Jangan Lelah Ajak Anak Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19
Kamis, 03 Desember 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
“Sosialisasi 3M pada anak-anak penting karena meningkatkan kesadaran masyarakat. Setelah tumbuh kesadaran, akan ada kepedulian kepada pihak lain,” ujarnya, dalam diskusi daring dengan tema “Strategi Sosialisasi 3M untuk Anak”, kemarin.
Kebiasaan mencuci tangan sebenarnya sudah diajarkan di rumah dan sekolah jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Dengan demikian, saat ini intensitasnya harus ditingkatkan karena ada pandemi. Peningkatan itu antara lain pada sebelum dan setelah makan, sehabis main, serta setelah dari toilet. Niken menjelaskan, ekosistem pendidikan, yakni sekolah, orang tua, keluarga, dan masyarakat, bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi 3M kepada anak-anak. (Baca juga: Perkuliahan Tahun Depan Terapkan Campuran Tatap Muka dan Daring)
Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menyatakan ada lima cara sosialisasi kepada anak, yakni komunikasi, teladan, cara yang menarik, konsisten, dan reward. Pandemi ini bisa menjadi anugerah bagi para orang tua karena selalu berada dekat dengan anaknya.
Di sisi lain, kondisi menjadi tantangan karena anak-anak akan mengajak bermain orang tuanya. Orang tua harus mengambil manfaat situasi dengan mengajak anak-anak berdiskusi dan komunikasi secara intens tentang Covid-19, bahaya, dan pencegahannya.
“Anak itu peniru ulung. Apalagi, anak usia dini, usia baru lahir hingga 8 tahun. Dia mendengar dan melakukan apa yang dilihatnya. Sebelum meminta menerapkan 3M, kita harus lebih dulu baru minta ke anak. Kita harus memberi contoh bagaimana menggunakan masker, cuci tangan yang teratur, dan menjaga jarak,” tuturnya. (Lihat videonya: 5 Tips Aman Menerima Paket di Saat Pandemi Covid-19)
Anak-anak itu tidak bisa dijejali dengan perintah. Maka, penyampaian informasi mengenai Covid-19 dan penerapan 3M harus dengan cara yang menarik. Tekniknya bisa berupa melalui video-video edukasi yang diproduksi pemerintah dan akademisi serta melalui buku cerita.
Uji Kesabaran
Kebiasaan mencuci tangan sebenarnya sudah diajarkan di rumah dan sekolah jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia. Dengan demikian, saat ini intensitasnya harus ditingkatkan karena ada pandemi. Peningkatan itu antara lain pada sebelum dan setelah makan, sehabis main, serta setelah dari toilet. Niken menjelaskan, ekosistem pendidikan, yakni sekolah, orang tua, keluarga, dan masyarakat, bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi 3M kepada anak-anak. (Baca juga: Perkuliahan Tahun Depan Terapkan Campuran Tatap Muka dan Daring)
Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menyatakan ada lima cara sosialisasi kepada anak, yakni komunikasi, teladan, cara yang menarik, konsisten, dan reward. Pandemi ini bisa menjadi anugerah bagi para orang tua karena selalu berada dekat dengan anaknya.
Di sisi lain, kondisi menjadi tantangan karena anak-anak akan mengajak bermain orang tuanya. Orang tua harus mengambil manfaat situasi dengan mengajak anak-anak berdiskusi dan komunikasi secara intens tentang Covid-19, bahaya, dan pencegahannya.
“Anak itu peniru ulung. Apalagi, anak usia dini, usia baru lahir hingga 8 tahun. Dia mendengar dan melakukan apa yang dilihatnya. Sebelum meminta menerapkan 3M, kita harus lebih dulu baru minta ke anak. Kita harus memberi contoh bagaimana menggunakan masker, cuci tangan yang teratur, dan menjaga jarak,” tuturnya. (Lihat videonya: 5 Tips Aman Menerima Paket di Saat Pandemi Covid-19)
Anak-anak itu tidak bisa dijejali dengan perintah. Maka, penyampaian informasi mengenai Covid-19 dan penerapan 3M harus dengan cara yang menarik. Tekniknya bisa berupa melalui video-video edukasi yang diproduksi pemerintah dan akademisi serta melalui buku cerita.
Uji Kesabaran
Lihat Juga :