Menjaga Resiliensi UMKM dan Koperasi
Senin, 12 Juli 2021 - 10:40 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, angka pengangguran cukup besar, 6,9 juta orang, belum termasuk pengangguran baru akibat pandemi Covid-19. Indonesia setiap tahun harus menyediakan lapangan kerja sedikitnya untuk 3 juta Angkatan kerja baru. Rata-rata angka pertumbuhan ekonomi 5 persen dalam lima tahun terakhir jelas tidak cukup memadai untuk menyediakan lapangan kerja di Indonesia.
Koperasi belum menjadi pilihan utama masyarakat dalam memperbesar kapasitas usahanya. Ekonomi rakyat lebih memilih bergerak secara perorangan daripada berkelompok dalam skala ekonomi.
Di banyak negara dengan perkembangan koperasi yang baik, seperti Finlandia, Australia, dan Amerika Serikat, pembentukan koperasi cukup lima orang. Di Inggris, Denmark, dan Belgia tiga orang. Bahkan, di Belanda hanya dua orang. Muhammad Halilintar (2018) dalam tulisannya, Cooperatives and Economic Growth in Indonesia, menemukan lima komponen yang mempengaruhi pertumbuhan koperasi di Indonesia. Pengaruh human capital lebih besar ketimbang empat faktor lainnya, masing-masing adalah money capital, knowledge capital, social capital, dan economic system.
Pelbagai kemudahan harus diberikan untuk memperbesar keterlibatan generasi muda membangun bisnis koperasi dan merespon peluang usaha yang serba digital dewasa ini. Sebagaimana Aliansi Koperasi Internasional (ICA) telah meluncurkan program Global Cooperative Entrepreneurs yang memberikan ruang luas bagi anak-anak muda untuk bereksperimen dan berinovasi menjawab tantangan zaman, seperti climate change, migrasi, transformasi, ataupun otomasi dalam bekerja.
Transformasi UMKM dan Koperasi
Akselerasi digitalisasi UMKM dan koperasi menjadi bagian besar dari proyek UU Cipta Kerja untuk menghadirkan inovasi dan produktivitas. Saat ini UMKM yang telah terhubung ke ekosistem digital baru mencapai 16 persen atau sekitar 10,25 juta pelaku usaha.
Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia terbesar di Asia Tenggara dan diproyeksikan mencapai Rp 1.826 triliun pada 2025. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia relatif sudah bisa diakses oleh perdagangan digital. Dan, telah banyak inovasi platform digital baik dalam skala nasional maupun daerah atau captive market tertentu. Apalagi, UMKM yang sudah terhubung dalam ekosistem digital terbukti dapat bertahan di era pandemi. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat pasca Covid-19.
Koperasi belum menjadi pilihan utama masyarakat dalam memperbesar kapasitas usahanya. Ekonomi rakyat lebih memilih bergerak secara perorangan daripada berkelompok dalam skala ekonomi.
Di banyak negara dengan perkembangan koperasi yang baik, seperti Finlandia, Australia, dan Amerika Serikat, pembentukan koperasi cukup lima orang. Di Inggris, Denmark, dan Belgia tiga orang. Bahkan, di Belanda hanya dua orang. Muhammad Halilintar (2018) dalam tulisannya, Cooperatives and Economic Growth in Indonesia, menemukan lima komponen yang mempengaruhi pertumbuhan koperasi di Indonesia. Pengaruh human capital lebih besar ketimbang empat faktor lainnya, masing-masing adalah money capital, knowledge capital, social capital, dan economic system.
Pelbagai kemudahan harus diberikan untuk memperbesar keterlibatan generasi muda membangun bisnis koperasi dan merespon peluang usaha yang serba digital dewasa ini. Sebagaimana Aliansi Koperasi Internasional (ICA) telah meluncurkan program Global Cooperative Entrepreneurs yang memberikan ruang luas bagi anak-anak muda untuk bereksperimen dan berinovasi menjawab tantangan zaman, seperti climate change, migrasi, transformasi, ataupun otomasi dalam bekerja.
Transformasi UMKM dan Koperasi
Akselerasi digitalisasi UMKM dan koperasi menjadi bagian besar dari proyek UU Cipta Kerja untuk menghadirkan inovasi dan produktivitas. Saat ini UMKM yang telah terhubung ke ekosistem digital baru mencapai 16 persen atau sekitar 10,25 juta pelaku usaha.
Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia terbesar di Asia Tenggara dan diproyeksikan mencapai Rp 1.826 triliun pada 2025. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia relatif sudah bisa diakses oleh perdagangan digital. Dan, telah banyak inovasi platform digital baik dalam skala nasional maupun daerah atau captive market tertentu. Apalagi, UMKM yang sudah terhubung dalam ekosistem digital terbukti dapat bertahan di era pandemi. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat pasca Covid-19.
Lihat Juga :