Positif COVID-19 Diprediksi Tembus 1 Juta Kasus, Pakar Epidemiologi: Kondisinya Sangat Serius
Sabtu, 23 Januari 2021 - 13:52 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian yang kedua, Dicky menyebutkan faktor waktu. Di sini, ia menjelaskan bahwa waktu adalah kemampuan kita dalam mendeteksi kasus mulai dari hasil tes warga sampai rencana karantina terjadi gap yang jauh.
"Begitu banyak waktu yang tercecer sehingga tertinggal jauh dri virus ini menyebar. Dari sisi waktu juga kita tau adanya kematian di satu daerah satu saja, maka satu daerah itu jeda waktunya selama sebulan, itu terjadi secara eksponensial saja dari satu daerah suatu negara jedanya seperti itu. Artinya kondisinya sangat serius," tegasnya.
Adapun faktor yang ketiga, Dicky melihat dari sisi manusianya. Menurut dia, faktor ini bisa dideteksi ketika ada kasus kematian, dan peningkatan kasus positif maka cara pelaporanya tidak bisa dianggap remeh. Ia menilai, ini situasi pandemi, penyakit baru, sehingga dibutuhkan faktor (perilaku) manusia yang harus digali lebih jauh. Baca juga: Dubes-dubes RI Paparkan Penanganan COVID-19 di Jepang, Singapura dan Nigeria
"Untul apa, untuk mengetahui strategi kita, kelemahan kita. Ini harus jelas, kematian, kasus infeksi, data demografinya seperti apa. Dari link klaster karena dari klaster itu bisa ketahuan apakah ada titik-titik potensi-potensi yang khusus yang bernuansa dengan indonesia yang biasanya berkaitan dengan perilaku manusianya," pungkas dia.
"Begitu banyak waktu yang tercecer sehingga tertinggal jauh dri virus ini menyebar. Dari sisi waktu juga kita tau adanya kematian di satu daerah satu saja, maka satu daerah itu jeda waktunya selama sebulan, itu terjadi secara eksponensial saja dari satu daerah suatu negara jedanya seperti itu. Artinya kondisinya sangat serius," tegasnya.
Adapun faktor yang ketiga, Dicky melihat dari sisi manusianya. Menurut dia, faktor ini bisa dideteksi ketika ada kasus kematian, dan peningkatan kasus positif maka cara pelaporanya tidak bisa dianggap remeh. Ia menilai, ini situasi pandemi, penyakit baru, sehingga dibutuhkan faktor (perilaku) manusia yang harus digali lebih jauh. Baca juga: Dubes-dubes RI Paparkan Penanganan COVID-19 di Jepang, Singapura dan Nigeria
"Untul apa, untuk mengetahui strategi kita, kelemahan kita. Ini harus jelas, kematian, kasus infeksi, data demografinya seperti apa. Dari link klaster karena dari klaster itu bisa ketahuan apakah ada titik-titik potensi-potensi yang khusus yang bernuansa dengan indonesia yang biasanya berkaitan dengan perilaku manusianya," pungkas dia.
(kri)
Lihat Juga :