Momentum Reshuffle Kabinet Jokowi
Senin, 21 Desember 2020 - 05:30 WIB
loading...
Adi Prayitno (Foto Istimewa)
A
A
A
Adi Prayitno
Dosen Ilmu Politik Fisip UIN Jakarta, Direktur Eksekutif Parameter Politik
Spekulasi reshuffle kabinet terus menyeruak. Berbagai kalangan berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera merombak kabinet sebelum 2020 berganti tahun. Parameternya cukup banyak. Mulai dari keluh kesah kemarahan Jokowi tentang performa menteri yang tak maksimal hingga operasi tangkap tangan dua menteri. Tak perlu ragu lagi. Publik menunggu mantan Gubernur DKI Jakarta ini lekas mengganti pemainnya yang tak lagi bisa diharapkan.
Ditetapkannya dua menteri sebagai tersangka kasus korupsi, yakni Edhy Prabowo dan Juliari P Batubara menjadi momentum utama reshuffle kabinet. Pergantian dua menteri ini sekaligus menjadi ajang Jokowi mengganti para pembantunya yang tak bisa bekerja extraordinary di tengah Pandemi Covid-19. Tunggu apalagi tanda-tanda alam sudah nyata.
Cukup sudah Jokowi berulangkali marah. Jangan lagi ada toleransi bagi menteri yang kinerjanya tak sesuai ekspektasi. Terutama menteri yang terkait langsung dengan persoalan penanganan korona serta dampaknya. Jokowi punya subjektivitas penuh menilai kerja menteri. Begitupan dengan desakan publik yang terus membahana tentang pergantian komposisi kabinet.
Bekerja tanpa beban yang kerap dilontarkan Jokowi saat kampanye tahun lalu mesti diuji dengan seberapa tegas Jokowi merombak pembantunya. Jokowi tak perlu merasa tak enak hati atau merasa berhutang budi pada menteri yang telah banyak membantunya saat ini. Reshuffle adalah keniscayaan untuk meninggalkan warisan kerja yang mengesankan. Jokowi mesti ingat bahwa periode kedua adalah pertaruhan kerja bukan yang lain.
Dosen Ilmu Politik Fisip UIN Jakarta, Direktur Eksekutif Parameter Politik
Spekulasi reshuffle kabinet terus menyeruak. Berbagai kalangan berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera merombak kabinet sebelum 2020 berganti tahun. Parameternya cukup banyak. Mulai dari keluh kesah kemarahan Jokowi tentang performa menteri yang tak maksimal hingga operasi tangkap tangan dua menteri. Tak perlu ragu lagi. Publik menunggu mantan Gubernur DKI Jakarta ini lekas mengganti pemainnya yang tak lagi bisa diharapkan.
Ditetapkannya dua menteri sebagai tersangka kasus korupsi, yakni Edhy Prabowo dan Juliari P Batubara menjadi momentum utama reshuffle kabinet. Pergantian dua menteri ini sekaligus menjadi ajang Jokowi mengganti para pembantunya yang tak bisa bekerja extraordinary di tengah Pandemi Covid-19. Tunggu apalagi tanda-tanda alam sudah nyata.
Cukup sudah Jokowi berulangkali marah. Jangan lagi ada toleransi bagi menteri yang kinerjanya tak sesuai ekspektasi. Terutama menteri yang terkait langsung dengan persoalan penanganan korona serta dampaknya. Jokowi punya subjektivitas penuh menilai kerja menteri. Begitupan dengan desakan publik yang terus membahana tentang pergantian komposisi kabinet.
Bekerja tanpa beban yang kerap dilontarkan Jokowi saat kampanye tahun lalu mesti diuji dengan seberapa tegas Jokowi merombak pembantunya. Jokowi tak perlu merasa tak enak hati atau merasa berhutang budi pada menteri yang telah banyak membantunya saat ini. Reshuffle adalah keniscayaan untuk meninggalkan warisan kerja yang mengesankan. Jokowi mesti ingat bahwa periode kedua adalah pertaruhan kerja bukan yang lain.
Lihat Juga :