Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Industri

loading...
Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Industri
Berbagai ragam fashioan rancangan siswa SMK PGRI Kudus diperagakan dalam forum Santri Talking Fashion Opportunity and Challenges" . DOK IST
A+ A-
KUDUS – Konsep dasar pendidikan vokasi di Indonesia harus benar-benar memprioritaskan keterkaitan (link and match) dengan industri. Pemerintah pun diminta menyiapkan proses inkubasi dan melakukan pendampingan sehingga lulusan SMK bisa benar-benar menjawab tantangan dunia industry hari ini.

“SMK ini harus benar-benar link and match dengan kebutuhan pasar dunia kerja hari ini. Jangan sampai hanya sampai kerjasama level MoU saja,” ujar Pimpinan MataAir Foundation Muhammad Abdul Idris dalam kegiatan "Santri Talking Fashion; Opportunity and Challenges" yang diselenggarakan di SMK PGRI 1 Kudus. (Baca Juga :Kemendikbud Luncurkan Merdeka Vokasi, Ini Skema Jalur Cepat SMK-D2)

Agenda ini diselenggarakan dengan protocol kesehatan yang ketat dan dihadiri oleh Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf RI serta Lisa Fitria selaku Inovator Fashion SMK yang juga pendiri Indonesian Fashion Chamber.

Idris mengatakan berbagai kompetensi yang dikembangkan oleh SMK harus didukung dengan berbagai kompetensi lain. Kompetensi tersebut di antaranya adalah skill komunikasi yang mumpuni. “Kompetensi yang mumpuni di dunia fashion misalnya tetap harus didukung oleh skill tambahan yaitu komunikasi, jadi komunikasi. Dengan demikian mereka bisa mempromosikan dan memasarkan produk kepada pihak-pihak lain,” ujarnya.



Dia mengaris bawahi kolaborasi SMK dengan industry merupakan kunci keberhasilan dunia vokasi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi yang solid antara SMK, pemerintah dengan dengan industri dalam menyusun roadmap pengembangan dunia vokasi khususnya di bidang fashion. “Pemerintah harus benar-benar menjadi jembatan antara dunia vokasi dengan industry sehingga lulusan Pendidikan vokasi bisa terserap di dunia kerja,” katanya.(Baca Juga : 466.020 Warga Jawa Timur Pengangguran, Didominasi Lulusan SMK)

Sementara, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf Iyung Masruroh membagikan tips untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang fashion guna merespon tantangan dunia industri. “Berani berbisnis dengan segala kreativitas yang kita miliki. Membuat desain yang payable. Dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk membesarkan kreatifitas peserta didik dalam membangun ketepatan brand yang dipilih serta target market yang harus menjadi perhatian,”katanya.

Di hadapan perwakilan pelajar dan santri vokasi Kabupaten Kudus, Iyung juga berpesan untuk tetap menanamkan perilaku santri di kehidupan sehari-hari. “Santri harus tetap berlaku moderat serta adil dan imbang dalam keseharian serta menilai segala sesuatunya. Misalnya, apabila menanggapi berita berita yang tidak jelas harus terlebih dahulu melakukan tabayyun, mencari sumber informasi dan tidak asal menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya.,” tutup Iyung.



Selanjutnya, Lisa Fitria yang merupakan Inovator Fashion SMK mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah image bahwa santri itu keren, tidak kuno dan juga siap menjawab tantangan industri melalui dunia fashion desain Dia membagi pengalamannya yang hanya lulusan pesantren namun bisa berkeliling untuk memamerkan karya di 15 negara kemudian belajar fashion mode di negara negara yang saya kunjungi. “Saya berangkat dari pesantren, dan melanjutkan pendidikan juga di pesantren tetapi semua itu tak menghalangi mimpi saya untuk jadi fashion desainer hingga berada di titik ini, sehingga saya mencintai dan sangat excited untuk total berkontribusi membawa santri untuk berani terjun di dunia fashion nasional hingga internasional,” sambung Lisa.
(war)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top