SPP Dikeluhkan, 119 Siswa Menikah Selama Pembelajaran Jarak Jauh
Rabu, 17 Februari 2021 - 14:52 WIB
loading...
KPAI menemukan 119 siswa menikah selama penerapan kebijakan belajar di rumah atau belajar jaraj jauh. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA -
Pandemi Covid-19 tidak saja membuat aktivitas belajar mengajar ”porak-poranda”. Lebih dari itu, pandemi berpotensi meningkatkan angka putus sekolah , juga pernikahan anak .
Salah satu indikasinya bisa dilihat dari banyaknya pengaduan orangtua siswa yang kesulitan membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) di berbagai daerah. SPP banyak dikeluhkan di sekolah-sekolah swasta.
Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti pengaduan yang diterimanya berasal dari delapan provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Riau.
(Baca:Lewat Songket Pertamina Dukung UMKM, Berdayakan Perempuan dan Anak Putus Sekolah)
Pengaduan terbesar dari DKI Jakarta sebesar 45,2 persen dan Jawa Barat 22,58 persen. Kemudian disusul Banten 9,67 persen dan Jawa Tengah 6,45 persen. Sebagian dari kasus itu diselesaikan melalui mediasi antara orang tua siswa, sekolah, dan dinas pendidikan.
Pandemi Covid-19 tidak saja membuat aktivitas belajar mengajar ”porak-poranda”. Lebih dari itu, pandemi berpotensi meningkatkan angka putus sekolah , juga pernikahan anak .
Salah satu indikasinya bisa dilihat dari banyaknya pengaduan orangtua siswa yang kesulitan membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) di berbagai daerah. SPP banyak dikeluhkan di sekolah-sekolah swasta.
Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti pengaduan yang diterimanya berasal dari delapan provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Riau.
(Baca:Lewat Songket Pertamina Dukung UMKM, Berdayakan Perempuan dan Anak Putus Sekolah)
Pengaduan terbesar dari DKI Jakarta sebesar 45,2 persen dan Jawa Barat 22,58 persen. Kemudian disusul Banten 9,67 persen dan Jawa Tengah 6,45 persen. Sebagian dari kasus itu diselesaikan melalui mediasi antara orang tua siswa, sekolah, dan dinas pendidikan.
Lihat Juga :