Ini Kata Pakar Keamanan Nasional dan Internasional tentang Geopolitik Akibat Covid-19
Selasa, 27 Oktober 2020 - 16:09 WIB
loading...
A
A
A
Mark memaparkan saat situasi pandemi ini kelompok militan di Asia Tenggara memanfaatkan daring atau online untuk melakukan serangkaian aksi terkait tiga hal yang dapat memengaruhi keamanan dan ketahanan suatu negara.
“Pertama, kelompok militan mencoba menggambarkan kelompok militer, sebagai pihak yang melanggar genjatan senjata apabila disaat para militer melakukan operasi penumpasan pemberotakan aksi mereka,’’ terangnya.
Lebih lanjut Mark mengatakan yang kedua, kelompok militan mencoba menggambarkan penanganan pemerintah terhadap Covid-19 sebagai penanganan yang tidak memadai sehingga meningkatkan rasa tidak percaya masyarakat terhadap pemerintah terkait penanganan Covid-19.
“Mereka membuat narasi seolah olah pemerintah menggunakan dana umum dari masyarakat tak sepatutnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan seolah hanya peduli untuk lebih meningkatkan perangkat militer negara tersebut dibandingkan permasalahan pandemi,” tambahnya.
Ketiga, ia menjelaskan kelompok militan menggambarkan diri mereka sendiri sebagai organisasi yang bertanggung jawab dan pemimpin yang baik di mata dunia internasional.
“Kelompok militan memanfaatkan dengan propaganda melalui media sosial seolah-olah mencoba lebih peduli kepada masyarakat daripada pemerintah,’’ terangnya.
Selaras dengan Mark Wilson, Analis Keamanan London School of Economics, Judith Jacob juga menyampaikan bahwa para kelompok militan memanfaatkan dengan melihat peluang situasi pandemi ini dengan narasi-narasi yang mereka buat untuk melakukan serangkaian agenda dan perekrutan anggota.
“Saya sangat setuju dengan Mark bahwa para militan menciptakan narasi-narasi untuk mempengaruhi masyarakat, ada landscape geopolitik yang kemudian memberikan ruang misalnya kepada kelompok abu sayaf atau kelompok militan lainnya yang mengambil peluang keuntungan dari situasi ini,” katanya.
Judith menuturkan mungkin para kelompok militan juga mencoba melakukan kekerasan atau serangan karena mereka berfikir orang-orang yang bertugas melakukan penegakan hukum sedang disibukkan dengan hal-hal lain terkait pandemi.
Ia juga menyampaikan, kita tidak bisa mengatakan dengan adanya pandemi ini para kelompok militan tidak akan meneruskan kegiatan apa yang mereka telah lakukan, karena mereka ini adalah orang-orang opurtunis mereka akan melakukan segala cara untuk melanjutkan kegiatan mereka sehingga perketat keamanan dan ketertiban negara sangat diperlukan.
“Di situasi seperti ini bukan berarti kelompok militan tak melakukan ancaman serangan karena gerakan mereka ini bisa dikatakan gerakan yang terkotak-kotak, mereka menciptakan serangan serangan baru seperti di lingkungan warga, di kampus dan di daerah daerah yang melakukan lockdown,” tutupnya.
“Pertama, kelompok militan mencoba menggambarkan kelompok militer, sebagai pihak yang melanggar genjatan senjata apabila disaat para militer melakukan operasi penumpasan pemberotakan aksi mereka,’’ terangnya.
Lebih lanjut Mark mengatakan yang kedua, kelompok militan mencoba menggambarkan penanganan pemerintah terhadap Covid-19 sebagai penanganan yang tidak memadai sehingga meningkatkan rasa tidak percaya masyarakat terhadap pemerintah terkait penanganan Covid-19.
“Mereka membuat narasi seolah olah pemerintah menggunakan dana umum dari masyarakat tak sepatutnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan seolah hanya peduli untuk lebih meningkatkan perangkat militer negara tersebut dibandingkan permasalahan pandemi,” tambahnya.
Ketiga, ia menjelaskan kelompok militan menggambarkan diri mereka sendiri sebagai organisasi yang bertanggung jawab dan pemimpin yang baik di mata dunia internasional.
“Kelompok militan memanfaatkan dengan propaganda melalui media sosial seolah-olah mencoba lebih peduli kepada masyarakat daripada pemerintah,’’ terangnya.
Selaras dengan Mark Wilson, Analis Keamanan London School of Economics, Judith Jacob juga menyampaikan bahwa para kelompok militan memanfaatkan dengan melihat peluang situasi pandemi ini dengan narasi-narasi yang mereka buat untuk melakukan serangkaian agenda dan perekrutan anggota.
“Saya sangat setuju dengan Mark bahwa para militan menciptakan narasi-narasi untuk mempengaruhi masyarakat, ada landscape geopolitik yang kemudian memberikan ruang misalnya kepada kelompok abu sayaf atau kelompok militan lainnya yang mengambil peluang keuntungan dari situasi ini,” katanya.
Judith menuturkan mungkin para kelompok militan juga mencoba melakukan kekerasan atau serangan karena mereka berfikir orang-orang yang bertugas melakukan penegakan hukum sedang disibukkan dengan hal-hal lain terkait pandemi.
Ia juga menyampaikan, kita tidak bisa mengatakan dengan adanya pandemi ini para kelompok militan tidak akan meneruskan kegiatan apa yang mereka telah lakukan, karena mereka ini adalah orang-orang opurtunis mereka akan melakukan segala cara untuk melanjutkan kegiatan mereka sehingga perketat keamanan dan ketertiban negara sangat diperlukan.
“Di situasi seperti ini bukan berarti kelompok militan tak melakukan ancaman serangan karena gerakan mereka ini bisa dikatakan gerakan yang terkotak-kotak, mereka menciptakan serangan serangan baru seperti di lingkungan warga, di kampus dan di daerah daerah yang melakukan lockdown,” tutupnya.
(atk)
Lihat Juga :