alexametrics

Imigran (Makin) Merana di Tengah Corona

loading...
Imigran (Makin) Merana di Tengah Corona
Shafinaz Nachiar, Jurnalis MNC Group Media, News Presenter Seputar Inews RCTI.Foto/Instagram.Shafinaz
A+ A-
Shafinaz Nachiar
Jurnalis MNC Group Media, News Presenter Seputar Inews RCTI.

SEMUA masyarakat di seluruh dunia mengetahui bahwa wabah pandemi Covid-19 sangat berdampak pada berbagai sektor, terutama ekonomi. Di Indonesia, pandemi Covid-19 menyebabkan banyak masyarakat miskin mendadak, bahkan terpaksa alih profesi akibat di PHK.

Kesulitan dirasakan merata bagi si miskin dan si kaya. Kesulitan ekonomi pun tidak hanya dirasakan warga negara Indonesia saja, melainkan warga negara asing yang tinggal di Indonesia merasakan dampaknya.



Saya membicarakan nasib para pencari suaka, bukan pengusaha asing. Indonesia sudah sejak beberapa tahun kebelakang menjadi negara dengan banyak para pencari suaka. Tak sedikit dari mereka yang sudah berada di Indonesia hingga puluhan tahun, hanya menunggu kepastian suaka oleh UNHCR. Kini sebagian para pencari suaka tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya Jakarta, tepatnya di Kalideres, Jakarta Barat.

Jakarta sampai dengan 22 Mei 2020 mendatang masih akan menjalankan PSBB atau lockdown 'kecil kecilan'. Bayangkan tanpa PSBB pun, para imigran ini sudah terbiasa "terisolasi' di gedung tanpa listrik, tak bisa bekerja, dan hanya bergantung pada bantuan masyarakat. Di tengah PSBB Jakarta, mereka memutuskan karantina sendiri, sehingga makin kecil kemungkinan mereka bisa keluar untuk mencari tambahan makanan.

Kondisi kesulitan para imigran sama sulitnya dengan banyaknya warga miskin di Jakarta, bedanya WNI yang miskin bisa bebas berusaha bekerja serabutan. Sementara para imigran dilarang melakukan apapun karena mereka ilegal dan berisiko pidana jika bekerja tanpa izin.

Banyak yang menganggap para imigran sebagai 'parasit' negara. Tidak salah, tapi saya yakin bukan keinginan mereka untuk ada di Indonesia dengan waktu yang sangat lama dan luntang lantung tanpa kejelasan. Saya pun percaya, bahwa pekerjaan untuk mencarikan negara tujuan bagi para pencari suaka bukan pekerjaan mudah dan merupakan kendala semula negara yang menjadi tujuan para pencari suaka.

Saya berkesempatan untuk berbincang langsung melalui sambungan video call dengan salah satu imigran yang 'dituakan' yaitu, Hasan Ramazan Rateq di penampungan Kalideres, Jakarta Barat. Menurutnya, UNHCR pernah mendatangi penampungan satu kali pada saat mensosialisasikan Covid-19 kepada para imigran. UNHCR juga hadir memberikan hand sanitizer, sabun cuci tangan cair dan masker.

Dari laporan 230 hand sanitizer yang dikirimkan, para imigran hanya menerima 195 botol dan para imigran diberikan satu botol cuci tangan untuk setiap orang yang ada di penampungan. Setelah bantuan ini diberikan, belum lagi pihak yang datang mengunjungi. Upaya untuk mengecek kesehatan atau rapid test untuk para imigran juga belum dilakukan. Sementara rapid test penting dilakukan mengingat mereka sangat sulit melakukan physical distancing dan besar kemungkinan akibat hal tersebut bisa saling menularkan penyakit.

Bagaimana bisa melakukan physical distancing, jika kapasitas penampungan untuk 100 orang, namun imigiran disana hingga 230 orang. Mereka tinggal di dalam gedung, hanya dibatasi kain terpal dan tenda antara satu keluarga dengan yang lainnya. Dalam satu tenda kecil, bisa berisi dua orang dewasa dan dua anak kecil. Tidak ada fasilitas apa-apa, selain kipas kecil untuk menyejukkan hari-hari mereka di dalam penampungan, itupun biaya listrik dibayar oleh donatur.

Sulit bagi mereka melakukan physical distancing karena terdapat hampir 40 anak-anak yang masih bermain satu sama lain, berjabat tangan, dan juga berhubungan langsung dengan orang tua mereka. Belum lagi di dalam penampungan, tenda yang dibangun berdampingan langsung dengan saluran pembuangan. Menurut saya, penyakit yang diakibatkan bisa jadi lebih parah dibandingkan Covid-19.

Menurut Hasan, sosialisasi mengenai wajib cuci tangan dan gunakan masker telah dilakukan dengan memberikan poster mengenai Covid-19. Tetapi hanya ada dua kamar mandi untuk menampung 230 imigran lebih, dengan kapasitas air terbatas membuat hal yang disosialisasikan seperti mustahil bisa dilakukan. Satu kamar mandi untuk 150 orang pria dan satu kamar mandi untuk perempuan dan sisanya.

Di tengah bulan Ramadhan, kebanyakan imigran yang berpuasa harus mengantre panjang demi bisa mengambil wudhu atau mandi. Kondisi kamar mandi dan pipa pembuangan hanya berjarak lima jengkal dan pipa itupun tidak pernah dibersihkan hingga kondisinya sekarang sudah penuh. Lagi-lagi penyakit yang bisa ditimbulkan bisa jadi lebih bahaya dari Covid-19. Penggunaan air dibatasi di penampungan, mereka memiliki air pada pukul 04.00-10.00 dan pukul 16.00-22.00, total 12 jam sehari untuk 230 orang. Tak jarang dalam sehari bisa tidak ada air sama sekali. Semakin jelas, upaya untuk mencuci tangan sesering mungkin semakin sulit dilakukan.

Selama masa karantina di penampungan, mereka menutup pintu masuk selama 24 jam. Jika sebelumnya para imigran bisa membeli apapun yang dibutuhkan sendiri, maka sekarang hanya ada beberapa orang yang diizinkan keluar untuk memenuhi kebutuhan imigran di penampungan. Selama menjalankan ibadah puasa, para imigran yang berpuasa hanya mengandalkan donatur untuk bisa makan.

Jika bicara kesulitan, kondisi imigran tanpa kejelasan masa depan, tanpa bisa bekerja walaupun serabutan, anak-anak tanpa pendidikan, jauh dari keluarga di negara asal, dan memiliki ketakutan untuk kembali ke negara asal yang berkonflik, tentu membuat para imigran ini dalam kondisi yang jauh lebih sulit dari warga miskin di Indonesia. Warga miskin di Indonesia terdata dan legal berada di negara ini, sedikit atau banyak akan menerima bantuan dari pemerintah, walaupun tak jarang pembagian bantuan tak merata.

Berbeda dengan kondisi para imigran, mereka ilegal dan tidak termasuk yang akan mendapat bantuan resmi dari pemerintah. Para imigran hanya mengandalkan donatur dan UNHCR sebagai penanggung jawab mereka. UNHCR diharapkan bisa menunjukkan perhatian lebih terhadap seluruh pencari suaka di Indonesia, apalagi saat berada di tengah pandemi seperti saat ini.

Pantauan kesehatan dan keebrsihan menjadi hal yang perlu UNHCR Indonesia utamakan, agar para imigran bisa terhindar dari Covid-19. Kesulitan para imigran yang terlampau lama, bisa menjadi kegagalan suatu lembaga penanggung jawab dalam menangani masalah.
(hab)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak