Antara Pengembangan 'Passion' dan Keterbatasan Pilihan dalam Dunia Kerja

loading...
Antara Pengembangan Passion dan Keterbatasan Pilihan dalam Dunia Kerja
Muhamad Ali (Foto: Istimewa)
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital Management

ADA suatu ungkapan yang sangat penting untuk menggambarkan bagaimana seseorang harus menjalani hidup dan karier mereka, ari ketika ia masuk ke dunia kerja sampai puluhan tahun berikutnya. “Do what you have to do before you do what you want to do.” Kerjakan apa yang harus kamu kerjakan sebelum kamu bisa mengerjakan yang kamu inginkan.

Pada awal karier banyak orang tidak memiliki keleluasaan untuk dapat melakukan segala hal yang ia inginkan. Para pekerja atau pegawai di awal-awal karier mereka di dalam organisasi, mau tidak mau harus tunduk pada apa yang diperintahkan atau ditugaskan oleh atasannya langsung, atau oleh pimpinan dalam unit organisasinya.

Mereka juga tidak memiliki keleluasaan untuk mendelegasikan tugas-tugas atau pekerjaan yang mereka terima, karena belum tentu mereka memiliki anak buah yang dapat diminta membantu tugas-tugas tersebut. Jangankan anak buah, bahkan kadang-kadang para pekerja di awal-awal karier mereka juga dibatasi oleh ketiadaan teman, sekadar untuk berdiskusi dan meminta pendapat.

Karena itu, orang yang paling beruntung adalah orang yang dapat bekerja sesuai dengan kemampuan, kapasitas, dan tentu saja “passion” yang mereka miliki. Namun, anak-anak muda hari ini, kadang-kadang dihadapkan pada kesulitan untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya passion yang mereka miliki. Mereka sering terombang-ambing oleh kenyataan yang mereka temukan di media sosial, di televisi, dan di media-media umum, ketika media-media tersebut memunculkan tokoh yang sebaya dengan mereka, tetapi sudah mencapai kesuksesan atau keberhasilan tertentu.



Kerumitan-kerumitan untuk menemukan passion yang dapat menjadi sandaran hidup, kerap diperparah dengan keterbatasan atau ketiadaan komunikasi di dalam keluarga inti, baik antara anak-anak muda ini dengan orang tuanya, atau antara anak-anak muda ini dengan saudara-saudara terdekatnya yang dapat dimintai pertimbangan atau masukan.

Komunikasi dengan orang tua, selain karena perbedaan memandang dan memahami dunia yang sudah berubah, sering kali juga dihadapkan pada kekakuan orang-orang tua untuk memaksakan kehendak mereka kepada anak-anaknya yang sebenarnya sedang kebingungan.

Ilmu atau seni berperang Sun Tzu yang paling dasar mengajarkan, jika kamu ingin memenangkan peperangan, jauh sebelum kamu mengenal dan mengidentifikasi musuh-musuhmu, maka yang harus dikenali dan diketahui secara persis adalah kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Itulah hal yang paling dasar.

Jika karier dianalogikan sebagai suatu medan pertempuran, untuk dapat memasuki gelanggang tersebut dan dapat memiliki peran yang penting dalam pertarungan hidup, seseorang harus tahu benar apa yang menjadi kekuatannya, sekaligus sisi-sisi lemah mana yang ada dalam dirinya.

Jangankan untuk meningkatkan atau menghilangkan kelemahan-kelemahan dalam diri anak-anak muda first jobber yang sedang memasuki gelanggang pekerjaan, bahkan tidak sedikit anak-anak ini yang tidak tahu apa kekuatan mereka, yang membuat mereka berbeda dari anak-anak yang sama yang juga sedang berada di dalam gelanggang berebut posisi pekerjaan.



Karena itu, dalam setiap kesempatan saya bertemu dengan anak-anak muda yang sedang berada di awal karier mereka, dan mendapatkan kesempatan untuk berbagi, saya selalu mengatakan bahwa kunci utama untuk mendapatkan kemajuan di dalam karier dan pekerjaan adalah sedapat mungkin bekerjalah pada dunia yang sesuai dengan passion-mu, atau sekurang-kurangnya, pekerjaan yang ditekuni mendukung passion yang dipunyai.

Masalahnya, dalam kompetisi dunia kerja yang sedemikian ketat, tidak jarang orang tidak memiliki kemewahan untuk dapat memilih. Nah, bagaimana kalau situasinya memaksa seperti demikian? Bekerja tidak sesuai dengan passion-nya, atau passion yang dimiliki tidak mendukung apa yang pekerjaan yang sedang ditekuni.

Saya berpendapat, bahwa mengejar dan menghidupi passion memang merupakan hal paling membahagiakan. Tetapi, setiap orang yang harus bekerja demi tujuan tertentu dan pokok, yakni mendapatkan penghasilan. Itulah syarat yang harus dipenuhi pertama kali, yaitu memperoleh uang sebagai mekanisme paling dasar untuk bertahan hidup. Karena tanpa itu, passion tidak ada artinya apa-apa.

Jika orang cenderung tidak mau melenturkan diri dengan kondisi yang dihadapi, dan memilih menuruti dorongan perasaan atau emosinya, mengejar passion sehabis-habisnya, ia bisa mengalami kegagalan demi kegagalan, karena tidak memiliki dukungan minimal yang dibutuhkan. Apa itu dukungan minimal? Survive!

Maka, survival, dalam pendapat saya, tetap menjadi dasar, sampai ia dapat menemukan kestabilan dan keseimbangan, dan barulah kemudian memiliki kesempatan atau pilihan-pilihan lain. Tanpa kemampuan survival pada tahap awal ini, pengalaman saya selama ini sebagai praktisi human capital mengelola manusia dari satu korporasi ke korporasi lainnya, memberikan bukti bahwa tidak sedikit orang yang kemudian terjebak dalam rasa frustrasi. Passion-nya tidak dapat dikembangkan, sementara kariernya mentok tidak bergerak ke mana-mana.
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top