Sejumlah Kalangan Ingatkan Pentingnya Transparansi Anggaran Vaksinasi

Senin, 08 Maret 2021 - 18:40 WIB
loading...
Sejumlah Kalangan Ingatkan...
Petugas Aviation Security atau AVSEC mengikuti vaksinasi Covid-19 di kantor Angkasapura 2 di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (6/3/2021). Foto/SINDOphoto/Yorri Farli
A A A
JAKARTA - Transparansi mengenai pengadaan vaksin itu sangat diperlukan agar dapat dipastikan semua masyarakat Indonesia bisa mendapatkan vaksinasi Covid-19 . Ketika virus ini hilang diharapkan kondisi perekonomian negara juga dapat diperbaiki.

“Selain itu trasparansi data ini diperlukan agar tindakan korupsi bisa dihindari. Bahwa transparansi harus dimulai dari penganggaran,” kata Ketua Komisi Informasi DKI Jakarta, Harry Ara Hutabarat dalam diskusi daring “Vaksinasi untuk Siapa? Menggugat Transparansi dan Akuntabilitas Publik” yang digelar oleh Centre for Strategic and Indonesian Public Policy (CSIPP), Minggu (7/3/2021). Baca juga: Update Vaksinasi 8 Maret: Lebih 3 Juta Orang Telah Divaksinasi COVID-19 di Tanah Air

Menurut Harry Ara, warga Indonesia memiliki hak untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan publik. Pasalnya, yang punya negara ini bukan hanya elit dan pemerintah, tetapi publik.

“Karena itu pemerintah harus mendorong masyarakat publik terlibat dalam setiap pengambilan kebijakan publik, termasuk dalam pengambilan kebijakan mengenai penyelenggaraan vaksinasi,” ujarnya.

Peneliti Visi Integritas, Donal Fariz mengingatkan pemerintah di dalam proses pengadaan vaksin ada persoalan-persolaan hukum yang muncul di kemudian hari. Baik dari volume maupun nilai nominal pengadaan barang dan jasa. “Hal ini penting dilakukan untuk mencegah kasus korupsi yang kemungkinan akan terjadi,” kata Donal Fariz.

Donal juga mengingatkan agar jangan sampai ada oknum yang memanfaatkan kesempatan vaksin yang dibeli dengan dana APBN untuk dijual kembali demi mendapatkan keuntungan pribadi. “Selalu ada potensi penumpang gelap dalam proses pengadaan barang dan jasa seperti kasus bantuan sosial yang terjadi di Kementerian Sosial,” ujarnya.

Karena itu, Donal Fariz mendorong pemerintah mencegah potensi terjadinya korupsi dalam program vaksinasi . Di antaranya dengan meningkatkan akuntabilitas, mengurangi (reduce) sebesar mungkin terjadinya monopoli, dan mengurangi pemberian diskresi. Baca juga: KPCPEN: Vaksin Gotong Royong Percepat Herd Immunity

Manajer advokasi CSIPP, Ikhwan Fahrojih menyoroti transparansi data yang akan menerima vaksin. Semuanya harus memperhatikan data yang diambil dari BPJS Kesehatan, di mana 27,4 juta data penerima bantuan iuran (PBI) bermasalah. "Dari 4 tahapan vaksinasi ini datanya benar-benar bisa valid,” katanya.

Apalagi, kata dia, dengan adanya mekanisme vaksin gotong royong yang ditargetkan akan menjangkau 20 juta orang. Masalah data akan semakin krusial dan penting. ”Agar proses vaksinasi ini dapat menghindari korupsi dan mendukung usaha pemerintah terkait pemenuhan hak kesehatan warga jangan sampai tertinggal,” tegasnya.

Anggota Komisi II DPR, Zulfikar Arse Sadikin menegaskan Presiden Joko Widodo mempunyai komitmen yang tinggi untuk menyelamatkan bangsa Indonesia terbebas dari Covid-19. Oleh karena itu kita yang mengimplementasikan hal itu harus sama-sama mensukseskan vaksin ini.

Legislator Partai Golkar itu mewanti-wanti jangan sampai program ini memunculkan moral hazard baru. Jangan sampai kondisi darurat ini dimanfaatkan untuk mencari untung supaya publik itu memang makin percaya dan yakin bahwa para penyelenggara negara bertanggung jawab betul terhadap komitmen mewujudkan kesehatan masyarakat.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mulai 2024 Vaksin Covid-19...
Mulai 2024 Vaksin Covid-19 Tak Gratis, Yerry Tawalujan Berharap Harganya Terjangkau Peserta BPJS
YKMI Harap PTUN Jakarta...
YKMI Harap PTUN Jakarta Ikuti Putusan MA soal Vaksin Halal
Kemenkes Kawal Pandemi...
Kemenkes Kawal Pandemi Covid-19 hingga Resmi Berakhir
Menkes Sebut Vaksinasi...
Menkes Sebut Vaksinasi Covid-19 Berbayar Strategi Menuju Endemi
BPOM: Indonesia Berhasil...
BPOM: Indonesia Berhasil Produksi Tiga Vaksin Covid-19 Secara Mandiri di 2022
YKMI Kembali Ajukan...
YKMI Kembali Ajukan Keberatan Administrasi terkait Vaksin Halal
Negara Bagian AS Gugat...
Negara Bagian AS Gugat Pfizer atas Klaim Vaksin Covid-19 yang Dianggap Menyesatkan
Pemprov DKI Sediakan...
Pemprov DKI Sediakan 26.000 Dosis Vaksin Covid-19
Sempat Dirawat Intensif,...
Sempat Dirawat Intensif, 2 Pasien Positif Covid-19 Meninggal Dunia
Rekomendasi
Malih Tong Tong Doakan...
Malih Tong Tong Doakan Haji Bolot Cepat Sembuh, Akui Rindu Kerja Bareng Lagi
Gandeng CEO Kreta Digital,...
Gandeng CEO Kreta Digital, Dispora Kota Batam Gelar Pelatihan Digital Marketing
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Berita Terkini
Menang Lagi di PN Jakpus,...
Menang Lagi di PN Jakpus, Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen pada SK Plt Maluku
Di Seskoau, Sjafrie:...
Di Seskoau, Sjafrie: Kepemimpinan Adaptif Penting Hadapi Tantangan Pertahanan Masa Depan
Indonesia Emas 2045...
Indonesia Emas 2045 Taruhannya: Ketika Pundak Gen Z Rapuh Tanpa Jangkar Moral
Threshold DPRD Dinilai...
Threshold DPRD Dinilai Reduksi Demokrasi Lokal, Gardian Muhammad Minta Reformasi Politik Substantif
Pengamat: Dugaan Manipulasi...
Pengamat: Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Harus Diusut demi Kepastian Hukum
SOKSI dan P2MI Teken...
SOKSI dan P2MI Teken MoU Dorong Pekerja Migran Terampil
Infografis
Sejumlah Pabrik di China...
Sejumlah Pabrik di China Mulai Stop Produksi Akibat Tarif AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved