Al-Qur’an, Penggerak Literasi dan Peradaban
Sabtu, 24 April 2021 - 09:34 WIB
loading...
A
A
A
Karena seruan literasi Al-Qur’an bersama kepeloporan Nabi Muhammad, bangsa Arab tidak hanya menjadi pusat-pusat peradaban, tapi juga menjadi pewaris peradaban kuno yang berkembang pesat di tepi sungai Tigris dan Efrat di daratan sekitar Sungai Nil dan di pantai sebelah timur Mediterania.
Al-Qur’an menjadi corpus terbuka dan sumber dialektika untuk mendalami pesan-pesan dan ilmu Allah yang tak terbatas (al-Kahfi: 109 dan Luqman: 27). Kehadiran al-Quran dan segenap pesan profetik yang diperankan Nabi Muhammad betul-betul mengubah orientasi berpikir masyarakat Arab yang kala itu berkultur “kabilahisme sentris” menjadi kosmopolit.
Al-Qur’an, bukan hanya menggerakakan tradisi literasi, tapi terus menginspirasi lahirnya pengetahuan di masa-masa berikutnya. Sejarah mencatat, hampir tujuh abad lamanya, mulai 750 hingga 1500 M atau mulai 0 sampai 700 H, Islam mulai menapaki sejarah dan berhasil mencapai masa kejayaan di banyak aspek, terutama dalam konteks peradaban ilmu pengetahuan yang berkontribusi besar pada kemajuan dunia.
Dalam rentang waktu itulah lahir ratusan ilmuan muslim yang populer dengan ragam teori yang kelak mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Di antaranya, Jabir Ibn Hayyan (721-815 M), ahli kimia; Ibn Khaldun (732-808H/1332-1406M), pakar sosiologi dan sejarah; al-Khawarizmi (780-850M), ahli matematika; al-Razi (864-925M), pakar kedokteran; Ibn Zina (980-1037M), ahli bidang kedokteran; al-Biruni (973-1048M), pakar bidang fisika, Ibn Bathuthah (1304-1369M), seorang antropolog dan pelancong, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Para ilmuan di atas menjadi ilmuan terbaik dari generasi muslim yang telah menyumbangkan tenaga dan fikirannya untuk kemajuan dunia intelektual Islam. Dengan demikian, di bulan Ramadhan ini, kita berdo’a, semoga kita termotivasi dan terinspirasi untuk terus bersemangat dalam mentadabburi Al-Qur’an.
Al-Qur’an menjadi corpus terbuka dan sumber dialektika untuk mendalami pesan-pesan dan ilmu Allah yang tak terbatas (al-Kahfi: 109 dan Luqman: 27). Kehadiran al-Quran dan segenap pesan profetik yang diperankan Nabi Muhammad betul-betul mengubah orientasi berpikir masyarakat Arab yang kala itu berkultur “kabilahisme sentris” menjadi kosmopolit.
Al-Qur’an, bukan hanya menggerakakan tradisi literasi, tapi terus menginspirasi lahirnya pengetahuan di masa-masa berikutnya. Sejarah mencatat, hampir tujuh abad lamanya, mulai 750 hingga 1500 M atau mulai 0 sampai 700 H, Islam mulai menapaki sejarah dan berhasil mencapai masa kejayaan di banyak aspek, terutama dalam konteks peradaban ilmu pengetahuan yang berkontribusi besar pada kemajuan dunia.
Dalam rentang waktu itulah lahir ratusan ilmuan muslim yang populer dengan ragam teori yang kelak mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Di antaranya, Jabir Ibn Hayyan (721-815 M), ahli kimia; Ibn Khaldun (732-808H/1332-1406M), pakar sosiologi dan sejarah; al-Khawarizmi (780-850M), ahli matematika; al-Razi (864-925M), pakar kedokteran; Ibn Zina (980-1037M), ahli bidang kedokteran; al-Biruni (973-1048M), pakar bidang fisika, Ibn Bathuthah (1304-1369M), seorang antropolog dan pelancong, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Para ilmuan di atas menjadi ilmuan terbaik dari generasi muslim yang telah menyumbangkan tenaga dan fikirannya untuk kemajuan dunia intelektual Islam. Dengan demikian, di bulan Ramadhan ini, kita berdo’a, semoga kita termotivasi dan terinspirasi untuk terus bersemangat dalam mentadabburi Al-Qur’an.
(kri)
Lihat Juga :