Hari Nusantara Menuju Indonesia Poros Maritim Dunia

Selasa, 15 Desember 2020 - 04:30 WIB
loading...
A A A
Oleh sebab itu, peringatan Hari Nusantara 13 Desember tahun ini harus dijadikan sebagai momentum untuk meluruskan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan di bidang kemaritiman. Dari pola pembangunan yang terlalu dominan pada penegakan hukum dan konservasi ke pola pembangunan kelautan berkelanjutan (Sustainable Marine Development). Suatu pembangunan kelautan yang mampu meningkatkan daya saing, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan kedaulatan NKRI, tanpa mengorbankan kelestarian SDA.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai PMD, tujuh kebijakan pembangunan mesti dikerjakan secara berkesinambungan: (1) penegakan kedaulatan NKRI, (2) pembangunan ekonomi kelautan, (3) pembangunan infrastruktur dan konektivitas, (4) memelihara kelestarian SDA dan lingkungan, (5) pengembangan kapasitas SDM dan IPTEK, (6) peningkatan budaya maritim; dan (7) kebijakan politik-ekonomi seperti moneter, fiskal, RTRW, iklim investasi, dan Ease of Doing Business yang kondusif.

Program Quick Wins
Dalam jangka pendek-menengah (2021-2024), pembangunan kelautan berkelanjutan itu bisa diwujudkan dengan melakukan tiga agenda pembangunan: (1) revitalisasi seluruh sektor dan unit bisnis kelautan yang ada, (2) mengembangkan sektor dan bisnis kelautan di wilayah baru, dan (3) mengembangkan sektor dan bisnis kelautan yang baru. Dari 11 sektor ekonomi kelautan, enam sektor dapat kita pacu untuk meningkatkan daya saing, pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat secara signifikan dalam waktu singkat (quick wins) sehingga ekonomi kelautan mampu menjadi mesin penggerak pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19 dan transformasi ekonomi. Untuk itu, setiap unit bisnis kelautan harus memenuhi skala ekonomi, menggunakan teknologi mutakhir, menerapkan manajemen rantai suplai terpadu, dan ramah lingkungan. Keenam sektor itu adalah perikanan tangkap, perikanan budi daya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, dan industri - jasa maritim.

Sebagai ilustrasi, betapa raksasanya potensi ekonomi kelautan RI adalah usaha budi daya udang Vanname. Dengan mengusahakan 500.000 ha tambak udang Vanname intensif, dengan produktivitas rata-rata 40 ton/ha/tahun, bisa diproduksi 20 juta ton/tahun. Dengan harga udang 5 dolar AS/kg, bisa dihasilkan USD100 miliar per tahun, yang bisa menyumbangkan 5% pertumbuhan ekonomi per tahun. Jika mulai tahun depan setiap tahun kita kembangkan usaha tambak udang seluas 100.000 ha saja, itu dapat menyumbang 1% pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya. Lapangan kerja on farm yang bisa dibangkitkan dari 500.000 ha tambak udang intensif itu sekitar 2 juta orang. Sementara itu, tenaga kerja yang dibutuhkan di industri hulu dan industri hilirnya sekitar 3 juta orang. Padahal, masih banyak komoditas lain yang harganya mahal dan bisa dibudidayakan seperti lobster, kerapu, kakap, abalone, teripang, kerang mutiara, nila, kepiting, dan rumput laut. Dengan mengusahakan 5.000 armada kapal ikan modern berukuran di atas 50 GT untuk memanfaatkan Sumber Daya Ikan di wilayah-wilayah laut NKRI di atas 12 mil sampai 200 mil, yang masih underfishing atau menjadi ajang pencurian ikan oleh nelayan asing, bisa dihasilkan rata-rata 5 juta ton ikan/tahun dengan nilai sekitar 10 miliar dolar AS/tahun dan membuka lapangan kerja untuk sekitar 1 juta orang yang bekerja di kapal ikan dan industri – hilirnya.

Dengan mengimplementasikan Roadmap Pembangunan Kelautan di atas secara berkesinambungan, kita tidak hanya akan dapat mengatasi sejumlah permasalahan bangsa seperti pengangguran, kemiskinan, disparitas pembangunan antarwilayah, dan rendahnya daya saing, tetapi juga bakal mampu mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia pada 2035.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KKP Tangkap Kapal Asing...
KKP Tangkap Kapal Asing Pengangkut 1,2 Ton Ikan Napoleon Ilegal
Penasihat Ahli Kapolri...
Penasihat Ahli Kapolri Apresiasi Polda Bali Berhasil Bongkar TPPO KM Awindo A2
Menteri Trenggono Ungkap...
Menteri Trenggono Ungkap 100 Titik Kampung Nelayan Rampung Mei 2026
KKP Gandeng Masyarakat...
KKP Gandeng Masyarakat Pesisir Lindungi Ekosistem Laut
Komisi IV DPR Usul Pemanfaatan...
Komisi IV DPR Usul Pemanfaatan PNBP VMS untuk Nelayan Kecil
Pemakaman Jenazah 3...
Pemakaman Jenazah 3 Korban Jatuhnya Pesawat ATR, Wamen: Syuhada Penjaga Sumber Daya Kelautan
Percepat Program Prioritas...
Percepat Program Prioritas Ketahanan Pangan, KKP Dorong Kolaborasi Nasional
Yayasan Bangun Ekosistem...
Yayasan Bangun Ekosistem Bahari Resmi Tercatat di Kementerian Hukum
3 Unit Insinerator KKP...
3 Unit Insinerator KKP di Gili Trawangan Masih Menunggu Izin Operasi
Rekomendasi
Satria Kumbara, Eks...
Satria Kumbara, Eks Marinir TNI AL yang Jadi Tentara Bayaran Rusia, Dikabarkan Tewas
389 Personel Polisi...
389 Personel Polisi Dikerahkan Amankan Konser Akbar Monas 2026
Mikel Merino, Supersub...
Mikel Merino, Supersub yang Tak Ingin Kejar Popularitas
Berita Terkini
Pengamat: Kapolri Tak...
Pengamat: Kapolri Tak Kriminalisasi Febrie, Penetapan Tersangka Sesuai KUHAP
Wakil Ketua Komisi VIII...
Wakil Ketua Komisi VIII DPR: Integrasi Zakat-Pajak Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat
Asrul Azis Taba Tersangka...
Asrul Azis Taba Tersangka Kasus Kuota Haji Kembali Ajukan Praperadilan
BNPB Sebut Karhutla...
BNPB Sebut Karhutla Dominasi Bencana di Tanah Air pada Akhir Pekan Ini
Pakar Hukum: Penetapan...
Pakar Hukum: Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa Asal Ada 2 Alat Bukti
Siapkan Relawan Tangguh...
Siapkan Relawan Tangguh Hadapi Bencana, Gus Muhaimin Resmikan Sigap Bangsa
Infografis
Jadwal Semifinal Piala...
Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026: Duel Penentu Final
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved