Sumbang Plasma, Selamatkan Jiwa Sesama
Senin, 19 Juli 2021 - 05:27 WIB
loading...
Donor plasma konvalesen menjadi salsah satu terapi untuk menyembuhkan pasien Covid-19. FOTO/WIN CAHYONO
A
A
A
JAKARTA - "Di masa-masa sulit ini sebisa mungkin kita bisa berguna buat yang lain. Jika punya kemampuan membantu orang, misalnya melalui donor plasma , mengapa tidak, saya kira itu okeuntuk kita lakukan saat ini."
Kalimat tersebut diungkapkan Felix, 31 tahun, salah seorang penyintas Covid-19 . Warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini mengungkap alasan ketika ditanya mengapa ia tergerak melakukan donor plasma konvalesen.
Dia menyumbangkan plasma darahnya kepada seorang pasien Covid-19 yang saat ini tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Felix pmendapatkan info ada pasien Covid-19 yang membutuhkan plasma konvalesen dengan jenis darah O dari salah satu teman SMA-nya di grup WhatsApp.
Baca juga: PMI: Donor Plasma Konvalesen Efektif untuk Gejala Ringan-Sedang Bukan Akut
"Saya lalu datang ke PMI DKI di Jalan Kramat Raya,di sana bertemu dengan istri pasien yang membutuhkan plasma saya. Senang akhirnya bisa membantu," ujar pria yang sembuh dari Covid-19 pada April 2021 ini, saat dihubungi kemarin.
Felix hanya satu dari sekian banyak penyintas Covid-19 yang tergerak menyumbangkan plasma darahnya untuk kesembuhan orang lain. Kebutuhan plasma konvalesen memang meningkat tajam dalam sebulan terakhir seiring terus melonjaknya jumlah penderita Covid-19. Permintaan banyak datang dari masyarakat yang berdomisili di Jabodetabek, salah satu kawasan episentrum Covid-19 di Tanah Air.
Donor plasma konvalesen merupakan salah satu metode imunisasi pasif yang dilakukan dengan cara memberikan plasma darah orang yang telah sembuh dari Covid-19, kepada pasien Covid-19 yang sedang dirawat. Plasma dari penyintas yang memiliki antibodi tersebut diyakini banyak orang efektif dan ampuh membantu pasien untuk sembuh. Terapi plasma konvalesen (TPK) umumnya diberikan kepada pasien komorbid atau yang bergejala berat serta kritis atas rekomendasi dari dokter.
Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie mengakui terjadi peningkatan permintaan darah di PMI DKI Jakarta dalam beberapa pekan terakhir, yakni sejak gelombang kedua pandemi melanda pada sekitar awal Juni 2021. Sebelumnya jumlah pendonor setiap harinya hanya 10-15 orang saja, dan plasma yang dikirim ke rumah sakit hanya sekitar 30 kantong. Namun, terjadi lonjakan permintaan, hingga kebutuhan saat ini mencapai ratusan kantong tiap hari.
Baca juga: Sembuh dari COVID-19, Personel Polsek Cilongok Ramai-ramai Donor Plasma Konvalesen
"Sekarang pasien yang antre untuk mendapatkan plasma konvalesen memang bertambah panjqng, sudah mencapai 700 orang," ujarnya kepada KORAN SINDO, Sabtu (17/7).
Lonjakan permintaan yang tiba-tiba itu membuat stok plasma darah di PMI DKI habis terpakai. Saat ini kebanyakan pendonor yang datang pun sudah punya nama tujuan pasiennya. Kondisi ini membuat pasien yang tidak punya keluarga atau teman untuk berdonor akhirnya harus menunggu lebih lama bagi datangnya pendonor sukarela.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat sejak 3 Juli juga membuat pendonor sukarela makin sedikit jumlahnya karena ruang geraknya terbatas untuk bisa datang ke PMI."Plasma yang bebas tidak ada lagi stok, yang ada sekarang semua darah sudah ada nama masing-masing, mayoritas seperti itu. Kami mohon maaf karena memang kondisinya seperti itu," ujarnya.
Di masa lonjakan penderita Covid-19 ini PMI terus berupaya memenuhi permintaan plasma. Saat ini dioperasikan enam unit mesin pengolah plasma dengan metode apheresis. Di masa awal pandemi mesin masih dua unit. PMI juga masih menyediakan metode konvensional untuk pendonor dengan kondisi tertentu.
Dengan begitu plasma yang bisa disalurkan ke rumah sakit sudah bisa mencapai ratusan kantong per hari. "Total sehari bisa 80 pendonor yang kita tes, kita bisa distribusikan sekitar 120 kantong dalam sehari ke sejumlah rumah sakit," ujarnya.
Menurut Niken, permintaan ke PMI tidak hanya datang dari warga Jakarta saja, melainkan juga warga Bodetabek, bahkan luar Jawa. "Biasanya yang di luar Jawa itu punya keluarga di Jakarta yang mau mendonor, mereka lalu datang ke PMI DKI, itu juga kita layani," ujarnya.
Namun, jumlah plasma konvaselen di PMI DKI diharapkan pelan-pelan mulai meningkat karena ada sejumlah instansi yang siap berdonor. Niken mengatakan, PMI memang mengajak instansi, organisasi sosial, perusahaan swasta, perbankan, dan komunitas alumni, yang memiliki anggota atau karyawan penyintas Covid-19 agar melakukan donor plasma secara massal. Plasma konvaselen tersebut disiapkan sebagai plasma yang bebas atau tidak menyertakan nama pasien yang dituju.
"Kami siapkan untuk plasma yang bebas, kami sedikit-sedikit mulai layani plasma bebas ini, jadi pelan-pelan mulai terurai antreannya," jelasnya.
Niken berharap agar lebih banyak lagi penyintas Covid-19 yang masa sembuhnya belum lewat tiga bulan yang bersedia berdonor plasma. Tiga bulan jadi batas waktu karena jangka waktu itu seorang penyintas dianggap masih memiliki antibodi yang bagus untuk disumbangkan ke orang lain.
Dia juga mengingatkan bahwa antibodi seorang penyintas tidak lantas habis karena pengaruh dia telah melakukan donor plasma. Malah dengan berdonor, antibodi seseorang akan terpelihara dengan baik. Hal itu, kata dia, sudah dibuktikan oleh sebuah peneltian.
"Layaknya kita bersedekah, banyak memberi lebih banyak lagi kita akan menerima . Jadi, daripada antibodinya hilang mubazir alangkah lebih baik jika disumbangkan ke yang lain," paparnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Dedi Supratman menyebut salah satu kunci keberhasilan mengatasi pandemi Covid-19 yaitu pola manajemen yang berjalan dengan baik. Jika sebaliknya, maka penanganan bisa gagal. Kondisi itu secara umum juga mencakup persoalan keterbatasan stok donor plasma konvalesen. Padahal, cairan plasma tersebut sangat menunjang untuk terapi pemulihan pasien Covid-19 yang bergejala ringan dan sedang.
Maraknya masyarakat yang membutuhkan donor hingga mengirim edaran lewat media sosial atau jejaring Whatsapp harus menjadi pelajaran bahwa manajemen penanganan pandemi di Indonesia masih lemah. Menurut dia, kelemahan itu turut menyebabkan kegagalan mengatasi pandemi sampai saat ini.
“Banyak manajemen penanganan pandemi kita yang tidak berjalan dengan baik. Utamanya, masalah integrasi data. Termasuk persoalan plasma konvalesen ini. Dari info dari beberapa teman PMI, baru 5-10 persen saja yang donor plasma. Itu pun harus difilter lagi dan lolos sekitar 1-2 persen. Jadi, wajar kalau kesusahan mencari donor plasma konvalesen ini,” ungkap Dedi kepada Koran SINDO, Minggu (18/7).
Baca juga: Kasus Covid-19 Meningkat, Penyintas Diajak Donor Plasma konvalesen
Jika diintegrasikan dengan data 2 juta penyintas Covid-19 yang sembuh hingga saat ini, sudah semestinya kebutuhan plasma tersebut bisa dioptimalkan. Selain manajemen yang tak terkelola baik, Dedi menduga persoalan tersebut disinyalir karena belum banyak masyarakat yang paham tentang plasma konvalesen dan seberapa besar manfaatnya bagi pasien Covid-19.
“Ditambah pemerintah nggak punya data. Mau kejar kemana mereka. Pejabat cari plasma konvalesen aja susah, gimana kalau masyarakat? Palingan mereka andalin saudara familinya. Kalau ada, kalau enggak, mau apa coba,” celetuknya.
Ia pun meminta pemerintah harus tegas dan dapat segera memperbaiki sistem manajemen data Covid-19 sehingga terintegrasi dengan baik antara fasilitas kesehatan masyarakat seperti puskesmas, rumah sakit, hingga PMI. Menurut dia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Satgas Penanganan Covid-19 memiliki peran paling strategis dalam mengurus integrasi data ini secara terpadu.
“Mereka bisa menghubungkan antar kementerian/lembaga. Apalagi Kemenkes bisa mengintegrasikan antara jenjang pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas, rumah sakit di daerah, sampai ke rumah sakit pusat. Itu diberdayakan dong, ini kan sangat mungkin dikerjakan. Persoalan data diberesin, fasilitas kesehatan disiapkan, dan masyarakatnya dimobilisasi melalui puskesmas,” ujar Dedi memberi masukan.
Dia kembali menegaskan bahwa semua persoalan tetap tergantung dari kemauan politik (political will) pemerintah. Jika sudah disepakati bahwa plasma konvalesen sangat penting dan bermanfaat, maka sebaiknya dikelola dengan optimal.
“Saya lihat masalah utamanya itu balik lagi ke leadership. Untuk urusan teknis, harus ada manajernya. Untuk urusan kesehatan ya tetap di Kemenkes. Kalaupun satgas Covid, kelemahannya adalah nggak punya jejaring cukup kuat ke fasilitas kesehatan. Yang paling kuat atau superbody ya Kemenkes,” tandasnya.
Saran lainnya, Dedi juga mendorong agar pemerintah juga memaksimalkan peran puskesmas hingga kepala desa atau lurah untuk aktif memobilisasi penyintas Covid-19 untuk mendonor. Kalau sudah ada data, nomor kontak, alamat rumah, itu akan memudahkan untuk memobilisasi pendonor.
“Kalau nggak perlu ketemu, kan tinggal kontak aja. Itu sangat mungkin untuk dikerjakan. Jangan semua beban diserahkan ke PMI, ya mabok lah! Diskrining dululah, jadi yang masuk ke PMI betul-betul sesuai harapan. Artinya, puskesmas dan lurah/desa juga harus lebih proaktif,” pungkasnya.
Pro Kontra Plasma Konvalesen
Lantas, apa faktor penentu keberhasilan terapi plasma konvalesen yang dilakukan terhadap pasien? Menjawab ini, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie menjelaskan bahwa metode terapi plasma konvaselen memang masih pro kontra.
Dia mengakui efektivitas terapi plasma belum selesai penelitiiannya. Saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sebelum banyak masyarakat memburu plasma konvalesen, kata dia, PMI tadinya mengadakannya hanya untuk kepentingan penelitian.
Dijelaskan pula, belum ada prosedur yang pasti mengenai berapa banyak jumlah plasma yamg harus diberikan kepada pasien untuk dapat sembuh. "Semua masih coba-coba, ada yang mencoba memberi dua (kantong) ada yang tiga, empat, bahkan sampai delapan, karena memang belum ada standar," kata lulusan magister ilmu biomedis ini.
Kategori pasien yang dinilai tepat menerima terapi plasma konvalesen pun masih perdebatan. Niken mengatakan, kalau merujuk kasus di luar negeri, ada yang mengatakan metode terapi plasma konvalesen tidak lagi efektif bagi pasien gejala berat dan kritis.
Malah dianjurkan plasma lebih baik diberikan kepada pasien gejala sedang yang menuju berat untuk mencegahnya mengalami perburukan ke berat atau kritis. Waktu pemberiannya pun ada, yakni pada 72 pertama sejak pasien bergejala.
"Dan, diberikan hanya kepada pasien tertemtu saja, salah satunya yang memiliki komorbid. Jangan karena posiitf Covid-19 lantas minta plasma. Karena ada banyak risikonya juga transfusi plasma itu," tandasnya.
Sekretaris Jendral (Sekjen) PMI Sudirman Said mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat antrean untuk mendapatkan donor plasma konvalesen untuk dilakukan TPK sangat panjang. Jika biasanya terbanyak hanya 1.000 kini sudah mencapai 5.000 orang.
Antrean pasien mendapatkan TPK juga terus membesar karena beberapa terapi yang sudah dilakukan ternyata berhasil. .
"Jumlah penyintas Covid-19 ada 2,1 juta jika semuanya ingin donor kemungkinan yang memenuhi syarat tidak sampai 5 persen. Jadi by nature, supply akan sulit, sementara permintaanya meningkat," ujarnya.
Sudirman memaparkan, sejauh ini alat untuk donor plasma yang berjumlah 81sudah cukup dan 42 tersebar Unit Donor Darah (UDD) di seluruh Indonesia. Namun, saat ini muncul persoalan karena kesulitan pendoronor. Saat ini dalam sehariu jumlah pendonor sehari masih berkisar 600 pendonor. Idealnya pendonor mencapai 1.000 orang per hari.
Mengapa sulit? Menurut dia, donor sifatnya sukarela dan siapapun juga tidak bisa memaksa. Di sisi lain mereka yang sembuh banyak yang memilih tidak keluar rumah atau melihat situasi kondisi saat ini.
Dia kemudia menuturkan, penyintas yang boleh mendonorkan plasma adalah mereka yang terinfeksi Covid-19 stadium menengah dan berat. Pasien demikian diharapkan memiliki antibodi yang bisa dimanfaatkan untuk plasma.Namun di sisi lain, pasien Covid-19 yang menerima plasma konvalesen adalah yang levelnya rendah dan menengah. Mereka yang sudah sangat akut itu tidak akan efektif.
‘’Karena itu, jika ada pandangan pasien sedang kristis mari cari plasma itu sebetulnya usaha yang tidak tepat. Informasi ini diharapkan diketahui keluarga pasien, dan antrian di PMI juga sudah ribuan sehingga diperlukan kesabaran,’’ ujar dia.
Kalimat tersebut diungkapkan Felix, 31 tahun, salah seorang penyintas Covid-19 . Warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini mengungkap alasan ketika ditanya mengapa ia tergerak melakukan donor plasma konvalesen.
Dia menyumbangkan plasma darahnya kepada seorang pasien Covid-19 yang saat ini tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Felix pmendapatkan info ada pasien Covid-19 yang membutuhkan plasma konvalesen dengan jenis darah O dari salah satu teman SMA-nya di grup WhatsApp.
Baca juga: PMI: Donor Plasma Konvalesen Efektif untuk Gejala Ringan-Sedang Bukan Akut
"Saya lalu datang ke PMI DKI di Jalan Kramat Raya,di sana bertemu dengan istri pasien yang membutuhkan plasma saya. Senang akhirnya bisa membantu," ujar pria yang sembuh dari Covid-19 pada April 2021 ini, saat dihubungi kemarin.
Felix hanya satu dari sekian banyak penyintas Covid-19 yang tergerak menyumbangkan plasma darahnya untuk kesembuhan orang lain. Kebutuhan plasma konvalesen memang meningkat tajam dalam sebulan terakhir seiring terus melonjaknya jumlah penderita Covid-19. Permintaan banyak datang dari masyarakat yang berdomisili di Jabodetabek, salah satu kawasan episentrum Covid-19 di Tanah Air.
Donor plasma konvalesen merupakan salah satu metode imunisasi pasif yang dilakukan dengan cara memberikan plasma darah orang yang telah sembuh dari Covid-19, kepada pasien Covid-19 yang sedang dirawat. Plasma dari penyintas yang memiliki antibodi tersebut diyakini banyak orang efektif dan ampuh membantu pasien untuk sembuh. Terapi plasma konvalesen (TPK) umumnya diberikan kepada pasien komorbid atau yang bergejala berat serta kritis atas rekomendasi dari dokter.
Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie mengakui terjadi peningkatan permintaan darah di PMI DKI Jakarta dalam beberapa pekan terakhir, yakni sejak gelombang kedua pandemi melanda pada sekitar awal Juni 2021. Sebelumnya jumlah pendonor setiap harinya hanya 10-15 orang saja, dan plasma yang dikirim ke rumah sakit hanya sekitar 30 kantong. Namun, terjadi lonjakan permintaan, hingga kebutuhan saat ini mencapai ratusan kantong tiap hari.
Baca juga: Sembuh dari COVID-19, Personel Polsek Cilongok Ramai-ramai Donor Plasma Konvalesen
"Sekarang pasien yang antre untuk mendapatkan plasma konvalesen memang bertambah panjqng, sudah mencapai 700 orang," ujarnya kepada KORAN SINDO, Sabtu (17/7).
Lonjakan permintaan yang tiba-tiba itu membuat stok plasma darah di PMI DKI habis terpakai. Saat ini kebanyakan pendonor yang datang pun sudah punya nama tujuan pasiennya. Kondisi ini membuat pasien yang tidak punya keluarga atau teman untuk berdonor akhirnya harus menunggu lebih lama bagi datangnya pendonor sukarela.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat sejak 3 Juli juga membuat pendonor sukarela makin sedikit jumlahnya karena ruang geraknya terbatas untuk bisa datang ke PMI."Plasma yang bebas tidak ada lagi stok, yang ada sekarang semua darah sudah ada nama masing-masing, mayoritas seperti itu. Kami mohon maaf karena memang kondisinya seperti itu," ujarnya.
Di masa lonjakan penderita Covid-19 ini PMI terus berupaya memenuhi permintaan plasma. Saat ini dioperasikan enam unit mesin pengolah plasma dengan metode apheresis. Di masa awal pandemi mesin masih dua unit. PMI juga masih menyediakan metode konvensional untuk pendonor dengan kondisi tertentu.
Dengan begitu plasma yang bisa disalurkan ke rumah sakit sudah bisa mencapai ratusan kantong per hari. "Total sehari bisa 80 pendonor yang kita tes, kita bisa distribusikan sekitar 120 kantong dalam sehari ke sejumlah rumah sakit," ujarnya.
Menurut Niken, permintaan ke PMI tidak hanya datang dari warga Jakarta saja, melainkan juga warga Bodetabek, bahkan luar Jawa. "Biasanya yang di luar Jawa itu punya keluarga di Jakarta yang mau mendonor, mereka lalu datang ke PMI DKI, itu juga kita layani," ujarnya.
Namun, jumlah plasma konvaselen di PMI DKI diharapkan pelan-pelan mulai meningkat karena ada sejumlah instansi yang siap berdonor. Niken mengatakan, PMI memang mengajak instansi, organisasi sosial, perusahaan swasta, perbankan, dan komunitas alumni, yang memiliki anggota atau karyawan penyintas Covid-19 agar melakukan donor plasma secara massal. Plasma konvaselen tersebut disiapkan sebagai plasma yang bebas atau tidak menyertakan nama pasien yang dituju.
"Kami siapkan untuk plasma yang bebas, kami sedikit-sedikit mulai layani plasma bebas ini, jadi pelan-pelan mulai terurai antreannya," jelasnya.
Niken berharap agar lebih banyak lagi penyintas Covid-19 yang masa sembuhnya belum lewat tiga bulan yang bersedia berdonor plasma. Tiga bulan jadi batas waktu karena jangka waktu itu seorang penyintas dianggap masih memiliki antibodi yang bagus untuk disumbangkan ke orang lain.
Dia juga mengingatkan bahwa antibodi seorang penyintas tidak lantas habis karena pengaruh dia telah melakukan donor plasma. Malah dengan berdonor, antibodi seseorang akan terpelihara dengan baik. Hal itu, kata dia, sudah dibuktikan oleh sebuah peneltian.
"Layaknya kita bersedekah, banyak memberi lebih banyak lagi kita akan menerima . Jadi, daripada antibodinya hilang mubazir alangkah lebih baik jika disumbangkan ke yang lain," paparnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Dedi Supratman menyebut salah satu kunci keberhasilan mengatasi pandemi Covid-19 yaitu pola manajemen yang berjalan dengan baik. Jika sebaliknya, maka penanganan bisa gagal. Kondisi itu secara umum juga mencakup persoalan keterbatasan stok donor plasma konvalesen. Padahal, cairan plasma tersebut sangat menunjang untuk terapi pemulihan pasien Covid-19 yang bergejala ringan dan sedang.
Maraknya masyarakat yang membutuhkan donor hingga mengirim edaran lewat media sosial atau jejaring Whatsapp harus menjadi pelajaran bahwa manajemen penanganan pandemi di Indonesia masih lemah. Menurut dia, kelemahan itu turut menyebabkan kegagalan mengatasi pandemi sampai saat ini.
“Banyak manajemen penanganan pandemi kita yang tidak berjalan dengan baik. Utamanya, masalah integrasi data. Termasuk persoalan plasma konvalesen ini. Dari info dari beberapa teman PMI, baru 5-10 persen saja yang donor plasma. Itu pun harus difilter lagi dan lolos sekitar 1-2 persen. Jadi, wajar kalau kesusahan mencari donor plasma konvalesen ini,” ungkap Dedi kepada Koran SINDO, Minggu (18/7).
Baca juga: Kasus Covid-19 Meningkat, Penyintas Diajak Donor Plasma konvalesen
Jika diintegrasikan dengan data 2 juta penyintas Covid-19 yang sembuh hingga saat ini, sudah semestinya kebutuhan plasma tersebut bisa dioptimalkan. Selain manajemen yang tak terkelola baik, Dedi menduga persoalan tersebut disinyalir karena belum banyak masyarakat yang paham tentang plasma konvalesen dan seberapa besar manfaatnya bagi pasien Covid-19.
“Ditambah pemerintah nggak punya data. Mau kejar kemana mereka. Pejabat cari plasma konvalesen aja susah, gimana kalau masyarakat? Palingan mereka andalin saudara familinya. Kalau ada, kalau enggak, mau apa coba,” celetuknya.
Ia pun meminta pemerintah harus tegas dan dapat segera memperbaiki sistem manajemen data Covid-19 sehingga terintegrasi dengan baik antara fasilitas kesehatan masyarakat seperti puskesmas, rumah sakit, hingga PMI. Menurut dia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Satgas Penanganan Covid-19 memiliki peran paling strategis dalam mengurus integrasi data ini secara terpadu.
“Mereka bisa menghubungkan antar kementerian/lembaga. Apalagi Kemenkes bisa mengintegrasikan antara jenjang pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas, rumah sakit di daerah, sampai ke rumah sakit pusat. Itu diberdayakan dong, ini kan sangat mungkin dikerjakan. Persoalan data diberesin, fasilitas kesehatan disiapkan, dan masyarakatnya dimobilisasi melalui puskesmas,” ujar Dedi memberi masukan.
Dia kembali menegaskan bahwa semua persoalan tetap tergantung dari kemauan politik (political will) pemerintah. Jika sudah disepakati bahwa plasma konvalesen sangat penting dan bermanfaat, maka sebaiknya dikelola dengan optimal.
“Saya lihat masalah utamanya itu balik lagi ke leadership. Untuk urusan teknis, harus ada manajernya. Untuk urusan kesehatan ya tetap di Kemenkes. Kalaupun satgas Covid, kelemahannya adalah nggak punya jejaring cukup kuat ke fasilitas kesehatan. Yang paling kuat atau superbody ya Kemenkes,” tandasnya.
Saran lainnya, Dedi juga mendorong agar pemerintah juga memaksimalkan peran puskesmas hingga kepala desa atau lurah untuk aktif memobilisasi penyintas Covid-19 untuk mendonor. Kalau sudah ada data, nomor kontak, alamat rumah, itu akan memudahkan untuk memobilisasi pendonor.
“Kalau nggak perlu ketemu, kan tinggal kontak aja. Itu sangat mungkin untuk dikerjakan. Jangan semua beban diserahkan ke PMI, ya mabok lah! Diskrining dululah, jadi yang masuk ke PMI betul-betul sesuai harapan. Artinya, puskesmas dan lurah/desa juga harus lebih proaktif,” pungkasnya.
Pro Kontra Plasma Konvalesen
Lantas, apa faktor penentu keberhasilan terapi plasma konvalesen yang dilakukan terhadap pasien? Menjawab ini, Kepala Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta Niken Ritchie menjelaskan bahwa metode terapi plasma konvaselen memang masih pro kontra.
Dia mengakui efektivitas terapi plasma belum selesai penelitiiannya. Saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sebelum banyak masyarakat memburu plasma konvalesen, kata dia, PMI tadinya mengadakannya hanya untuk kepentingan penelitian.
Dijelaskan pula, belum ada prosedur yang pasti mengenai berapa banyak jumlah plasma yamg harus diberikan kepada pasien untuk dapat sembuh. "Semua masih coba-coba, ada yang mencoba memberi dua (kantong) ada yang tiga, empat, bahkan sampai delapan, karena memang belum ada standar," kata lulusan magister ilmu biomedis ini.
Kategori pasien yang dinilai tepat menerima terapi plasma konvalesen pun masih perdebatan. Niken mengatakan, kalau merujuk kasus di luar negeri, ada yang mengatakan metode terapi plasma konvalesen tidak lagi efektif bagi pasien gejala berat dan kritis.
Malah dianjurkan plasma lebih baik diberikan kepada pasien gejala sedang yang menuju berat untuk mencegahnya mengalami perburukan ke berat atau kritis. Waktu pemberiannya pun ada, yakni pada 72 pertama sejak pasien bergejala.
"Dan, diberikan hanya kepada pasien tertemtu saja, salah satunya yang memiliki komorbid. Jangan karena posiitf Covid-19 lantas minta plasma. Karena ada banyak risikonya juga transfusi plasma itu," tandasnya.
Sekretaris Jendral (Sekjen) PMI Sudirman Said mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat membuat antrean untuk mendapatkan donor plasma konvalesen untuk dilakukan TPK sangat panjang. Jika biasanya terbanyak hanya 1.000 kini sudah mencapai 5.000 orang.
Antrean pasien mendapatkan TPK juga terus membesar karena beberapa terapi yang sudah dilakukan ternyata berhasil. .
"Jumlah penyintas Covid-19 ada 2,1 juta jika semuanya ingin donor kemungkinan yang memenuhi syarat tidak sampai 5 persen. Jadi by nature, supply akan sulit, sementara permintaanya meningkat," ujarnya.
Sudirman memaparkan, sejauh ini alat untuk donor plasma yang berjumlah 81sudah cukup dan 42 tersebar Unit Donor Darah (UDD) di seluruh Indonesia. Namun, saat ini muncul persoalan karena kesulitan pendoronor. Saat ini dalam sehariu jumlah pendonor sehari masih berkisar 600 pendonor. Idealnya pendonor mencapai 1.000 orang per hari.
Mengapa sulit? Menurut dia, donor sifatnya sukarela dan siapapun juga tidak bisa memaksa. Di sisi lain mereka yang sembuh banyak yang memilih tidak keluar rumah atau melihat situasi kondisi saat ini.
Dia kemudia menuturkan, penyintas yang boleh mendonorkan plasma adalah mereka yang terinfeksi Covid-19 stadium menengah dan berat. Pasien demikian diharapkan memiliki antibodi yang bisa dimanfaatkan untuk plasma.Namun di sisi lain, pasien Covid-19 yang menerima plasma konvalesen adalah yang levelnya rendah dan menengah. Mereka yang sudah sangat akut itu tidak akan efektif.
‘’Karena itu, jika ada pandangan pasien sedang kristis mari cari plasma itu sebetulnya usaha yang tidak tepat. Informasi ini diharapkan diketahui keluarga pasien, dan antrian di PMI juga sudah ribuan sehingga diperlukan kesabaran,’’ ujar dia.
(ynt)
Lihat Juga :