Suksesnya PSBB Jawa-Bali Tergantung Masyarakat
Jum'at, 08 Januari 2021 - 10:14 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, selain melakukan PSBB, tracing, testing, dan treatment tetap harus dimasifkan. "Jika PSBB dilakukan untuk mencegah peningkatan kasus, maka 3T ini dilakukan untuk menangani kasus-kasus yang terlanjur sudah terjadi," ungkapnya.
Dia mengatakan, masyarakat hendaknya melihat kebijakan pemerintah itu sebagai salah satu ikhtiar dalam penanganan Covid-19. "Mari kita support dengan menjalankannya secara bertanggung jawab dan tetap konsisten melakukan 3 M. Budaya gotong royong kita juga diuji pada masa pandemi ini agar dapat saling membantu mereka yang membutuhkan secara ekonomi, selain berbagai bantuan dari pemerintah yang tentu kita harapkan dapat tersampaikan pada mereka yang membutuhkan," pungkasnya.
Sementara, Direktur Eksekutif Center for Budjet Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menyatakan kebijakan pembatasan kegiatan ini, untuk sebagian kalangan sangat mengejutkan. Biasanya pemerintah lebih fokus ke ekonomi, namun tiba-tiba saat ini ingin fokus pada kesehatan masyarakat.
(Baca juga: Haedar Nashir: Roda Kehidupan Memang Harus Berjalan, tapi Jangan Pakai Standar Normal ).
Meskipun begitu, Uchok menilai, perubahaan kebijakan pembatasan kegiatan ini bukan alasan kemanusiaan. Lebih dari itu, disebutnya karena hitung-hitungan ekonomi. Ketika pemerintah fokus pada ekonomi, ternyata banyak ruginya daripada untungnya. "Padahal, pada awal awal Covid-19, pemerintah masih ngotot fokus ekonomi daripada kesehatan masyarakat dan masih berharap pertumbuhan ekonomi positif," ujar dia.
Dia mengatakan, masyarakat hendaknya melihat kebijakan pemerintah itu sebagai salah satu ikhtiar dalam penanganan Covid-19. "Mari kita support dengan menjalankannya secara bertanggung jawab dan tetap konsisten melakukan 3 M. Budaya gotong royong kita juga diuji pada masa pandemi ini agar dapat saling membantu mereka yang membutuhkan secara ekonomi, selain berbagai bantuan dari pemerintah yang tentu kita harapkan dapat tersampaikan pada mereka yang membutuhkan," pungkasnya.
Sementara, Direktur Eksekutif Center for Budjet Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menyatakan kebijakan pembatasan kegiatan ini, untuk sebagian kalangan sangat mengejutkan. Biasanya pemerintah lebih fokus ke ekonomi, namun tiba-tiba saat ini ingin fokus pada kesehatan masyarakat.
(Baca juga: Haedar Nashir: Roda Kehidupan Memang Harus Berjalan, tapi Jangan Pakai Standar Normal ).
Meskipun begitu, Uchok menilai, perubahaan kebijakan pembatasan kegiatan ini bukan alasan kemanusiaan. Lebih dari itu, disebutnya karena hitung-hitungan ekonomi. Ketika pemerintah fokus pada ekonomi, ternyata banyak ruginya daripada untungnya. "Padahal, pada awal awal Covid-19, pemerintah masih ngotot fokus ekonomi daripada kesehatan masyarakat dan masih berharap pertumbuhan ekonomi positif," ujar dia.
Lihat Juga :