Kerja Berat Dongkrak Konsumsi di Tengah Pandemi dan Resesi
Sabtu, 14 November 2020 - 11:25 WIB
loading...
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Foto/Dok SINDO
A
A
A
Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum
Kadin Indonesia
PRASYARAT belanja dan investasi itu sentimen positif. Ketika pandemi dan resesi ekonomi terjadi dalam periode waktu yang sama seperti sekarang, keduanya menjadi sentimen negatif yang mendorong setiap orang atau konsumen dan investor semakin berhati-hati dan menahan diri, termasuk belanja atau konsumsi.
Dengan begitu, mudah untuk dipahami bahwa mendorong masyarakat belanja atau investasi di tengah pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi saat ini adalah pekerjaan cukup berat. Pandemi menyebabkan banyak orang takut Keluar rumah. Konsekuensinya, alat transportasi seperti mobil dan motor lebih sering diam dan tidak perlu isi atau beli bensin minimal selama beberapa hari. Dampak isolasi mandiri oleh jutaan keluarga itu bahkan juga dirasakan pelaku jasa transportasi umum hingga pengemudi bajaj akibat langkanya calon penumpang.
Di Jakarta, pusat belanja atau mal serta restoran sudah dibuka selama PSBB (pembatasan sosial skala besar) transisi dan siap melayani konsumen. Nyatanya, baik mal maupun restoran tetap sepi pengunjung. Sektor pariwisata menghadirkan pemandangan lebih memprihatinkan. Pada banyak destinasi di dalam negeri, jumlah wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung anjlok sampai rata-rata di atas 80 persen. Maskapai penerbangan jelas terdampak. Dengan langkanya wisatawan, tingkat hunian hotel tidak sampai 5 persen. Banyak hotel untuk sementara tutup. Ragam jasa pendukung bisnis hotel, seperti kafe hingga laundry dan pemasok kebutuhan lainnya pasti terkena dampaknya. Semua ini terjadi karena fakta bahwa sebagian besar masyarakat masih waspada pandemi dan waswas akibat resesi ekonomi saat ini.
(Baca juga: Luhut Sebut Indonesia Sudah Keluar dari Resesi, Ini Alasannya ).
Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum
Kadin Indonesia
PRASYARAT belanja dan investasi itu sentimen positif. Ketika pandemi dan resesi ekonomi terjadi dalam periode waktu yang sama seperti sekarang, keduanya menjadi sentimen negatif yang mendorong setiap orang atau konsumen dan investor semakin berhati-hati dan menahan diri, termasuk belanja atau konsumsi.
Dengan begitu, mudah untuk dipahami bahwa mendorong masyarakat belanja atau investasi di tengah pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi saat ini adalah pekerjaan cukup berat. Pandemi menyebabkan banyak orang takut Keluar rumah. Konsekuensinya, alat transportasi seperti mobil dan motor lebih sering diam dan tidak perlu isi atau beli bensin minimal selama beberapa hari. Dampak isolasi mandiri oleh jutaan keluarga itu bahkan juga dirasakan pelaku jasa transportasi umum hingga pengemudi bajaj akibat langkanya calon penumpang.
Di Jakarta, pusat belanja atau mal serta restoran sudah dibuka selama PSBB (pembatasan sosial skala besar) transisi dan siap melayani konsumen. Nyatanya, baik mal maupun restoran tetap sepi pengunjung. Sektor pariwisata menghadirkan pemandangan lebih memprihatinkan. Pada banyak destinasi di dalam negeri, jumlah wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung anjlok sampai rata-rata di atas 80 persen. Maskapai penerbangan jelas terdampak. Dengan langkanya wisatawan, tingkat hunian hotel tidak sampai 5 persen. Banyak hotel untuk sementara tutup. Ragam jasa pendukung bisnis hotel, seperti kafe hingga laundry dan pemasok kebutuhan lainnya pasti terkena dampaknya. Semua ini terjadi karena fakta bahwa sebagian besar masyarakat masih waspada pandemi dan waswas akibat resesi ekonomi saat ini.
(Baca juga: Luhut Sebut Indonesia Sudah Keluar dari Resesi, Ini Alasannya ).
Lihat Juga :