Sosok Intelektual Transformatif
Senin, 08 Februari 2021 - 05:08 WIB
loading...
A
A
A
Selain di dunia kampus, Mas Fiz juga tercatat pernah aktif di pemerintahan dan korporasi. Pada Juni 2012, Presiden SBY memintanya sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Dia sempat menjadi Komisaris PT Perusahaan Gas Negara (2012-2015), anggota Dewan Penasihat Menteri Perikanan dan Kelautan RI (2012–2013), anggota Komite Manajemen Risiko PT CIMB Niaga Tbk (2016–sekarang), anggota Dewan Penasihat Kadin (2016–sekarang), dan lain-lain.
Mas Fiz yang saya kenal merupakan sosok transformatif. Dia memiliki keunggulan dalam memadukan dua kesadaran yang sama pentingnya, yakni kesadaran diskursif (discursive conciousness) dan kesadaran praktis (practical conciousness). Bukan semata pandai berwacana, melainkan juga langkah serta kiprahnya konkret dan dirasakan di berbagai bidang. Sosok visioner, solutif, dan cekatan dalam melakukan refleksivitas organisasi. Poole, Seibold, dan McPhee dalam Hirokawa, RY & M.S Poole di bukunya Communication and Group Decision Making (1986) memandang perlu adanya refleksivitas (reflexivity) dalam setiap upaya membangun perbaikan organisasi.
Refleksivitas pada dasarnya merujuk pada kemampuan aktor untuk memonitor tindakan-tindakan dan perilaku mereka. Sebagian besar refleksivitas didasarkan pada pengalaman masa lalu yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. Dengan membaca masa lalu dan memperbaikinya, sesungguhnya kita bisa menatap masa depan yang jauh lebih baik. Hal ini tecermin dari beberapa kali saya dan Mas Fiz terlibat dalam perbincangan tentang apa yang sedang dia kerjakan dalam memperbaiki kondisi di Universitas Paramadina sejak 2015. Tekad kuat juga tergambar jelas di berbagai aktivitasnya di setiap organisasi yang dia masuki. Bekerja maksimal, fokus dan meninggalkan warisan baik. Itu beberapa prinsip yang saya tangkap dari obrolan dengannya.
Memperkuat IVL
Saya dan Mas Fiz sebaya. Selisihnya hanya satu bulan. Mas Fiz lahir Juli 1976, saya Agustus dengan tahun yang sama. Jadi sama-sama 44 tahun. Kami bekerja di kampus berbeda. Mas Fiz di UI Depok, saya di UIN Ciputat. Awal perjumpaan pertama seingat saya pada 2012. Saat kami sering diundang bersama dalam berbagai forum seminar ataupun talkshow bertema marketing politik. Irisan tersebut karena saya membidangi komunikasi politik. Saat masuk Istana menjadi Stafsus Bidang Ekonomi era Presiden SBY, lama tak berjumpa secara fisik.
Barulah saat kembali ke kampus dan memimpin Universitas Paramadina pada 2015, saya dan Mas Fiz kerap berjumpa lagi baik di acara kampus maupun berbagai forum di luar kampus. Tentu juga berjumpa di berbagai talkshow yang dibuat teman-teman media. Yang membuat kami semakin dekat dimulai sejak sama-sama menjadi expert panelist Program People of Year 2014 yang dibuat KORAN SINDO. Saat itu panelis terdiri atas Mas Fiz, saya, Dirjen Otda Kemendagri Sony Soemarsono, dan Pembina Indonesia Institute for Corporate Directorship (IICD) Andi Ilham Said. Program People of The Year (PoTY) KORAN SINDO semula berfokus pada empat kategori khusus, yakni kategori tokoh muda, tokoh perempuan, CEO, dan kepala daerah. Program ini kemudian bertransformasi menjadi Indonesia Visionary Leader (IVL), program sangat bagus yang digelar setiap tahun untuk menguji gagasan dan kiprah para kepala daerah di Indonesia. Dalam rentang 2015–2020 sudah ada 6 kali IVL digelar dengan formasi expert panelist tetap, kecuali perubahan Sony Soemarsono yang tak lagi menjadi Dirjen Otda Kemendagri yang digantikan Akmal Malik.
Mas Fiz yang saya kenal merupakan sosok transformatif. Dia memiliki keunggulan dalam memadukan dua kesadaran yang sama pentingnya, yakni kesadaran diskursif (discursive conciousness) dan kesadaran praktis (practical conciousness). Bukan semata pandai berwacana, melainkan juga langkah serta kiprahnya konkret dan dirasakan di berbagai bidang. Sosok visioner, solutif, dan cekatan dalam melakukan refleksivitas organisasi. Poole, Seibold, dan McPhee dalam Hirokawa, RY & M.S Poole di bukunya Communication and Group Decision Making (1986) memandang perlu adanya refleksivitas (reflexivity) dalam setiap upaya membangun perbaikan organisasi.
Refleksivitas pada dasarnya merujuk pada kemampuan aktor untuk memonitor tindakan-tindakan dan perilaku mereka. Sebagian besar refleksivitas didasarkan pada pengalaman masa lalu yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang. Dengan membaca masa lalu dan memperbaikinya, sesungguhnya kita bisa menatap masa depan yang jauh lebih baik. Hal ini tecermin dari beberapa kali saya dan Mas Fiz terlibat dalam perbincangan tentang apa yang sedang dia kerjakan dalam memperbaiki kondisi di Universitas Paramadina sejak 2015. Tekad kuat juga tergambar jelas di berbagai aktivitasnya di setiap organisasi yang dia masuki. Bekerja maksimal, fokus dan meninggalkan warisan baik. Itu beberapa prinsip yang saya tangkap dari obrolan dengannya.
Memperkuat IVL
Saya dan Mas Fiz sebaya. Selisihnya hanya satu bulan. Mas Fiz lahir Juli 1976, saya Agustus dengan tahun yang sama. Jadi sama-sama 44 tahun. Kami bekerja di kampus berbeda. Mas Fiz di UI Depok, saya di UIN Ciputat. Awal perjumpaan pertama seingat saya pada 2012. Saat kami sering diundang bersama dalam berbagai forum seminar ataupun talkshow bertema marketing politik. Irisan tersebut karena saya membidangi komunikasi politik. Saat masuk Istana menjadi Stafsus Bidang Ekonomi era Presiden SBY, lama tak berjumpa secara fisik.
Barulah saat kembali ke kampus dan memimpin Universitas Paramadina pada 2015, saya dan Mas Fiz kerap berjumpa lagi baik di acara kampus maupun berbagai forum di luar kampus. Tentu juga berjumpa di berbagai talkshow yang dibuat teman-teman media. Yang membuat kami semakin dekat dimulai sejak sama-sama menjadi expert panelist Program People of Year 2014 yang dibuat KORAN SINDO. Saat itu panelis terdiri atas Mas Fiz, saya, Dirjen Otda Kemendagri Sony Soemarsono, dan Pembina Indonesia Institute for Corporate Directorship (IICD) Andi Ilham Said. Program People of The Year (PoTY) KORAN SINDO semula berfokus pada empat kategori khusus, yakni kategori tokoh muda, tokoh perempuan, CEO, dan kepala daerah. Program ini kemudian bertransformasi menjadi Indonesia Visionary Leader (IVL), program sangat bagus yang digelar setiap tahun untuk menguji gagasan dan kiprah para kepala daerah di Indonesia. Dalam rentang 2015–2020 sudah ada 6 kali IVL digelar dengan formasi expert panelist tetap, kecuali perubahan Sony Soemarsono yang tak lagi menjadi Dirjen Otda Kemendagri yang digantikan Akmal Malik.
Lihat Juga :