Formapi Sebut DPR Hanya Jadi Jubir Pemerintah, Banyak RUU Tak Jalan

Kamis, 05 November 2020 - 21:16 WIB
loading...
Formapi Sebut DPR Hanya...
Direktur Eksekutif Formappi I Made Leo Wiratma mengatakan, DPR mempunyai banyak tunggakan RUU. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Kinerja DPR RI menjadi sorotan. Hasil evaluasi yang dilakukan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), DPR mempunyai banyak tunggakan Rancangan Undang-Undang (RUU). Selain itu, DPR dinilai hanya menjadi juru bicara (Jubir) pemerintah. Evalusi kinerja yang dilakukan Formappi fokus pada Masa Sidang (MS) 1 2020. Ada empat bidang kinerja yang dievaluasi, yaitu legislasi, anggaran, pengawasan, dan evaluasi kinerja kelembagaan.

Direktur Eksekutif Formappi I Made Leo Wiratma mengatakan, khusus untuk legislasi, dalam pidato pembukaan MS I, Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan DPR akan menyelesaikan seluruh RUU yang ada dalam daftar Prolegnas Prioritas 2020 pada MS I. “Dengan tetap memperhatikan skala prioritas, sehingga kebutuhan hukum bagi NKRI dapat dipenuhi,” terang dia dalam Forum Kamisan Formappi dengan tema Kinerja Abnormal di Era New Normal yang dilakukan secara virtual, Kamis (5/11/2020). (Baca juga: MAPPI Minta Pemerintah Segera Realisasikan RUU untuk Profesi Penilai)

Namun, target yang disampaikan Puan tidak tercapai. DPR hanya mampu menyelesaikan dua RUU Prioritas, yakni RUU Bea Meterai dan RUU Cipta Kerja. Dengan demikian, DPR masih mempunyai tunggakan 35 RUU. Sebanyak 11 RUU masih mungkin bisa diselesaikan DPR hingga akhir tahun karena sudah memasuki tahapan pembentukan. Mulai dari penyusunan hingga pembahasan. Sedangkan 24 RUU Prioritas lainnya masih belum digarap sama sekali sehingga sangat sulit mengharapkan penyelesaiannya. (Baca juga: Formappi Menilai DPR Tak Anggap Serius Pandemi Covid-19)

Terkait pembahasan dan pengesahan RUU Cipta Kerja yang kontroversial dan menjadi perhatian publik, Formappi menilai komitmen ketua DPR yang akan membahas RUU Cipta Kerja secara cermat, hati-hati, transparan, dan terbuka, tidak terbukti. DPR justru tidak membuka ruang secara luas bagi partisipasi publik dalam pembahasan sehingga memunculkan gelombang protes dan demonstrasidi berbagai daerah. “Beberapa RDPU yang menghadirkan sejumlah kelompok untuk memberikan masukan ke DPR hanya merupakan partisipasi formalitas,” terang Leo. (Baca juga: RUU Kejaksaan Harus Jadi Momentum Ciptakan Hukum Berkeadilan)

Pembahasan pun dilakukan tergesa-gesa dalam waktu yang sangat singkat. Hal itu tidak biasa atau abnormal karena pembahasan sebuah RUU biasanya membutuhkan waktu yang panjang, minimal tiga kali MS. Situasi ini menimbulkan berbagai dugaan di masyarakat bahwa pengesahan beberapa RUU termasuk RUU Cipta Kerja sarat kepentingan politik dan ada pesan sponsor dari pengusungnya.

Selain RUU Cipta Kerja, beberapa RUU lain seperti RUU Minerba, RUU KPK, dan RUU MK bisa menjadi contoh bagaimana dorongan kepentingan sepihak DPR dan Pemerintah. “Seringnya pembahasan RUU kontroversial seolah-olah menjadi era normal baru bagi DPR,” ungkapnya.

Selanjutnya evaluasi kinerja di bidang. Menurut keputusan Bamus, rencana kerja fungsi anggaran mencakup pembahasan terhadap pertanggung jawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (P2 APBN) 2019 dan pembahasan terhadap RUU tentang APBN 2021. Namun, Puan hanya menyatakan bahwa DPR bersama pemerintah hanya membahas RUU APBN 2021 dan sama sekali tidak menyinggung rencana kerja P2 APBN 2019. Meski terdapat perbedaan antara keduanya, yang menjadi acuan dalam pelaksanaan adalah rencana kerja menurut keputusan Bamus.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
Dadan Hindayana Cs Terjerat...
Dadan Hindayana Cs Terjerat Korupsi, DPR Perketat Pengawasan Tata Kelola di BGN
Trimedya Panjaitan Sebut...
Trimedya Panjaitan Sebut RUU HPI Sejalan dengan Semangat Prabowo Perkuat Posisi Hukum Indonesia
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Antisipasi Ancaman PHK Massal di Industri Hasil Tembakau
Sentuhan Kenyamanan...
Sentuhan Kenyamanan di Mina, Layanan Haji Reguler yang Makin Manusiawi
TNI Ikut Atasi Begal,...
TNI Ikut Atasi Begal, DPR: Harus Terukur dan Punya Dasar Hukum yang Jelas
DPR dan Pemerintah Pastikan...
DPR dan Pemerintah Pastikan Tak Ada Kendala Besar saat Puncak Haji
Jelang Armuzna, DPR...
Jelang Armuzna, DPR Ingatkan Pemerintah soal Layanan Konsumsi dan Transportasi
Komisi III DPR Nilai...
Komisi III DPR Nilai Kasus Amsal Sitepu Janggal, Proses Hukum Tak Objektif
Rekomendasi
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Jangan Cuma Top-Up,...
Jangan Cuma Top-Up, Yuk Kelola Saldo ShopeePay Kamu dengan 4 Langkah Ini!
Surat Al Ankabut Ayat...
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Berita Terkini
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Refleksikan Cita-cita...
Refleksikan Cita-cita Bung Karno, PDIP Minta Pemerintah Wujudkan Keadilan Hukum dan Ekonomi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Terbukti Selingkuh dan...
Terbukti Selingkuh dan Pungli, Anggota KPU OKU Timur Dipecat
Infografis
Temulawak Miliki Banyak...
Temulawak Miliki Banyak Khasiat, Jadi Ginseng-nya Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved