Waspada Ancaman Ledakan Golput di Pilkada 2020, Ini Bisa Jadi Pemicu

Minggu, 06 Desember 2020 - 07:21 WIB
loading...
A A A
KPU harus bekerja keras jika tidak ingin angka golput meledak sehingga pilkada ini akan tercatat sebagai pilkada yang paling buruk angka partisipasi pemilihnya.

Partisipasi pemilih yang rendah berpeluang terjadi di pilkada serentak pada 9 Desember 2020. Karena itu pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dituntut bekerja lebih keras melakukan sosialisasi yang massif pada hari-hari akhir menjelang pencoblosan agar ledakan golput tidak terjadi.

KPU dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menargetkan angka partisipasi pemilih pada pilkada yang digelar di 270 daerah ini sebesar 77,5%. Target ini sama dengan pilkada-pilkada sebelumnya. Namun, hasil survei justru menunjukkan kemungkinan angka partisipasi pemilih yang sangat rendah, yakni jauh di bawah 50%.

"Partisipasi pemilih ditargetkan 77,5%, sedangkan di 2018, partisipasi pemilih 73,24%, jadi kita targetkan naik sekitar 4%," kata Kasubdit Wilayah IV Direktorat Fasilitasi Kepala Daerah dan DPRD Kemendagri, Saydiman Marto dalam webinar yang digelar KPU, Selasa 11 Oktober 2020.(Baca juga: Kemendagri dan KPU Targetkan Paritisipasi Pemilih Pilkada 77,5% )

Mengapa pilkada kali ini terancam mencatatkan rekor golput terburuk? Ada sejumlah faktor pemicu. Pertama, ini untuk pertama kalinya pilkada di gelar di masa pandemi.

Menghindari risiko tertular virus saat berada di kerumunan bisa jadi alasan warga enggan datang ke TPS. Kekhawatiran warga tertular virus bisa makin besar seiring jumlah kasus baru secara nasional yang melonjak sepekan jelang pilkada digelar.(Baca juga: Gaet Tokoh Muda hingga Artis, Parpol Mulai Pikat Milenial untuk 2024 )

Misalnya, Kamis 3 Desember 2020, terjadi rekor baru tambahan kasus positif corona yang mencapai 8.369. Memang KPU akan menerapkan protokol kesehatan secara ketat saat pencoblosan nanti, namun jika tren lonjakan kasus terus saja naik, itu bisa memengaruhi psikologi pemilih sehingga memilih menghindar dari potensi kerumunan.

Kedua, minimnya dukungan kelompok masyarakat dan tokoh berpengaruh terhadap pelaksanaan pilkada di masa pandemi Covid-19. Tiga bulan jelang pencoblosan, permintaan agar pemerintah menunda pilkada ke tahun depan mengalir deras. Pihak yang menolak pilkada di gelar pada 9 Desember antara lain datang dari dua ormas terbesar di Tanah Air, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pada awal Oktober 2020, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga merekomendasikan agar pilkada ditunda.(Baca juga: Pencoblosan Tiga Hari Lagi, 247 Surat Suara Pilkada Bangka Selatan Rusak )

Suara ormas dan kampus ini sejalan dengan aspirasi masyarakat yang tercermin melalui hasil survei. Berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada 24-30 September, sebanyak 50,2% responden yang menyatakan pilkada harus ditunda. Sedangkan, yang setuju tetap sesuai jadwal pada 9 Desember sebanyak 43,4%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Putusan MK, Irman...
Usai Putusan MK, Irman Gusman: Saatnya Akhiri Debat Prosedural, Fokus pada Kualitas Demokrasi Daerah
PDIP: Tingginya Biaya...
PDIP: Tingginya Biaya Politik Tuntas dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tak Langsung
Survei Puspoll Indonesia:...
Survei Puspoll Indonesia: Lebih dari 80 Persen Masyarakat Dukung Pilkada Langsung
MK Diminta Larang Keluarga...
MK Diminta Larang Keluarga Presiden dan Wapres Ikut Pilpres, PKS: Bagus juga untuk Pilkada
Wacana Pilkada lewat...
Wacana Pilkada lewat DPRD, Pengamat: Akibat Biaya Politik Tinggi
Tahapan Pemilu 2029...
Tahapan Pemilu 2029 Dimulai Tahun Depan, DPR Targetkan RUU Pilkada Rampung 2026
Mahasiswa S2 Fakultas...
Mahasiswa S2 Fakultas Hukum UMM Bekali Pemilih Pemula Pendidikan Politik
Demo Rusuh Guncang Georgia,...
Demo Rusuh Guncang Georgia, Massa Serbu Istana Presiden
Partai Perindo Papua...
Partai Perindo Papua Selatan Apresiasi MK Tolak Gugatan Hasil PSU Pilkada, Hendrikus Mahuze: Mari Bersama Bangun Boven Digoel!
Rekomendasi
Pengetatan Standar Migrasi...
Pengetatan Standar Migrasi BPA Galon Polikarbonat Dipertanyakan, Pakar: Perlu Ada Studi
Reza Arap Ungkap Momen...
Reza Arap Ungkap Momen Paling Berkesan Bersama Lula Lahfah saat Syuting Harusnya Horror
Enam Minggu Beroperasi,...
Enam Minggu Beroperasi, DSI Himpun Devisa USD10,5 Miliar
Berita Terkini
Dosen UGM Kena Doxing...
Dosen UGM Kena Doxing usai Komentari Mutasi ASN Kementerian PU, Dody Hanggodo Bersumpah Tak Tahu
Menhut Raja Juli Irit...
Menhut Raja Juli Irit Bicara saat Dicecar Wartawan soal KPK, Hanya Ucapkan Terima Kasih
Mendagri Prihatin Kepala...
Mendagri Prihatin Kepala Daerah Kena OTT Lagi, Padahal Sudah Retret-Pembekalan
Raih Doktor di Unair,...
Raih Doktor di Unair, Pangi Chaniago Tawarkan Model Baru Jelaskan Split Ticket Voting di Indonesia
Belajar dari Negara...
Belajar dari Negara Lain, Revisi UU Hak Cipta Jangan Sampai Rugikan Media, Industri, dan Masyarakat
Beredar Isu Menteri...
Beredar Isu Menteri PU Dody Hanggodo Kena Reshuffle Agustus Mendatang, Istana Buka Suara
Infografis
3 Keutamaan Surat Al...
3 Keutamaan Surat Al Mulk, Bisa Jadi Syafaat Kelak di Hari Kiamat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved