Mangkus-Sangkil Media Sosial
Senin, 16 November 2020 - 05:45 WIB
loading...
Mujaddid Muhas
A
A
A
Mujaddid Muhas
Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Lombok Utara
TIAP perubahan memiliki konsekuensi, sesuai paradigma zamannya. Media sosial (medsos) membuat lokus perjumpaan natural kian minimalis. Realitanya begitu. Tetapi, realita pula menumbuhkan dimensi waktu kian singkat. Waktu terasa cepat melesat dan nyaris secara psikososial ia terasa mengurang dalam siklus keseharian. Dimensi waktu inti digunakan untuk melakukan updating, jelajah informatif, respons chatting. Medsos membuat agenda siklus keseharian mengalami konversi total, termasuk sublimasi paradigma manusia mengenai keterpengaruhan eksistensi.
Pada lain hal, medsos membuat kesegaran percakapan mengalami pergeseran: dari interaksi berhadapan langsung menjadi interkorelasi via layar. Medsos bertumbuh, medium parsial bertambah, tetapi etika cenderung terabaikan. Kendati estetika penggunanya sebagian terwadahi. Relasi ikatan sosial kemanusiaan menjadi “tak lagi” hangat sebagai obrolan dalam suasana yang mengiringi, namun hangat pada gawai dan jari-jemari.
Demi tumbuh kembang generasi, penyedia konten medsos dan internet perlu kebijakan dan regulasi agar kehidupan natural terus bisa dirasakan. Semisal konten yang memiliki unsur kekerasan, terutama pada permainan (game), diminimalkan dari ekosistemnya. Pada kenyataannya, banyak anak kini terbiasa dengan gawai. Sebagai akibatnya, anak-anak kini sulit berinteraksi dengan teman sebayanya. Contohnya, tak lagi banyak waktu bagi mereka menyusuri alam terbuka. Perilaku anak pun jadi introvert. Realitas tersebut dialami dan, mungkin seterusnya, menjadi kebiasaan apabila tak ada upaya untuk menata perilaku "kebablasan" dalam bermedia sosial yang kian berdampak pada generasi sebelum remaja. Bagaimana dengan 10-30 tahun mendatang saat usia mereka beranjak dewasa. Pastinya, teknologi kian melaju pesat. Tatanan mentalnya mesti seirama melesatnya zaman.
Uniknya, nyaris semua pendiri medsos pasif menggunakan aplikasi mereka. Sebaliknya, nyaris semua pengguna medsos itu mengonsumsinyas hingga gandrung. Seolah menjadi paradoks: medsos tidak digunakan sayang, digunakan tak ada waktu luang. Dengan medsos siklus hidup keseharian mengalami pergeseran. Siklus yang lebih banyak mengunggah daripada membaca. Perkembangan selanjutnya pengguna medsos lebih sibuk menghapus, "menyapu", atau meneruskan seliweran konten medsos daripada menyimaknya sebagai wawasan.
Dengan cepat pabrik gawai keburu sudah mengorbitkan produk terbaru. Sampai di sini, premisnya: kita seolah sudah diatur mesin (manufaktur pabrikasi). Tetapi, manusia dengan cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya, adaptif terhadap keadaan yang melingkupinya. Bagaimanapun teknologi menimbulkan dilema: menyajikan teknologi instan melalui kecanggihan fitur, tetapi sekaligus mengubah siklus natural manusia ke dalam siklus mesin pabrikasi.
Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Lombok Utara
TIAP perubahan memiliki konsekuensi, sesuai paradigma zamannya. Media sosial (medsos) membuat lokus perjumpaan natural kian minimalis. Realitanya begitu. Tetapi, realita pula menumbuhkan dimensi waktu kian singkat. Waktu terasa cepat melesat dan nyaris secara psikososial ia terasa mengurang dalam siklus keseharian. Dimensi waktu inti digunakan untuk melakukan updating, jelajah informatif, respons chatting. Medsos membuat agenda siklus keseharian mengalami konversi total, termasuk sublimasi paradigma manusia mengenai keterpengaruhan eksistensi.
Pada lain hal, medsos membuat kesegaran percakapan mengalami pergeseran: dari interaksi berhadapan langsung menjadi interkorelasi via layar. Medsos bertumbuh, medium parsial bertambah, tetapi etika cenderung terabaikan. Kendati estetika penggunanya sebagian terwadahi. Relasi ikatan sosial kemanusiaan menjadi “tak lagi” hangat sebagai obrolan dalam suasana yang mengiringi, namun hangat pada gawai dan jari-jemari.
Demi tumbuh kembang generasi, penyedia konten medsos dan internet perlu kebijakan dan regulasi agar kehidupan natural terus bisa dirasakan. Semisal konten yang memiliki unsur kekerasan, terutama pada permainan (game), diminimalkan dari ekosistemnya. Pada kenyataannya, banyak anak kini terbiasa dengan gawai. Sebagai akibatnya, anak-anak kini sulit berinteraksi dengan teman sebayanya. Contohnya, tak lagi banyak waktu bagi mereka menyusuri alam terbuka. Perilaku anak pun jadi introvert. Realitas tersebut dialami dan, mungkin seterusnya, menjadi kebiasaan apabila tak ada upaya untuk menata perilaku "kebablasan" dalam bermedia sosial yang kian berdampak pada generasi sebelum remaja. Bagaimana dengan 10-30 tahun mendatang saat usia mereka beranjak dewasa. Pastinya, teknologi kian melaju pesat. Tatanan mentalnya mesti seirama melesatnya zaman.
Uniknya, nyaris semua pendiri medsos pasif menggunakan aplikasi mereka. Sebaliknya, nyaris semua pengguna medsos itu mengonsumsinyas hingga gandrung. Seolah menjadi paradoks: medsos tidak digunakan sayang, digunakan tak ada waktu luang. Dengan medsos siklus hidup keseharian mengalami pergeseran. Siklus yang lebih banyak mengunggah daripada membaca. Perkembangan selanjutnya pengguna medsos lebih sibuk menghapus, "menyapu", atau meneruskan seliweran konten medsos daripada menyimaknya sebagai wawasan.
Dengan cepat pabrik gawai keburu sudah mengorbitkan produk terbaru. Sampai di sini, premisnya: kita seolah sudah diatur mesin (manufaktur pabrikasi). Tetapi, manusia dengan cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya, adaptif terhadap keadaan yang melingkupinya. Bagaimanapun teknologi menimbulkan dilema: menyajikan teknologi instan melalui kecanggihan fitur, tetapi sekaligus mengubah siklus natural manusia ke dalam siklus mesin pabrikasi.
Lihat Juga :