McDonald’s sebagai Magnet Kapitalisme

loading...
McDonald’s sebagai Magnet Kapitalisme
Asrudin. FOTO/DOk Sindonews
Asrudin Azwar
Peneliti, Pendiri The Asrudian Center

Sudah dua kali McDonald’s membuat kerumunan massa di tengah pandemi korona (Covid-19). Pertama , saat McDonald’s menutup gerainya di Sarinah pada 10 Mei 2020 lalu. Penutupan itu menjadi momen emosional bagi sebagian orang yang memiliki kenangan di tempat nongkrong legendaris tersebut. Karenanya banyak warga berkerumun saat acara dilangsungkan. Padahal status Jakarta saat itu adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kedua , ketika McDonald’s meluncurkan promo menu baru BTS Meal pada Rabu (9/6) lalu. Menu ini merupakan hasil dari kerja sama antara restoran cepat saji itu dengan boyband papan atas asal Korea Selatan, Bangtan Boys (BTS). Alhasil, baru hari pertama promo dilakukan, banyak warga yang menyerbu McDonald’s dengan memesan pembelian menu itu melalui ojek online (ojol). Akibatnya antrean panjang ojol pun timbul hampir merata di seluruh gerai McDonald’s Indonesia dengan mengabaikan protokol kesehatan.

Melalui dua insiden itu, kita patut bertanya, apa yang membuat McDonald’s begitu memiliki daya tarik sehingga warga rela berkerumun walaupun ada pandemi yang mungkin bisa membahayakan nyawa mereka?



Daya Tarik
Bisa dikatakan McDonald’s hadir di Indonesia pada saat Perang Dingin berakhir (1991). Penandanya adalah tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar. Era ini, kata Francis Fukuyama,adalah era akhir sejarah, atau kemenangan mutlak demokrasi liberal Amerika atas komunisme Soviet.

Di era ini, dunia menjadi homogen. Sebab tanpa tantangan ideologi lain, Amerika lebih leluasa memasarkan ide demokrasi ke seluruh penjuru dunia. Dunia, dengan demikian, berada di dalam selimut demokrasi dan ini diyakini bisa memberikan implikasi bagi perdamaian global. Ilmuwan hubungan internasional biasa menyebut gagasan Fukuyama ini sebagai teori perdamaian demokrasi. Teori ini menjelaskan bahwa negara-negara demokrasi tidak akan berperang satu sama lain.

Namun tesis Fukuyama tentang teori perdamaian demokrasi ini dinilai sejumlah pemikir hubungan internasional belumlah memuaskan. Sebab masih ada bukti yang menunjukkan sesama negara demokrasi berkonflik satu sama lain. Untuk itu penulis hubungan internasional dan jurnalis top asal Amerika Thomas L Friedman, misalnya, berupaya untuk menutupi kelemahan teori tersebut dengan gagasannya yang dia sebut sebagai The Golden Aches Theory sebagai upaya pencegahan konflik.

Teori itu dia gambarkan secara ringkas di dalam artikelnya yang berjudul Foreign Affairs Big Mac I (New York Times , 1996). Dalam artikel itu Friedman intinya mengatakan, "Belum pernah ada dua negara yang berperang melawan satu sama lain sejak McDonald’s masuk ke kedua negara tersebut." Teori ciptaan Friedman itu didasari asumsi bahwa ketika sebuah negara mencapai pembangunan ekonomi dengan jumlah kelas menengah yang cukup besar untuk dimanfaatkan McDonald’s, negara tersebut akan menjadi "negara McDonald’s" dan dengan begitu enggan terlibat dalam perang.

Tiga tahun kemudian Friedman tetap mempertahankan teori tersebut di dalam bukunya yang berjudul The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization (1999). Namun tidak lama setelah buku ini diterbitkan, NATO mengebom Yugoslavia. Pada hari pertama pengeboman, restoran-restoran McDonald’s di Belgrade dihancurkan oleh para pengunjuk rasa. Tapi bagi Friedman, situasi konflik itu yang membuat teorinya menjadi lebih valid: perang berakhir cepat dan salah satu alasannya adalah penduduk Serbia tidak ingin kehilangan tempatnya di dalam tatanan dunia yang ter-McDonaldisasi.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top