'Impact Ranking' dan Peran Universitas dalam Pencapaian SDGs

loading...
Impact Ranking dan Peran Universitas dalam Pencapaian SDGs
Rizky Ananda Putra (Foto: Istimewa)
Rizky Ananda Putra
Analis Data Pemeringkatan dan Kinerja Penelitian di Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas Airlangga 2019-2020,ASN Kementerian PUPR 2021

BARU-BARU ini, tepatnya pada 21 April 2021, Times Higher Education (THE) yang merupakan salah satu lembaga pemeringkatan bergengsi untuk kampus di seluruh dunia merilis Impact Rankings 2021. Impact Rangkings merupakan salah satu dari beberapa jenis pemeringkatan THE yang fokus mengukur keberhasilan universitas dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).

Pemeringkatan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran seputar keberhasilan universitas dalam memberikan dampak positif bagi dunia serta komitmennya dalam menyukseskan ketercapaian SDGs (THE, 2021). Adapun ranking universitas sendiri sering digunakan banyak stakeholders di perguruan tinggi karena mampu memberikan gambaran ringkas multiple quality dimensions pada universitas (Benito dan Romera, 2020). Oleh karena itu, kesadaran pentingnya ranking universitas harus dimiliki perguruan tinggi sebagai fondasi menuju universitas berkelas dunia dan berdampak global.

SDGs yang telah diadopsi seluruh anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2015 merupakan seruan bagi semua negara untuk memberikan action dalam kerja sama pembangunan global. PBB menyadari bahwa pengentasan kemiskinan harus berjalan seiring dengan strategi peningkatan kesehatan dan pendidikan, pengurangan ketimpangan, eskalasi pemacu pertumbuhan ekonomi, pelestarian laut dan hutan dunia, serta penanganan perubahan iklim. Wujud komitmen politik pemerintah di Indonesia untuk melaksanakan SDGs tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Perpres ini dimaksud agar pelaksanaan dan pencapaian SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak. Melansir situs THE, meskipun SDGs tidak berfokus pada perguruan tinggi, pencapaian SDGs pada 2030 tetap memerlukan peran semua pihak, salah satunya adalah perguruan tinggi.

Impact Rankings memberikan evaluasi terhadap 17 SDGs universitas, yang meliputi: (1) No Poverty; (2) Zero Hunger; (3) Good Health and Well-being; (4) Quality Education; (5) Gender Equality; (6) Clean Water and Sanitation; (7) Affordable and Clean Energy; (8) Decent Work and Economnic Growth; (9) Industry, Innovation, and Infrastructure; (10). Selain itu, Reduced Inequalities; (11) Sustainable Cities and Communities; (12) Responsible Consumption and Production; (13) Climate Action; (14) Life Below Water; (15) Life On Land; (16) Peace, Justice And Strong Institutions; dan (17) Partnerships For The Goals. Empat aspek yang dinilai dari Impact Rankings meliputi Research (Penelitian), Teaching (Pengajaran), Stewardship (Pengelolaan), dan Outreach (Pengabdian). Penilaian setiap SDG akan dilakukan dengan mempertimbangkan kinerja publikasi penelitian serta kebijakan maupun aktivitas universitas yang berkaitan dengan tema masing-masing SDG. Pengambilan data publikasi berasal dari Elsevier (Scopus) selaku mitra THE, sedangkan data kebijakan maupun aktivitas SDG universitas berasal dari masing-masing kampus melalui pengiriman data secara manual pada portal yang telah disediakan oleh THE.



Partisipasi Kampus Indonesia
Sejak pertama kali pemeringkatan ini dirilis (2019), terdapat 450 universitas dari 76 negara yang berpartisipasi dalam Impact Rankings dan sebanyak 7 universitas berasal dari Indonesia (meliputi UI, Undip, UGM, IPB, ITB, Unpad, dan UNY). Pada 2020 partisipasi bertambah menjadi 768 universitas dari 85 negara dan 9 universitas berasal dari Indonesia. Pada 2020 UNY sudah tidak masuk radar Impact Rankings yang mana digantikan oleh UB, Unair, dan ITS.

Menariknya, pada 2021 jumlah partisipasi meningkat pesat menjadi 1.115 universitas dari 94 negara/wilayah dan sebanyak 18 universitas berasal dari Indonesia. Partisipasi kampus di Indonesia naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Adapun beberapa pendatang baru pada tahun ini adalah Unhas, UNS, Telkom University, Universitas Bakrie, Universitas Lampung, UMY, USU, dan Institut Teknologi PLN.

ITS yang baru bergabung tahun lalu dengan peringkat terakhir di Indonesia, kini telah menempati peringkat #1 di Indonesia dan peringkat #64 di dunia. ITS telah mengalahkan pemain lama, seperti UI, Undip, UGM, IPB, dan ITB. Capaian mengesankan juga diraih Unhas yang baru bergabung tahun ini dengan perolehan peringkat #2 di Indonesia dan #79 di dunia. Sama seperti ITS, Unhas juga mengalahkan para pemain lama.

Di samping capaian mengesankan, yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah rendahnya partisipasi perguruan tinggi di Indonesia. Dari 2.136 perguruan tinggi di Indonesia (Kemendikbud, 2020), hanya 18 perguruan tinggi yang masuk dalam radar pemeringkatan Impact Rankings 2021. Padahal, jika semua kampus berbondong-bondong untuk berpartisipasi dalam pemeringkatan ini, ketercapaian SDGs 2030 menjadi sebuah keniscayaan. Lantas, apa yang perlu dipersiapkan oleh perguruan tinggi yang belum masuk radar Impact Rankings?

Akselerasi Kinerja Publikasi Bertema SDGs
Agar dapat masuk dalam radar Impact Rankings, universitas perlu meningkatkan jumlah publikasi internasional terindeks scopus yang membahas isu-isu SDGs. Penelitian tersebut perlu memasukkan keywords SDG dalam judul, abstrak, dan kata kunci paper. Misalnya, SDG 1 dapat memasukkan "extreme poverty'', "poverty alleviation", atau kata lain yang masuk dalam daftar keywords masing-masing SDG yang telah diklasifikasikan oleh Elsevier. Selain kuantitas, kualitas publikasi juga menjadi poin penting penilaian. Kualitas publikasi dilihat dari jumlah sitasi yang dihasilkan oleh luaran publikasi. Untuk meningkatkan jumlah sitasi, para peneliti dapat melakukan riset kolaborasi bersama top scientits, melakukan publikasi di jurnal top tier, atau bisa juga mengangkat hot issues dalam publikasinya.



Program dan Kerja Sama Kegiatan SDGs
Selain meningkatkan kinerja publikasi, universitas juga harus memperbanyak program kegiatan yang berfokus pada penanganan isu-isu SDGs. Program tersebut dapat dilakukan oleh universitas itu sendiri maupun bekerja sama dengan komunitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau pemerintah setempat. Adapun wujud program tersebut dapat berupa dialog lintas sektoral SDGs, pengembangan kebijakan SDGs pemerintah, program relawan mahasiswa, ataupun program lain yang berkaitan dengan tema SDGs. Universitas juga dapat berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa (ormawa) agar program kerja mereka dapat diupayakan beririsan dengan isu-isu SDGs. Selain itu, melimpahnya jumlah SDM mahasiswa dan kecerdasan pola pikirnya mampu memberikan daya dukung dalam rangka keberhasilan pencapaian SDGs 2030.

Task Force Team sebagai Nerve Center
Pembentukan tim kerja yang fokus pada isu-isu SDGs dapat membantu pimpinan institusi untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan program SDGs. Tugas dan tanggung jawab tim ini adalah melakukan sosialisasi program-program yang berkaitan dengan SDGs kepada seluruh civitas akademika, menjadi pelopor beragam agenda penanganan isu-isu SDGs, melakukan rekap kegiatan SDGs yang nantinya dilaporkan dalam Laporan SDGs Tahunan Universitas, sekaligus menjadi tim yang bertugas melakukan submit data pada portal THE Impact Rankings.

Banyaknya jenis SDGs dan beragamnya kebijakan/program berkaitan dengan SDGs menjadi urgensi pembentukan tim ini. Oleh karena itu, pembentukan tim SDGs diharapkan dapat memberikan masukan perumusan kebijakan universitas, meningkatkan kesadaran pentingnya berkolaborasi dalam upaya tercapainya keberhasilan SDGs, serta melakukan kontrol agenda SDGs universitas agar tepat sasaran.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top