Anggota DPR dan Tokoh Disuntik Vaksin Nusantara, Epidemiolog: Berbahaya Banget
Kamis, 15 April 2021 - 14:58 WIB
loading...
Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah anggota DPR dan tokoh menjadi relawan Vaksin Nusantara di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu 14 April 2021. Epidemiolog pun mengkritisinya.
Anggota DPR yang menjadi relawan dalam penelitian Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu di antaranya adalah Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Emanuel Melkiades Laka Lena (Golkar), Saleh Partaonan Daulay (PAN), Adian Napitupulu (PDIP), Nihayatul Wafiroh (PKB), dan Arzetty Bilbina (PKB). Sementara, tokoh yang juga menjalani hal yang sama di antaranya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.
Hal itu menuai polemik. Sebab, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan izin kelanjutan uji klinis Vaksin Nusantara. Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai penyuntikan Vaksin Nusantara itu sangat berbahaya.
"Kalau ada riset yang kemudian tidak mengikuti atau dia mengabaikan rekomendasi satu regulator sepenting BPOM, wah itu berbahaya itu riset seperti itu," ujar Dicky Budiman kepada SINDOnews, Kamis (15/4/2021).
Sebab, kata Dicky, setiap riset vaksin itu tidak ada yang 100 persen aman. Bahkan, kata dia, ada yang berdampak fatal. "Ada fatalitas? Ada, bisa. Kata siapa tidak ada kemungkinan mati misalnya relawannya? Bisa," ungkap Dicky.
Baca juga: KSAD Diminta Bersikap Tegas Soal Polemik Vaksin Nusantara di RSPAD
Apalagi, lanjut dia, uji klinis fase 1 Vaksin Nusantara belum memenuhi kriteria. "Nah ini yang harus dipahami, apalagi misalnya metodenya diabaikan, masak relawannya sudah menerima vaksin, dari sisi metodologi ilmiahnya saja penetapan kriteria inklusi eksklusi dari relawannya aja enggak tepat, bagaimana yang lainnya, ini berbahaya banget," pungkasnya.
Anggota DPR yang menjadi relawan dalam penelitian Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu di antaranya adalah Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Emanuel Melkiades Laka Lena (Golkar), Saleh Partaonan Daulay (PAN), Adian Napitupulu (PDIP), Nihayatul Wafiroh (PKB), dan Arzetty Bilbina (PKB). Sementara, tokoh yang juga menjalani hal yang sama di antaranya mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie.
Hal itu menuai polemik. Sebab, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan izin kelanjutan uji klinis Vaksin Nusantara. Menanggapi hal tersebut, Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai penyuntikan Vaksin Nusantara itu sangat berbahaya.
"Kalau ada riset yang kemudian tidak mengikuti atau dia mengabaikan rekomendasi satu regulator sepenting BPOM, wah itu berbahaya itu riset seperti itu," ujar Dicky Budiman kepada SINDOnews, Kamis (15/4/2021).
Sebab, kata Dicky, setiap riset vaksin itu tidak ada yang 100 persen aman. Bahkan, kata dia, ada yang berdampak fatal. "Ada fatalitas? Ada, bisa. Kata siapa tidak ada kemungkinan mati misalnya relawannya? Bisa," ungkap Dicky.
Baca juga: KSAD Diminta Bersikap Tegas Soal Polemik Vaksin Nusantara di RSPAD
Apalagi, lanjut dia, uji klinis fase 1 Vaksin Nusantara belum memenuhi kriteria. "Nah ini yang harus dipahami, apalagi misalnya metodenya diabaikan, masak relawannya sudah menerima vaksin, dari sisi metodologi ilmiahnya saja penetapan kriteria inklusi eksklusi dari relawannya aja enggak tepat, bagaimana yang lainnya, ini berbahaya banget," pungkasnya.
Lihat Juga :