Optimisme Dorong Optimalisasi Belanja
Senin, 09 November 2020 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Berada di masa resesi, peran pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat dalam bentuk informasi, kebijakan, dan program bantuan yang direalisasi secara cepat dan tepat masih sangat diperlukan. Berbagai bantuan pemerintah melalui Program Ekonomi Nasional (PEN) masih perlu terus dioptimalkan penyerapannya untuk dapat mendorong perbaikan ekonomi di kuartal IV 2020.
Hingga saat ini data menunjukkan bahwa dari total pagu Rp695,2 triliun, PEN telah terealisasi sebesar Rp366,27 triliun atau sebesar 52,7% dari pagu. Adapun realisasi terbesar PEN terdapat pada dukungan terhadap UMKM, yakni sebesar Rp92,73 triliun (80,8%) serta realisasi bantuan perlindungan sosial, yakni sebesar Rp176,27 triliun (75,2%).
Meskipun realisasi bantuan perlindungan sosial telah 75% dilaksanakan, daya beli masyarakat belum menunjukkan tanda peningkatan yang signifikan. Artinya dukungan pemerintah terhadap peningkatan daya beli masyarakat masih perlu diupayakan. Pemerintah perlu mengevaluasi kembali kelompok masyarakat yang masuk dalam penerima bantuan sosial. Pemerintah dapat memperluas penerima bantuan sosial. (Baca juga: Biden Manfaatkan Aliansi untuk Hadapi China)
Selain itu pemerintah perlu meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat kelas menengah dan atas untuk meningkatkan konsumsinya. Data menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah dan atas masih menahan diri untuk belanja. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2020 naik 11,64% (yoy). Capaian ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 8,53%. Menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan tertinggi DPK terjadi pada kelompok dana di atas Rp5 miliar, yakni 15,2% yoy. Kemudian kelompok Rp500 juta hingga Rp1 miliar, 10,1% (yoy).
Selanjutnya, selain terus mendorong pertumbuhan UMKM melalui berbagai bantuan yang ada, pemerintah juga perlu terus mendukung UMKM dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam mengonsumsi produk dalam negeri. Masyarakat dengan penghasilan tetap dan mungkin memiliki uang lebih sangat diharapkan kontribusinya untuk membeli produk UMKM sehingga roda ekonomi berputar. Tak dapat dimungkiri bahwa selama pandemi terjadi, imbas dari rendahnya konsumsi rumah tangga adalah merosotnya pendapatan UMKM.
Indonesia telah resmi memasuki resesi. Meski demikian Indonesia sudah melampaui titik terendah dan mulai beranjak maju. Indonesia patut berbesar hati mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 lebih baik daripada di kuartal II-2020. (Lihat videonya: Viral Video Jalan Rusak di Lebak)
Hal itu menunjukkan bahwa secara bertahap Indonesia telah bergerak menuju pemulihan ekonomi. Pada masa pandemi ini pertumbuhan ekonomi Indonesia juga lebih baik daripada beberapa negara lain seperti Singapura (-7,0%) dan Meksiko (-8,58%). Oleh sebab itu kerja sama antara pemerintah, pegiat usaha, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mendorong Indonesia segera bisa keluar dari resesi yang berkepanjangan. Semoga.
Hingga saat ini data menunjukkan bahwa dari total pagu Rp695,2 triliun, PEN telah terealisasi sebesar Rp366,27 triliun atau sebesar 52,7% dari pagu. Adapun realisasi terbesar PEN terdapat pada dukungan terhadap UMKM, yakni sebesar Rp92,73 triliun (80,8%) serta realisasi bantuan perlindungan sosial, yakni sebesar Rp176,27 triliun (75,2%).
Meskipun realisasi bantuan perlindungan sosial telah 75% dilaksanakan, daya beli masyarakat belum menunjukkan tanda peningkatan yang signifikan. Artinya dukungan pemerintah terhadap peningkatan daya beli masyarakat masih perlu diupayakan. Pemerintah perlu mengevaluasi kembali kelompok masyarakat yang masuk dalam penerima bantuan sosial. Pemerintah dapat memperluas penerima bantuan sosial. (Baca juga: Biden Manfaatkan Aliansi untuk Hadapi China)
Selain itu pemerintah perlu meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat kelas menengah dan atas untuk meningkatkan konsumsinya. Data menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah dan atas masih menahan diri untuk belanja. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2020 naik 11,64% (yoy). Capaian ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 8,53%. Menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan tertinggi DPK terjadi pada kelompok dana di atas Rp5 miliar, yakni 15,2% yoy. Kemudian kelompok Rp500 juta hingga Rp1 miliar, 10,1% (yoy).
Selanjutnya, selain terus mendorong pertumbuhan UMKM melalui berbagai bantuan yang ada, pemerintah juga perlu terus mendukung UMKM dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam mengonsumsi produk dalam negeri. Masyarakat dengan penghasilan tetap dan mungkin memiliki uang lebih sangat diharapkan kontribusinya untuk membeli produk UMKM sehingga roda ekonomi berputar. Tak dapat dimungkiri bahwa selama pandemi terjadi, imbas dari rendahnya konsumsi rumah tangga adalah merosotnya pendapatan UMKM.
Indonesia telah resmi memasuki resesi. Meski demikian Indonesia sudah melampaui titik terendah dan mulai beranjak maju. Indonesia patut berbesar hati mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 lebih baik daripada di kuartal II-2020. (Lihat videonya: Viral Video Jalan Rusak di Lebak)
Hal itu menunjukkan bahwa secara bertahap Indonesia telah bergerak menuju pemulihan ekonomi. Pada masa pandemi ini pertumbuhan ekonomi Indonesia juga lebih baik daripada beberapa negara lain seperti Singapura (-7,0%) dan Meksiko (-8,58%). Oleh sebab itu kerja sama antara pemerintah, pegiat usaha, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mendorong Indonesia segera bisa keluar dari resesi yang berkepanjangan. Semoga.
(ysw)