Menata Kampus Digital
Rabu, 17 Februari 2021 - 05:08 WIB
loading...
Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MH (Foto: Istimewa)
A
A
A
Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MH
Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta
KETIKA pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) melanda di penjuru dunia, agenda perkuliahan berubah, dari yang sebelumnya luar jaringan (luring) menjadi dalam jaringan (daring). Tidak boleh tatap muka. Sistem pembelajaran seluruh Tanah Air, dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai jenjang perguruan tinggi (PT) diberlakukan metode daring. Metode perkuliahan daring merupakan sebuah proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang awalnya belum familier bagi rata-rata kampus karena kemampuan “kasta” perguruan tinggi.
Melalui metode perkuliahan daring seolah sebatas memenuhi ketentuan social distancing maupun physicaldistancing supaya mahasiswa dan dosen sadar untuk saling menjaga jarak. Baik dosen maupun mahasiswa sering mengeluh karena model daring dianggap cukup menyulitkan, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur atau sarana yang belum memadai. Lebih menggelisahkan lagi ketika tradisi kuliah daring dianggap belum menjadi budaya dunia pendidikan sebelumnya.
Budaya Mandiri
Saat pandemi Covid-19 menggurita, kampus mengalami transformasi belajar yang luar biasa. Pada awalnya tidak biasa, kaum akademisi dipaksa melakukan tradisi baru dalam dunia pendidikan tinggi. Teknologi menjadi garda terdepan bagi kaum akademisi dalam melakukan proses perkuliahan yang belum diketahui implikasi luarannya. Semestinya kebiasaan belajar bukan pada aspek penggunaan teknologi, tetapi yang lebih penting adalah tumbuhnya budaya belajar di setiap individu.
Baik dosen maupun mahasiswa, sesungguhnya, tak ada alasan untuk tidak belajar walaupun tidak datang ke kampus. Dengan akses ilmu yang lebih terbuka saat ini, setiap orang akan mudah belajar secara mandiri saat di tengah pandemi Covid-19. Saat kuliah daring menjadi persoalan, tetapi problem yang sebenarnya adalah budaya belajar yang masih rendah. Seolah mahasiswa tidak datang ke kampus tidak kuliah. Dosen tidak hadir di kampus tidak masuk dan tidak mengajar. Bagi yang mempunyai tingkat kesadaran belajar tinggi, daring atau luring bukan menjadi persoalan karena kesadaran untuk mau ke kampus atau luar kampus akan tetap belajar, kapan dan di mana pun.
Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta
KETIKA pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) melanda di penjuru dunia, agenda perkuliahan berubah, dari yang sebelumnya luar jaringan (luring) menjadi dalam jaringan (daring). Tidak boleh tatap muka. Sistem pembelajaran seluruh Tanah Air, dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai jenjang perguruan tinggi (PT) diberlakukan metode daring. Metode perkuliahan daring merupakan sebuah proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang awalnya belum familier bagi rata-rata kampus karena kemampuan “kasta” perguruan tinggi.
Melalui metode perkuliahan daring seolah sebatas memenuhi ketentuan social distancing maupun physicaldistancing supaya mahasiswa dan dosen sadar untuk saling menjaga jarak. Baik dosen maupun mahasiswa sering mengeluh karena model daring dianggap cukup menyulitkan, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur atau sarana yang belum memadai. Lebih menggelisahkan lagi ketika tradisi kuliah daring dianggap belum menjadi budaya dunia pendidikan sebelumnya.
Budaya Mandiri
Saat pandemi Covid-19 menggurita, kampus mengalami transformasi belajar yang luar biasa. Pada awalnya tidak biasa, kaum akademisi dipaksa melakukan tradisi baru dalam dunia pendidikan tinggi. Teknologi menjadi garda terdepan bagi kaum akademisi dalam melakukan proses perkuliahan yang belum diketahui implikasi luarannya. Semestinya kebiasaan belajar bukan pada aspek penggunaan teknologi, tetapi yang lebih penting adalah tumbuhnya budaya belajar di setiap individu.
Baik dosen maupun mahasiswa, sesungguhnya, tak ada alasan untuk tidak belajar walaupun tidak datang ke kampus. Dengan akses ilmu yang lebih terbuka saat ini, setiap orang akan mudah belajar secara mandiri saat di tengah pandemi Covid-19. Saat kuliah daring menjadi persoalan, tetapi problem yang sebenarnya adalah budaya belajar yang masih rendah. Seolah mahasiswa tidak datang ke kampus tidak kuliah. Dosen tidak hadir di kampus tidak masuk dan tidak mengajar. Bagi yang mempunyai tingkat kesadaran belajar tinggi, daring atau luring bukan menjadi persoalan karena kesadaran untuk mau ke kampus atau luar kampus akan tetap belajar, kapan dan di mana pun.
Lihat Juga :