Jangan Lelah Ajak Anak Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19
Kamis, 03 Desember 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia Hindra Irawan Satari mengatakan, menghadapi pandemi ini seperti seseorang berlari maraton. Semua harus panjang napas, sabar, dan tidak boleh lengah. Indonesia harus memetik pelajaran dari China yang merupakan negara paling awal menjadi pusat persebaran virus. Saat ini China sudah tidak masuk dalam 10 besar dengan jumlah penderita Covid-19.
Namun, negara adidaya seperti Amerika Serikat, jumlah kasusnya kian tinggi. Di luar itu ada Brasil dan India. “China itu disiplin dan semua pihak berpartisipasi. Jangan mencelakakan teman-teman. Sekarang bukan eranya untuk berlibur. Stay at home paling aman untuk memutus transmisi,” ujarnya.
Sosialisasi penerapan protokol kesehatan, menurutnya, bisa menggunakan kearifan lokal. Metode ini akan jauh lebih diterima oleh masyarakat setempat. “Kita harus menggali budaya lokal sehingga masyarakat itu mengerti. Bukan membangkang. Ada keluarga yang kena, baru heboh. Kalau menyangkut pribadi, baru kita ngeh,” tuturnya.
Anak-anak, menurutnya, punya pertahanan yang lebih baik daripada orang tua umumnya. Namun, para orang tua tidak boleh menganggap sepele. Jika orang tua melihat ada gejala seperti flu, demam, batuk, dan sesak pada anak, sebaiknya segera membawa ke rumah sakit.
Hindra mengungkapkan, dalam kejadian luar biasa (KLB) seperti ini, anak-anak berpotensi mengalami dampak psikologi seumur hidup. Efek merugikan dari pandemi itu terjadi di seluruh dunia. Sebagian besar terjadi di lingkungan miskin dan kumuh. “Sebelum krisis, mereka sudah dalam keadaan yang tidak menguntungkan dan rawan,” ucapnya.
Dalam situasi seperti ini pencegahan itu lebih baik. Memang, ada orang yang hanya gejala ringan ketika terpapar Covid-19 . Namun, banyak yang mengalami serangan dahsyat yang menyebabkan kematian. “Tanamkan hidup sehat. Kita harus menghentikan penyebaran virus terhadap orang lain,” ujarnya. (FW Bahtiar)
Namun, negara adidaya seperti Amerika Serikat, jumlah kasusnya kian tinggi. Di luar itu ada Brasil dan India. “China itu disiplin dan semua pihak berpartisipasi. Jangan mencelakakan teman-teman. Sekarang bukan eranya untuk berlibur. Stay at home paling aman untuk memutus transmisi,” ujarnya.
Sosialisasi penerapan protokol kesehatan, menurutnya, bisa menggunakan kearifan lokal. Metode ini akan jauh lebih diterima oleh masyarakat setempat. “Kita harus menggali budaya lokal sehingga masyarakat itu mengerti. Bukan membangkang. Ada keluarga yang kena, baru heboh. Kalau menyangkut pribadi, baru kita ngeh,” tuturnya.
Anak-anak, menurutnya, punya pertahanan yang lebih baik daripada orang tua umumnya. Namun, para orang tua tidak boleh menganggap sepele. Jika orang tua melihat ada gejala seperti flu, demam, batuk, dan sesak pada anak, sebaiknya segera membawa ke rumah sakit.
Hindra mengungkapkan, dalam kejadian luar biasa (KLB) seperti ini, anak-anak berpotensi mengalami dampak psikologi seumur hidup. Efek merugikan dari pandemi itu terjadi di seluruh dunia. Sebagian besar terjadi di lingkungan miskin dan kumuh. “Sebelum krisis, mereka sudah dalam keadaan yang tidak menguntungkan dan rawan,” ucapnya.
Dalam situasi seperti ini pencegahan itu lebih baik. Memang, ada orang yang hanya gejala ringan ketika terpapar Covid-19 . Namun, banyak yang mengalami serangan dahsyat yang menyebabkan kematian. “Tanamkan hidup sehat. Kita harus menghentikan penyebaran virus terhadap orang lain,” ujarnya. (FW Bahtiar)
(ysw)
Lihat Juga :