BIN Sebut Medsos Telah Menjadi Inkubator Suburnya Radikalisme
Selasa, 30 Maret 2021 - 13:59 WIB
loading...
Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto mengungkapkan analisis lembaganya bahwa medsos menjadi inkubator paham radikalisme. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan pesat media sosial ( medsos ) sebagai salah satu produk teknologi informasi di satu sisi dianggap sebagai kemajuan. Masyarakat dengan mudah dapat mengakses informasi apa pun melalui medsos. Tetapi di titik ini pula medsos dianggap memberi andil pada penyebaran paham radikalisme di Indonesia.
Menurut Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto, target atau sasaran penyebaran paham ini adalah generasi milenial. "Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda, rentang biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," kata Wawan dalam webinar bertajuk 'Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial', Selasa (30/3/2021).
Baca juga: Ketum PBNU: Bukan PKI Bahaya Laten tapi Terorisme dan Radikalisme
Analisis BIN ini, ungkap Wawan, dikuatkan juga dengan hasil survei terbaru yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Survei mendapatkan kesimpulan bahwa 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme. Wawan memandang penting bagi seluruh masyarakat untuk menyikapi hal tersebut.
"Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek ricek, dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berfikir," ujarnya.
Menurut Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto, target atau sasaran penyebaran paham ini adalah generasi milenial. "Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda, rentang biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," kata Wawan dalam webinar bertajuk 'Mencegah Radikalisme & Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial', Selasa (30/3/2021).
Baca juga: Ketum PBNU: Bukan PKI Bahaya Laten tapi Terorisme dan Radikalisme
Analisis BIN ini, ungkap Wawan, dikuatkan juga dengan hasil survei terbaru yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Survei mendapatkan kesimpulan bahwa 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme. Wawan memandang penting bagi seluruh masyarakat untuk menyikapi hal tersebut.
"Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek ricek, dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berfikir," ujarnya.
Lihat Juga :