Normal Baru dalam Bisnis dan Aktivitas Masyarakat
Selasa, 26 Mei 2020 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
Pola koordinasi dan komunikasi antara pegawai dengan pegawai lainnya, antara pegawai dengan atasan, atau produsen dengan distributor dan konsumen, sekarang telah berubah sama sekali sejak pandemi ini terjadi. Penggunaan perangkat komunikasi virtual seperti Zoom, Google Meet, Google Hangout, Slack, Lark, dan semacamnya, telah menggantikan koordinasi dan komunikasi fisik dalam bentuk rapat, seminar, diskusi, atau layanan konsumen.
Oleh karena itu, proses koordinasi dan komunikasi yang dilakukan secara virtual sepanjang masa pandemi ini harus menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis proses di level organisasi bisnis maupun pemerintahan. Mengabaikan perubahan ini pada kondisi Normal Baru dan memaksakan proses koordinasi dan komunikasi menggunakan pola lama akan membuat setiap entitas organisasi kehilangan relevansi, karena koordinasi dan komunikasi virtual sudah menjadi bagian dari proses bekerja.
Justru banyak orang merasakan efektivitas dan produktivitas bekerja secara virtual ini. Mereka dapat bekerja tanpa harus kehilangan waktu menempuh perjalanan dari rumah ke kantor.
Dalam konteks Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, itu berarti mereka bisa menghemat 2-5 jam sehari, tergantung jarak dan kemacetan di jalanan. Yang lebih penting lagi, mereka dapat melakukan pekerjaan secara paralel dalam satu waktu, sehingga tidak perlu menumpuk pekerjaan yang pada akhirnya sering tidak dapat diselesaikan dan terus menggunung dari waktu ke waktu.
Maka, setiap organisasi perlu mengantisipasi perubahan pola kerja ini yang dapat berpengaruh pada hubungan antarpekerja dan hubungan antara pekerja dengan atasan, dan yang lebih luas lagi, hubungan antara pekerja dengan organisasi tempatnya bekerja. Perjumpaan-perjumpaan yang sifatnya fisik diyakini memperkuat hubungan emosional antarmanusia.
Dengan demikian, perjumpaan nonfisik juga tidak dapat menggantikan seratus persen perjumpaan fisik. Itulah yang harus dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya, sehingga orang tetap merasa memiliki ikatan emosional yang kuat di antara sesama kolega, dengan atasan, maupun dengan organisasi tempatnya bekerja.
Itulah Normal Baru yang sudah ada di depan mata kita. Normal baru yang siap atau tidak siap, akan kita saksikan dan rasakan sehari-hari.
Oleh karena itu, proses koordinasi dan komunikasi yang dilakukan secara virtual sepanjang masa pandemi ini harus menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis proses di level organisasi bisnis maupun pemerintahan. Mengabaikan perubahan ini pada kondisi Normal Baru dan memaksakan proses koordinasi dan komunikasi menggunakan pola lama akan membuat setiap entitas organisasi kehilangan relevansi, karena koordinasi dan komunikasi virtual sudah menjadi bagian dari proses bekerja.
Justru banyak orang merasakan efektivitas dan produktivitas bekerja secara virtual ini. Mereka dapat bekerja tanpa harus kehilangan waktu menempuh perjalanan dari rumah ke kantor.
Dalam konteks Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, itu berarti mereka bisa menghemat 2-5 jam sehari, tergantung jarak dan kemacetan di jalanan. Yang lebih penting lagi, mereka dapat melakukan pekerjaan secara paralel dalam satu waktu, sehingga tidak perlu menumpuk pekerjaan yang pada akhirnya sering tidak dapat diselesaikan dan terus menggunung dari waktu ke waktu.
Maka, setiap organisasi perlu mengantisipasi perubahan pola kerja ini yang dapat berpengaruh pada hubungan antarpekerja dan hubungan antara pekerja dengan atasan, dan yang lebih luas lagi, hubungan antara pekerja dengan organisasi tempatnya bekerja. Perjumpaan-perjumpaan yang sifatnya fisik diyakini memperkuat hubungan emosional antarmanusia.
Dengan demikian, perjumpaan nonfisik juga tidak dapat menggantikan seratus persen perjumpaan fisik. Itulah yang harus dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya, sehingga orang tetap merasa memiliki ikatan emosional yang kuat di antara sesama kolega, dengan atasan, maupun dengan organisasi tempatnya bekerja.
Itulah Normal Baru yang sudah ada di depan mata kita. Normal baru yang siap atau tidak siap, akan kita saksikan dan rasakan sehari-hari.
(poe)