varian Delta dapat meningkat sampai 5,0 dan 8,0. Disebutkan bahwa kalau ada 100 orang terinfeksi varian Delta maka virus kemudian dapat menyebar ke 500 sampai 800 orang lainnya.
Lihat Juga :