Sumbang Plasma, Selamatkan Jiwa Sesama
Senin, 19 Juli 2021 - 05:27 WIB
loading...
A
A
A
Saran lainnya, Dedi juga mendorong agar pemerintah juga memaksimalkan peran puskesmas hingga kepala desa atau lurah untuk aktif memobilisasi penyintas Covid-19 untuk mendonor. Kalau sudah ada data, nomor kontak, alamat rumah, itu akan memudahkan untuk memobilisasi pendonor.
“Kalau nggak perlu ketemu, kan tinggal kontak aja. Itu sangat mungkin untuk dikerjakan. Jangan semua beban diserahkan ke PMI, ya mabok lah! Diskrining dululah, jadi yang masuk ke PMI betul-betul sesuai harapan. Artinya, puskesmas dan lurah/desa juga harus lebih proaktif,” pungkasnya.
Pro Kontra Plasma Konvalesen
Lantas, apa faktor penentu keberhasilan terapi plasma konvalesen yang dilakukan terhadap pasien? Menjawab ini, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie menjelaskan bahwa metode terapi plasma konvaselen memang masih pro kontra.
Dia mengakui efektivitas terapi plasma belum selesai penelitiiannya. Saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sebelum banyak masyarakat memburu plasma konvalesen, kata dia, PMI tadinya mengadakannya hanya untuk kepentingan penelitian.
Dijelaskan pula, belum ada prosedur yang pasti mengenai berapa banyak jumlah plasma yamg harus diberikan kepada pasien untuk dapat sembuh. "Semua masih coba-coba, ada yang mencoba memberi dua (kantong) ada yang tiga, empat, bahkan sampai delapan, karena memang belum ada standar," kata lulusan magister ilmu biomedis ini.
Kategori pasien yang dinilai tepat menerima terapi plasma konvalesen pun masih perdebatan. Niken mengatakan, kalau merujuk kasus di luar negeri, ada yang mengatakan metode terapi plasma konvalesen tidak lagi efektif bagi pasien gejala berat dan kritis.
Malah dianjurkan plasma lebih baik diberikan kepada pasien gejala sedang yang menuju berat untuk mencegahnya mengalami perburukan ke berat atau kritis. Waktu pemberiannya pun ada, yakni pada 72 pertama sejak pasien bergejala.
"Dan, diberikan hanya kepada pasien tertemtu saja, salah satunya yang memiliki komorbid. Jangan karena posiitf Covid-19 lantas minta plasma. Karena ada banyak risikonya juga transfusi plasma itu," tandasnya.
Sekretaris Jendral (Sekjen) PMI Sudirman Said mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat antrean untuk mendapatkan donor plasma konvalesen untuk dilakukan TPK sangat panjang. Jika biasanya terbanyak hanya 1.000 kini sudah mencapai 5.000 orang.
Antrean pasien mendapatkan TPK juga terus membesar karena beberapa terapi yang sudah dilakukan ternyata berhasil. .
"Jumlah penyintas Covid-19 ada 2,1 juta jika semuanya ingin donor kemungkinan yang memenuhi syarat tidak sampai 5 persen. Jadi by nature, supply akan sulit, sementara permintaanya meningkat," ujarnya.
Sudirman memaparkan, sejauh ini alat untuk donor plasma yang berjumlah 81sudah cukup dan 42 tersebar Unit Donor Darah (UDD) di seluruh Indonesia. Namun, saat ini muncul persoalan karena kesulitan pendoronor. Saat ini dalam sehariu jumlah pendonor sehari masih berkisar 600 pendonor. Idealnya pendonor mencapai 1.000 orang per hari.
Mengapa sulit? Menurut dia, donor sifatnya sukarela dan siapapun juga tidak bisa memaksa. Di sisi lain mereka yang sembuh banyak yang memilih tidak keluar rumah atau melihat situasi kondisi saat ini.
Dia kemudia menuturkan, penyintas yang boleh mendonorkan plasma adalah mereka yang terinfeksi Covid-19 stadium menengah dan berat. Pasien demikian diharapkan memiliki antibodi yang bisa dimanfaatkan untuk plasma.Namun di sisi lain, pasien Covid-19 yang menerima plasma konvalesen adalah yang levelnya rendah dan menengah. Mereka yang sudah sangat akut itu tidak akan efektif.
‘’Karena itu, jika ada pandangan pasien sedang kristis mari cari plasma itu sebetulnya usaha yang tidak tepat. Informasi ini diharapkan diketahui keluarga pasien, dan antrian di PMI juga sudah ribuan sehingga diperlukan kesabaran,’’ ujar dia.
“Kalau nggak perlu ketemu, kan tinggal kontak aja. Itu sangat mungkin untuk dikerjakan. Jangan semua beban diserahkan ke PMI, ya mabok lah! Diskrining dululah, jadi yang masuk ke PMI betul-betul sesuai harapan. Artinya, puskesmas dan lurah/desa juga harus lebih proaktif,” pungkasnya.
Pro Kontra Plasma Konvalesen
Lantas, apa faktor penentu keberhasilan terapi plasma konvalesen yang dilakukan terhadap pasien? Menjawab ini, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie menjelaskan bahwa metode terapi plasma konvaselen memang masih pro kontra.
Dia mengakui efektivitas terapi plasma belum selesai penelitiiannya. Saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sebelum banyak masyarakat memburu plasma konvalesen, kata dia, PMI tadinya mengadakannya hanya untuk kepentingan penelitian.
Dijelaskan pula, belum ada prosedur yang pasti mengenai berapa banyak jumlah plasma yamg harus diberikan kepada pasien untuk dapat sembuh. "Semua masih coba-coba, ada yang mencoba memberi dua (kantong) ada yang tiga, empat, bahkan sampai delapan, karena memang belum ada standar," kata lulusan magister ilmu biomedis ini.
Kategori pasien yang dinilai tepat menerima terapi plasma konvalesen pun masih perdebatan. Niken mengatakan, kalau merujuk kasus di luar negeri, ada yang mengatakan metode terapi plasma konvalesen tidak lagi efektif bagi pasien gejala berat dan kritis.
Malah dianjurkan plasma lebih baik diberikan kepada pasien gejala sedang yang menuju berat untuk mencegahnya mengalami perburukan ke berat atau kritis. Waktu pemberiannya pun ada, yakni pada 72 pertama sejak pasien bergejala.
"Dan, diberikan hanya kepada pasien tertemtu saja, salah satunya yang memiliki komorbid. Jangan karena posiitf Covid-19 lantas minta plasma. Karena ada banyak risikonya juga transfusi plasma itu," tandasnya.
Sekretaris Jendral (Sekjen) PMI Sudirman Said mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat antrean untuk mendapatkan donor plasma konvalesen untuk dilakukan TPK sangat panjang. Jika biasanya terbanyak hanya 1.000 kini sudah mencapai 5.000 orang.
Antrean pasien mendapatkan TPK juga terus membesar karena beberapa terapi yang sudah dilakukan ternyata berhasil. .
"Jumlah penyintas Covid-19 ada 2,1 juta jika semuanya ingin donor kemungkinan yang memenuhi syarat tidak sampai 5 persen. Jadi by nature, supply akan sulit, sementara permintaanya meningkat," ujarnya.
Sudirman memaparkan, sejauh ini alat untuk donor plasma yang berjumlah 81sudah cukup dan 42 tersebar Unit Donor Darah (UDD) di seluruh Indonesia. Namun, saat ini muncul persoalan karena kesulitan pendoronor. Saat ini dalam sehariu jumlah pendonor sehari masih berkisar 600 pendonor. Idealnya pendonor mencapai 1.000 orang per hari.
Mengapa sulit? Menurut dia, donor sifatnya sukarela dan siapapun juga tidak bisa memaksa. Di sisi lain mereka yang sembuh banyak yang memilih tidak keluar rumah atau melihat situasi kondisi saat ini.
Dia kemudia menuturkan, penyintas yang boleh mendonorkan plasma adalah mereka yang terinfeksi Covid-19 stadium menengah dan berat. Pasien demikian diharapkan memiliki antibodi yang bisa dimanfaatkan untuk plasma.Namun di sisi lain, pasien Covid-19 yang menerima plasma konvalesen adalah yang levelnya rendah dan menengah. Mereka yang sudah sangat akut itu tidak akan efektif.
‘’Karena itu, jika ada pandangan pasien sedang kristis mari cari plasma itu sebetulnya usaha yang tidak tepat. Informasi ini diharapkan diketahui keluarga pasien, dan antrian di PMI juga sudah ribuan sehingga diperlukan kesabaran,’’ ujar dia.
(ynt)
Lihat Juga :