Imigran (Makin) Merana di Tengah Corona
Senin, 18 Mei 2020 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Banyak yang menganggap para imigran sebagai 'parasit' negara. Tidak salah, tapi saya yakin bukan keinginan mereka untuk ada di Indonesia dengan waktu yang sangat lama dan luntang lantung tanpa kejelasan. Saya pun percaya, bahwa pekerjaan untuk mencarikan negara tujuan bagi para pencari suaka bukan pekerjaan mudah dan merupakan kendala semula negara yang menjadi tujuan para pencari suaka.
Saya berkesempatan untuk berbincang langsung melalui sambungan video call dengan salah satu imigran yang 'dituakan' yaitu, Hasan Ramazan Rateq di penampungan Kalideres, Jakarta Barat. Menurutnya, UNHCR pernah mendatangi penampungan satu kali pada saat mensosialisasikan Covid-19 kepada para imigran. UNHCR juga hadir memberikan hand sanitizer, sabun cuci tangan cair dan masker.
Dari laporan 230 hand sanitizer yang dikirimkan, para imigran hanya menerima 195 botol dan para imigran diberikan satu botol cuci tangan untuk setiap orang yang ada di penampungan. Setelah bantuan ini diberikan, belum lagi pihak yang datang mengunjungi. Upaya untuk mengecek kesehatan atau rapid test untuk para imigran juga belum dilakukan. Sementara rapid test penting dilakukan mengingat mereka sangat sulit melakukan physical distancing dan besar kemungkinan akibat hal tersebut bisa saling menularkan penyakit.
Bagaimana bisa melakukan physical distancing, jika kapasitas penampungan untuk 100 orang, namun imigiran disana hingga 230 orang. Mereka tinggal di dalam gedung, hanya dibatasi kain terpal dan tenda antara satu keluarga dengan yang lainnya. Dalam satu tenda kecil, bisa berisi dua orang dewasa dan dua anak kecil. Tidak ada fasilitas apa-apa, selain kipas kecil untuk menyejukkan hari-hari mereka di dalam penampungan, itupun biaya listrik dibayar oleh donatur.
Sulit bagi mereka melakukan physical distancing karena terdapat hampir 40 anak-anak yang masih bermain satu sama lain, berjabat tangan, dan juga berhubungan langsung dengan orang tua mereka. Belum lagi di dalam penampungan, tenda yang dibangun berdampingan langsung dengan saluran pembuangan. Menurut saya, penyakit yang diakibatkan bisa jadi lebih parah dibandingkan Covid-19.
Menurut Hasan, sosialisasi mengenai wajib cuci tangan dan gunakan masker telah dilakukan dengan memberikan poster mengenai Covid-19. Tetapi hanya ada dua kamar mandi untuk menampung 230 imigran lebih, dengan kapasitas air terbatas membuat hal yang disosialisasikan seperti mustahil bisa dilakukan. Satu kamar mandi untuk 150 orang pria dan satu kamar mandi untuk perempuan dan sisanya.
Saya berkesempatan untuk berbincang langsung melalui sambungan video call dengan salah satu imigran yang 'dituakan' yaitu, Hasan Ramazan Rateq di penampungan Kalideres, Jakarta Barat. Menurutnya, UNHCR pernah mendatangi penampungan satu kali pada saat mensosialisasikan Covid-19 kepada para imigran. UNHCR juga hadir memberikan hand sanitizer, sabun cuci tangan cair dan masker.
Dari laporan 230 hand sanitizer yang dikirimkan, para imigran hanya menerima 195 botol dan para imigran diberikan satu botol cuci tangan untuk setiap orang yang ada di penampungan. Setelah bantuan ini diberikan, belum lagi pihak yang datang mengunjungi. Upaya untuk mengecek kesehatan atau rapid test untuk para imigran juga belum dilakukan. Sementara rapid test penting dilakukan mengingat mereka sangat sulit melakukan physical distancing dan besar kemungkinan akibat hal tersebut bisa saling menularkan penyakit.
Bagaimana bisa melakukan physical distancing, jika kapasitas penampungan untuk 100 orang, namun imigiran disana hingga 230 orang. Mereka tinggal di dalam gedung, hanya dibatasi kain terpal dan tenda antara satu keluarga dengan yang lainnya. Dalam satu tenda kecil, bisa berisi dua orang dewasa dan dua anak kecil. Tidak ada fasilitas apa-apa, selain kipas kecil untuk menyejukkan hari-hari mereka di dalam penampungan, itupun biaya listrik dibayar oleh donatur.
Sulit bagi mereka melakukan physical distancing karena terdapat hampir 40 anak-anak yang masih bermain satu sama lain, berjabat tangan, dan juga berhubungan langsung dengan orang tua mereka. Belum lagi di dalam penampungan, tenda yang dibangun berdampingan langsung dengan saluran pembuangan. Menurut saya, penyakit yang diakibatkan bisa jadi lebih parah dibandingkan Covid-19.
Menurut Hasan, sosialisasi mengenai wajib cuci tangan dan gunakan masker telah dilakukan dengan memberikan poster mengenai Covid-19. Tetapi hanya ada dua kamar mandi untuk menampung 230 imigran lebih, dengan kapasitas air terbatas membuat hal yang disosialisasikan seperti mustahil bisa dilakukan. Satu kamar mandi untuk 150 orang pria dan satu kamar mandi untuk perempuan dan sisanya.
Lihat Juga :